POJOKSATU.id - Donald Trump berhasil memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat (AS) pada 5 November 2024, mengalahkan Kamala Harris dari Partai Demokrat.
Salah satu faktor yang menjadi penentu kemenangan Trump adalah keyakinan mayoritas pemilih bahwa ia lebih mampu menangani isu perekonomian, dibandingkan Harris.
Menurut exit poll dari Edison Research, 52 persen pemilih lebih mempercayai Trump dalam menangani ekonomi, sementara Harris hanya mendapatkan 46 persen.
Isu perekonomian memang menjadi fokus utama dalam pemilu kali ini. Sebanyak 46 persen pemilih mengaku situasi keuangan keluarganya lebih buruk dibandingkan empat tahun lalu, sementara hanya 24 persen yang merasa kondisi keuangannya lebih baik.
Selain itu, 41 persen pemilih menyatakan kondisi ekonomi mereka tidak berubah sejak pilpres 2020. Dalam hal aborsi, meskipun Trump mendapat dukungan sebesar 45 persen, ia kalah dari Harris yang meraih 49 persen dalam hal ini.
Sejak Mahkamah Agung AS mencabut hak aborsi nasional pada 2022, perdebatan tentang isu ini semakin mengemuka.
Demografi pemilih juga mengalami perubahan. Perempuan kini mencakup 53 persen dari total pemilih, naik satu persen dari pilpres 2020, sementara pemilih pria berkurang menjadi 47 persen.
Dalam hal ras, 71 persen pemilih berkulit putih, sedangkan 11 persen berkulit berwarna. Pemilih Hispanik turun menjadi 12 persen dari sebelumnya 13 persen.
Beberapa alasan yang membawa Trump kembali ke Gedung Putih pada 2024, antara lain:
1. Ekonomi yang Sulit Pasca-Covid
Meskipun tingkat pengangguran rendah dan pasar saham berkembang, banyak orang Amerika merasakan dampak inflasi yang tinggi. Trump berhasil memanfaatkan ketidakpuasan ini dengan mengajukan pertanyaan sederhana, “Apakah Anda hidup lebih baik sekarang dibandingkan empat tahun yang lalu?”
2. Kebal terhadap Berita Buruk
Meskipun Trump terlibat dalam berbagai kontroversi, seperti kerusuhan 6 Januari 2021 dan beberapa dakwaan kriminal, dukungannya tetap stabil di angka 40 persen atau lebih. Hal ini memperlihatkan bahwa sebagian besar pemilihnya tetap setia, dan Trump berhasil menarik suara dari pemilih yang belum memutuskan.
3. Isu Imigrasi
Trump menganggap isu imigrasi sebagai faktor utama yang akan memenangkan pemilu. Dengan meningkatnya jumlah imigran yang memasuki AS selama pemerintahan Biden, Trump mendapatkan kepercayaan lebih banyak dari pemilih, bahkan dari komunitas Latin, dibandingkan pemilu sebelumnya.
4. Daya Tarik pada Pemilih Tanpa Gelar
Trump telah berhasil menarik dukungan dari kalangan pemilih yang merasa tertinggal, seperti pekerja serikat dan warga pedesaan. Hal ini menguntungkan Trump di negara bagian swing states, meskipun ia kehilangan sebagian pemilih moderat yang berpendidikan tinggi.
5. Kepemimpinan yang Kuat di Dunia yang Tidak Stabil
Banyak pemilih melihat Trump sebagai pemimpin yang lebih tegas dalam menghadapi ketegangan internasional.
Baca Juga: Donald Trump DITEMBAK LAGI, Kontestasi Pilpres AS Memanas, Level Ancaman Sangat Tinggi
Meskipun ia dikritik karena kedekatannya dengan pemimpin otoriter, banyak yang menganggap kepemimpinan Trump lebih stabil, terutama terkait kebijakan luar negeri yang lebih fokus pada kepentingan AS.
Kemenangan Trump sekaligus menunjukkan adanya ketidakpuasan besar di kalangan pemilih AS terhadap kebijakan ekonomi dan luar negeri yang dijalankan oleh pemerintahan Joe Biden, membuka jalan bagi Trump untuk kembali memimpin negara ini. ***
#Ikuti aplikasi berita [Pojok Satu] di Play Store dan App Store: [Android] dan [iOS] untuk mendapatkan informasi terbaru.

