POJOKSATU.id,-- Sekitar 9 juta orang diperkirakan terlibat dalam demo anti-Trump di Amerika Serikat pada Sabtu (28/3) waktu setempat.

Gelombang aksi protes bertajuk "No Kings" meledak serentak di berbagai penjuru Amerika Serikat pada Sabtu waktu setempat.

Demonstrasi yang menjadi putaran ketiga ini kembali menyedot perhatian publik, dengan massa turun ke jalan di hampir seluruh kota besar, mulai dari New York, Washington DC, hingga Los Angeles.

Para penyelenggara menegaskan aksi ini merupakan bentuk perlawanan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump, termasuk keterlibatan dalam perang Iran, pengetatan penegakan imigrasi federal, serta melonjaknya biaya hidup.

Baca Juga: Guru di Daerah 3T Berhak Dapat Tunjangan Setara Gaji Pokok, Ini Syarat Lengkap TKG dan Cara Memastikan Anda Penerima

"Trump ingin memerintah kita sebagai seorang tiran. Tetapi ini Amerika, dan kekuasaan adalah milik rakyat - bukan milik calon raja atau kroni-kroni miliarder mereka," tegas mereka, seperti dikutip dari BBC.

Aksi demonstrasi Sabtu diperkirakan melibatkan lebih dari 9 juta peserta. Penyelenggara menyatakan setidaknya 3.100 kegiatan aksi berlangsung di seluruh 50 negara bagian AS.

Ini adalah kali ketiga dalam kurang dari setahun warga Amerika turun ke jalan sebagai bagian dari gerakan akar rumput yang disebut 'No Kings', saluran oposisi yang paling vokal dan visual terhadap Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.

Di New York, kota terpadat di Amerika, puluhan ribu demonstran berkumpul, termasuk aktor peraih Oscar Robert De Niro, seorang kritikus Trump yang sering menyebut presiden Trump ancaman eksistensial bagi kebebasan dan keamanan kita.

Baca Juga: Guru ASN Bisa Terima Tiga Tunjangan Sekaligus April 2026, Ini Syarat Lengkap dan Cara Agar Semua Hak Cair Tanpa Kendala

Aksi protes berlangsung dari Atlanta hingga San Diego. Mereka merasa konstitusi terancam.

"Tidak ada negara yang dapat memerintah tanpa persetujuan rakyat," kata veteran militer berusia 36 tahun, Marc McCaughey, kepada AFP di Atlanta, tempat ribuan orang turun ke jalan.

"Kami di sini karena kami merasa Konstitusi terancam dalam berbagai cara. Keadaan tidak normal. Keadaan tidak baik," ucapnya.

Suasana anti-Trump telah meluas hingga ke luar perbatasan AS, dengan demonstrasi pada hari Sabtu di kota-kota Eropa termasuk Amsterdam, Madrid, dan Roma, di mana 20 ribu orang berbaris di bawah pengawasan ketat polisi.

Seperti diketahui, hari protes nasional "No Kings" pertama terjadi Juni lalu pada ulang tahun Trump yang ke-79 dan bertepatan dengan parade militer yang ia selenggarakan di Washington. Beberapa juta orang turun ke jalan, dari New York hingga San Francisco.

Protes kedua, pada bulan Oktober, menarik sekitar tujuh juta demonstran. Menurut penyelenggara, acara hari Sabtu lalu diikuti oleh satu juta peserta lagi dan 600 demonstrasi tambahan.***