POJOKSATU.id - Harga minyak dunia melonjak pada awal pekan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pasar energi global bereaksi cepat terhadap eskalasi konflik yang berpotensi mengganggu pasokan minyak.
Mengutip laporan CNBC, harga minyak mentah AS (WTI) naik lebih dari 8% atau sekitar US$5,55 menjadi US$72,57 per barel pada sore hari 1 Maret waktu AS.
Sementara itu, minyak mentah Brent sebagai patokan global melonjak sekitar 9% atau US$6,54 ke level US$79,41 per barel.
Di perdagangan Asia pada 2 Maret, harga minyak bahkan sempat menembus US$80 per barel sebelum akhirnya terkoreksi tipis.
Padahal pada penutupan akhir pekan sebelumnya, Brent masih berada di kisaran US$72,87 per barel.
Baca Juga: THR PPPK Paruh Waktu di Kota Bandung Belum Pasti, Farhan: Masih Dikaji dan Tunggu Koordinasi
Kenaikan tajam ini terjadi setelah serangan udara terkoordinasi Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran yang memicu aksi balasan militer dari Teheran.
Situasi tersebut meningkatkan volatilitas pasar minyak global.
Fokus perhatian pasar kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dunia.
Meski belum berada dalam blokade total, potensi gangguan distribusi sudah cukup membuat pelaku pasar memasukkan premi risiko lebih tinggi ke dalam harga.
Analis dari UBS yang dipimpin Henri Patricot menyebut kecepatan pemulihan jalur pelayaran melalui Hormuz serta tingkat pembalasan Iran akan menjadi faktor kunci pergerakan harga dalam beberapa hari mendatang.
Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa operasi militer akan berlanjut hingga seluruh tujuan AS tercapai, pernyataan yang semakin memperkuat sentimen ketidakpastian di pasar energi.
Baca Juga: Tarling di Ciparay, Cucun Apresiasi Kinerja Bupati Bandung, Soroti Percepatan 4.800 Unit Rutilahu
Menurut Amena Bakr dari Kpler, di tengah ketidakstabilan, biaya asuransi pengiriman dapat meningkat dan harga minyak berpotensi mencapai US$90 per barel jika gangguan distribusi berlanjut.
Beberapa perusahaan pelayaran besar bahkan dilaporkan telah menangguhkan sementara transit melalui rute tersebut.
Sementara itu, Jorge Leon dari Rystad Energy memperkirakan bahwa jika Selat Hormuz ditutup, pasokan minyak mentah global bisa berkurang 8 hingga 10 juta barel per hari, meski jalur alternatif dimanfaatkan.
Berdasarkan data Refinitiv pada Senin, 02 Maret 20206 pukul 10.00 WIB, harga Brent tercatat di level US$76,43 per barel, sedangkan WTI berada di US$70,05 per barel.
Posisi ini menunjukkan kenaikan signifikan dibandingkan penutupan Jumat (27/2/2026) ketika Brent berada di US$72,48 dan WTI di US$67,02 per barel.
Baca Juga: Dilema Keselamatan dan Stabilitas Industri: Praktisi Soroti Dampak Penundaan Umrah
Analis juga memperkirakan harga gas dapat ikut melonjak, meningkatkan risiko inflasi global. Jika ketegangan belum mereda, harga minyak berpotensi bertahan di level tinggi.
Namun apabila situasi membaik, harga bisa kembali bergerak menuju kisaran US$70 per barel.***

