POJOKSATU.id, -- Presiden Iran Masoud Pezeshkian membantah tuduhan pemerintah Iran pernah merencanakan pembunuhan terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump atau anggota keluarganya.

Pezeshkian menyampaikan bantahan tersebut saat bertemu dengan sejumlah wartawan di sebuah hotel di Manhattan, New York, Kamis (24/9/2026) atau sehari setelah dia menyampaikan pidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

“Tidak pernah menjadi posisi pemerintah (Iran), baik secara terbuka maupun diam-diam, untuk berupaya membunuh Trump atau anggota keluarganya,” kata Pezeshkian, yang dikutip CNN.

Baca Juga: Biaya Perang Amerika Serikat Melawan Iran Capai Rp 1.763 Miliar

Bulan lalu, Dinas Rahasia AS (US Secret Service) mengatakan telah mengetahui sebuah video yang ditayangkan televisi pemerintah Iran dan dinilai tampak mengancam nyawa Barron Trump, putra bungsu Donald Trump.

Sebelumnya, Israel juga membagikan informasi intelijen kepada AS yang menyebut Iran telah menyusun rencana untuk membunuh Trump.

Pada akhir 2024, Departemen Kehakiman AS mengumumkan dakwaan federal terkait rencana Iran yang berhasil digagalkan untuk membunuh Trump sebelum pemilihan presiden.

Trump sendiri sebelumnya secara terbuka membahas ancaman terhadap dirinya. Pada Juli, ia mengatakan dirinya berada dalam daftar target dan sejauh ini merasa beruntung masih selamat.

Baca Juga: Iran Bantah Targetkan Barron Trump, Tuding Laporan Sebagai Propaganda Rekaan

Dalam pertemuan dengan wartawan tersebut, Pezeshkian juga berbicara mengenai kondisi Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei yang tidak terlihat di hadapan publik sejak perang dimulai.

Pezeshkian mengatakan Mojtaba dalam kondisi cukup sehat. Ia mengaku tidak melihat masalah besar pada kondisi kesehatan maupun penampilan fisik Mojtaba.

Menurut Pezeshkian, pertemuan tatap muka terakhirnya dengan Mojtaba berlangsung sekitar satu bulan lalu dan berlangsung selama kurang lebih tujuh jam.

Keduanya, kata Pezeshkian, duduk di atas bantal di lantai dan sempat berdiri untuk berjalan-jalan selama pertemuan.

Berdasarkan penilaian intelijen AS yang dikutip sejumlah sumber pada Mei, Mojtaba tetap memainkan peran penting dalam menentukan strategi perang bersama pejabat senior Iran meski mengalami luka.

Dalam pertemuan itu, Pezeshkian juga mengakui Iran menghadapi persoalan ekonomi yang berat. Sanksi AS dan perang yang sedang berlangsung telah menekan perekonomian Iran, memicu kenaikan harga serta kelangkaan kebutuhan pokok.

Pezeshkian menyebut kondisi tersebut sebagai masalah yang belum pernah terjadi sebelumnya dan menggambarkan sanksi AS sebagai kampanye pembunuhan diam-diam.

Kondisi ekonomi Iran sebenarnya sudah buruk sebelum perang dimulai. Keadaan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong demonstrasi antipemerintah yang dimulai di Teheran pada 2025.

Meski demikian, Pezeshkian tetap mengatakan Iran akan mampu bertahan menghadapi situasi tersebut.

Ia juga menegaskan pangkalan-pangkalan AS di kawasan merupakan target yang sah karena digunakan untuk menyerang Iran.***