POJOKSATU.id - Selat Hormuz kembali menjadi bagian penting dalam upaya membuka jalan diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat.

Iran menawarkan jalur pelayaran strategis itu dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari jika Washington memenuhi sejumlah tuntutan.

Proposal tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di New York pada Jumat, 25 September 2026, di tengah rangkaian Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Menurut Araghchi, rencana itu telah disampaikan kepada Washington melalui mediator.

Baca Juga: Jadwal Uji Coba CBT OMI Provinsi 2026, Lengkap dengan Sesi dan Mata Pelajaran, Pastikan Persiapan Ini

Jika Amerika Serikat menerima proposal tersebut, hitungan tujuh hari akan langsung dimulai.

Ada beberapa langkah yang diminta Teheran sebelum pembukaan Selat Hormuz dilakukan.

Pertama, Amerika Serikat diminta menghentikan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Kedua, Washington diminta memberikan kelonggaran terhadap sanksi yang menghambat penjualan minyak Iran.

Ketiga, Iran meminta adanya gencatan senjata yang juga mencakup Lebanon.

Baca Juga: Xi Jinping Tutup Lawatan AS dengan Minum Teh Bareng Trump, Ini Pesan Keduanya

Proposal tersebut sekaligus membuka jalan untuk kembali membahas program nuklir Iran dengan AS.

Araghchi menjelaskan prosesnya dirancang secara bertahap.

Beberapa tindakan awal dari Amerika Serikat diperkirakan membutuhkan sekitar empat sampai lima hari.

Setelah tahapan tersebut terpenuhi, Selat Hormuz ditargetkan kembali dibuka pada hari keenam.

Kemudian pada hari ketujuh, pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat mengenai kesepakatan yang lebih permanen dapat dimulai.

Baca Juga: Pendaftaran TKA 2026 Ditutup, Begini Cara Memastikan Siswa Sudah Terdaftar sebagai Peserta, Pahami DNS dan DNT

"If the necessary conditions are met, the strait can be reopened, a normal maritime passage restored within seven days. The choice now rests with the United States," kata Araghchi, menurut Reuters.

Selat Hormuz Jadi Bagian Penting Perundingan
Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut biasa.

Kawasan tersebut merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia sehingga perubahan kondisi di sana dapat berdampak jauh di luar kawasan Timur Tengah.

Karena posisi strategisnya, pembukaan kembali jalur tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam proposal terbaru Iran.

Baca Juga: Cetak Gol Tunggal Penentu Kemenangan PSMS atas Adhyaksa FC, Javier Siverio: Perjalanan Masih Panjang, Kami Harus Tetap Fokus

Tawaran itu sekaligus dikaitkan dengan kelanjutan perundingan mengenai program nuklir Iran.

Proposal terbaru tersebut disebut memiliki kemiripan dengan kesepahaman yang pernah dicapai Iran dan AS pada Juni.

Namun, mekanisme kali ini menggunakan tenggat yang jauh lebih singkat.

Jika proposal itu diterima Washington, proses tujuh hari akan menjadi tahap awal sebelum kedua negara kembali membahas kesepakatan yang lebih luas.

Bola Kini di Washington

Baca Juga: Skandal Muktamar NU, Nama Presiden Diduga Dicatut Bagi-bagi Uang Rp400 M
Hingga laporan tersebut disampaikan, belum ada kepastian bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump menerima seluruh persyaratan Iran.

Pemerintah AS sebelumnya menyatakan kontak dengan mediator berlangsung positif dan konstruktif.

Namun, proposal Iran masih harus melewati proses pembahasan di Washington.

Araghchi sendiri menyebut keputusan berikutnya berada di tangan Amerika Serikat.

Iran telah menyampaikan rencana yang dianggapnya konkret, sementara pelaksanaan pembukaan Selat Hormuz bergantung pada terpenuhinya persyaratan yang diajukan.

Baca Juga: Kikin

Perkembangan ini membuat tujuh hari ke depan menjadi periode penting bagi diplomasi Iran-AS.

Bukan hanya soal kapan kapal kembali dapat melintas secara normal, tetapi juga apakah kedua negara mampu menghidupkan kembali jalur perundingan mengenai konflik dan program nuklir Iran.***