POJOKSATU.id,--Negara Iran yang sedang dilanda perang mengajak negara Timur Tengah membentuk aliansi militer di kawasan Teluk tanpa keterlibatan Amerika Serikat (AS).

Juru Bicara Markas Besar Khatam Al Anbiya Angkatan Bersenjata Iran Ebrahim Zolfaghari, sebagaimana dilansir Anadolu via Antara, Rabu (25/3/2026) menuturkan hal itu dalam rekaman video yang ditujukan ke dunia Arab dan Islam.

"Waktunya telah tiba untuk mendirikan sebuah aliansi militer tanpa kehadiran Amerika Serikat dan Israel," kata Zolfaghari.

Baca Juga: Kecelakaan Tunggal di Kolam Bundaran HI, Mobil Listrik BYD Terlihat Berenang Bersama Ikan KOI

Zolfaghari menekankan pentingnya tak tergantung pada kekuatan asing dan perlunya kembali ke ajaran Al Quran sebagai landasan.

Menurut dia, negara-negara di kawasan tidak seharusnya memerlukan Amerika Serikat sebagai penjamin keamanan mereka.

"Kita harus bersatu untuk menjamin keamanan kita dan bergerak menuju suatu kesepakatan keamanan bersama yang menjadikan Islam dan Al Quran sebagai acuan, inti, dan landasan ajek," kata dia.

Dia juga menyebut agresi AS dan Israel terhadap negaranya mencerminkan sebuah fase baru, dan Iran kini ada di garis depan membela negara-negara Islam.

Baca Juga: Momentum Idul Fitri 1447 H, 155.908 Warga Binaan Terima Remisi, 1.162 Orang Langsung Hirup Udara Bebas

Ketegangan di kawasan Teluk meningkat sejak Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari.

Iran kemudian membalas agresi militer itu dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.

Dalam laporan Wall Street Journal, mengutip orang-orang yang mengetahui diskusi itu, Iran disebut menetapkan standar diplomasi yang tinggi dengan AS.

Laporan tersebut menyatakan, posisi negosiasi Iran kini dibentuk oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang telah mengkonsolidasikan pengaruhnya dalam kepemimpinan negara tersebut.

Selain penarikan kehadiran militer AS di Teluk, Teheran juga menuntut ganti rugi atas kerusakan di Iran yang disebabkan oleh serangan AS dan Israel selama perang.

Namun, syarat ini dipandang oleh para pejabat AS tidak realistis***