POJOKSATU.id – Tanpa sanksi CAATSA AS, Indonesia seharusnya sudah mendapat Su-35 Rusia.
Pada 2017, Indonesia dan Rusia sepakat membeli 11 Su-35 senilai 1,1 miliar dolar AS.
Dua Su-35 seharusnya tiba di Indonesia pada 2019 tanpa hambatan, termasuk sanksi AS.
Rencana pembelian Su-35 lewat imbal dagang tidak terealisasi.
Pada 2021, Indonesia membatalkan kontrak Su-35 karena keterbatasan anggaran.
Sebagai gantinya, Indonesia memilih Rafale Prancis dan F-15EX AS.
Bloomberg melaporkan, Indonesia membatalkan Su-35 karena tekanan AS, meski militer lebih menyukainya.
Menurut Techinsider Rusia, Su-35S mirip Su-27 tetapi lebih canggih.
Su-35S memiliki rangka lebih kuat, masa pakai 6.000 jam, dan desain yang mengurangi tanda radar.
Umur layanan sebelum perbaikan besar meningkat hingga 1.500 jam terbang.
Modifikasi rangka menambah bahan bakar 20% (11.500 kg), berat 34,5 ton, dan pembaruan roda pendaratan.
Su-35S unggul dengan mesin AL-41F1S, mampu manuver 360° tanpa kehilangan kecepatan.
Manuver "pancake" Su-35S unik, tak ada jet generasi ke-4 atau ke-5 yang mampu melakukannya.
Mesin ini juga memiliki masa pakai yang cukup lama, yaitu sekitar 1.000 jam.
Su-35S mengusung konsep “glass cockpit” yang umumnya digunakan pada jet tempur generasi kelima.
Dengan sistem informasi dan kontrol yang terintegrasi, pesawat ini mampu mengambil alih beberapa fungsi pilot.
Pesawat dapat terbang otomatis di ketinggian rendah dan merekomendasikan kecepatan optimal untuk serangan.
Jet tempur ini dirancang sebagai pesawat superioritas udara dengan kemampuan multiperan.
Su-35BM pertama kali diperkenalkan di pameran udara MAKS di Moskow pada Agustus 2007.
Pada 2010, Su-35BM berganti nama menjadi Su-35S dan menarik perhatian angkatan udara dunia.
BM pada Su-35BM berarti "bolshaya modernizatsiya" atau "modernisasi besar," hasil pengembangan Su-27.
Flanker-M mengalami peningkatan pada mesin, sistem avionik, serta perangkat elektroniknya.
Pesawat ini juga dilengkapi dengan tangki pendarat eksternal dan memiliki fitur supercruise yang sangat berharga dalam pertempuran udara.
Su-35S juga dilengkapi radar hybrid ESA Tikhomirov NIIP N035 Irbis E (Snow Leopard) dengan daya 20 kiloWatt.
Sistem peperangan elektronik Khibiny ditingkatkan dengan teknologi DRFM pada pod pengacau ujung sayapnya.
Menurut laporan 19fortyfive, Su-35S nantinya akan dilengkapi dengan radar AESA dan rudal udara-ke-udara jarak jauh R-172.
Analis menilai Su-35S bisa mengubah dinamika pertempuran dan menyaingi jet tempur generasi keempat.
Radar AESA baru membuat Su-35S lebih tangguh, dianggap sebagai tandingan Rusia untuk F-16 AS.
Jika Indonesia memiliki Su-35S, pesawat ini diyakini dapat memperkuat angkatan udara dalam menghadapi potensi ancaman, termasuk dari China.
Flanker-M dinilai sebagai pesawat tempur unggulan yang memberikan keuntungan strategis bagi Rusia, China, maupun Indonesia.
Dengan kemampuan udara yang luar biasa, Su-35S dapat menjadi faktor penentu dalam pertempuran.
Pesawat ini juga terus mengalami modernisasi, termasuk peningkatan sistem radar dan avionik yang lebih canggih seiring waktu.***
