POJOKSATU.ID – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka untuk kapal-kapal dari berbagai negara.

Namun, jalur pelayaran vital tersebut tidak berlaku bagi kapal milik Amerika Serikat dan Israel.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam sebuah wawancara dengan media MS Now.

Baca Juga: Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa, Balas Dendam Kelam yang Membawa Teror Baru di Bioskop Lebaran 2026

Ia menegaskan bahwa pembatasan hanya berlaku bagi negara yang dianggap sebagai musuh Iran.

“Selat Hormuz sebenarnya tetap terbuka. Namun selat itu ditutup bagi kapal tanker dan kapal milik musuh kami, yaitu mereka yang menyerang Iran dan sekutunya,” ujar Araghchi.

Ia menambahkan bahwa kapal dari negara lain masih diperbolehkan melintas secara bebas di jalur strategis tersebut.

Baca Juga: Na Willa, Petualangan Gadis Kecil di Surabaya 1960-an yang Siap Warnai Bioskop Lebaran 2026

Menurutnya, tidak ada pembatasan bagi kapal komersial yang tidak terlibat dalam konflik dengan Iran.

Meski demikian, Araghchi mengakui sejumlah negara memilih untuk tidak melewati Selat Hormuz karena faktor keamanan.

Ia menilai keputusan tersebut bukan disebabkan oleh kebijakan Iran, melainkan karena situasi regional yang masih memanas.

Baca Juga: Senin Harga Naik, Drama Keluarga yang Mengiris Ego, Ketika Ambisi Bertabrakan dengan Rumah yang Pernah Ditinggalkan

“Kami tetap melihat banyak kapal tanker dan kapal dagang yang melintas di sana,” katanya.

Beberapa laporan menyebutkan kapal dari India dan China masih dapat melewati Selat Hormuz dengan aman.

Jalur laut ini memang menjadi salah satu rute paling penting bagi perdagangan energi dunia.

Selat Hormuz diketahui menjadi jalur vital bagi distribusi minyak global. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia melewati selat sempit yang berada di kawasan Teluk tersebut.

Baca Juga: Kembali Cetak Sejarah, KPop Demon Hunters Borong Dua Piala Oscar 2026 untuk Film Animasi Terbaik dan Best Original Song

Situasi di kawasan itu juga berdampak pada pasar energi global. Untuk menekan lonjakan harga minyak mentah, Amerika Serikat dan sejumlah negara sekutunya bahkan telah mengeluarkan sekitar 400 juta barel cadangan minyak strategis.

Saat ini harga minyak mentah dunia terus merangkak naik. Minyak mentah acuan WTI dilaporkan telah menyentuh sekitar 98 dolar AS per barel, sementara Brent mencapai sekitar 103 dolar AS per barel.***