POJOKSATU.id, JAKARTA-- Hamas Palestina membantah tuduhan Israel dan menegaskan bahwa mereka mematuhi perjanjian gencatan senjata, dan berupaya melaksanakan ketentuannya dengan tanggung jawab maksimal.

Ini merespon tuduhan militer Israel yang mengklaim mereka melakukan serangan duluan ke Tentara Israel.

Israel menuduh Hamas meluncurkan rudal antitank dan senapan mesin ke kendaraan teknis militer Israel dan menewaskan dua tentaranya di kota Rafah.

Baca Juga: Israel Lancarkan Serangan Udara ke Selatan Jalur Gaza, Netanyahu Gelar Rapat Darurat Keamanan

"Israel terus melakukan pelanggaran terhadap perjanjian tersebut, yang telah mengakibatkan kematian dan cedera puluhan orang sejak perjanjian tersebut mulai berlaku pada 10 Oktober," kata Hamas dalam pernyataannya, lapor Al Jazeera, Senin (20/10).

Setelah militer Israel meluncurkan serangan pada Minggu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memimpin rapat keamanan darurat untuk membahas perkembangan di Jalur Gaza.

Media Israel melaporkan pertemuan yang diadakan Minggu malam, dihadiri oleh Menteri Pertahanan Yisrael Katz, Menteri Urusan Strategis Ron Dermer, dan para pemimpin senior lembaga keamanan.

Sekitar pukul 18.20 waktu setempat, militer Israel mengumumkan kembalinya gencatan senjata, sesuai dengan arahan dari pimpinan politik, dan mengancam akan ‘menanggapi dengan tegas setiap pelanggaran’.

Baca Juga: Diam Tau-tau Lapor, Jokowi Tenang Hadapi Utang Kereta Cepart Whoosh, Roy Suryo : Kebanggaaan UGM, Kini Jadi Beban Indonesia

Berita sebelumnya, badan pertahanan sipil Gaza yang dikelola Hamas dan rumah sakit setempat melaporkan bahwa serangan udara Israel tersebut menewaskan sedikitnya 45 orang.

Jumlah korban ini memperbarui data sebelumnya yang sudah cukup tinggi akibat rentetan serangan selama beberapa hari terakhir.

“Setidaknya 45 orang tewas akibat serangan udara Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza,” kata Mahmud Bassal, juru bicara badan pertahanan sipil Hamas, dikutip dari Times of Israel, Senin, 20 Oktober 2025.

Israel kini mengancam akan menutup perlintasan Rafah di perbatasan Gaza–Mesir sampai Hamas menyerahkan sisa jenazah 28 sandera yang diyakini telah tewas.

Dalam sepekan terakhir, Hamas telah menyerahkan 13 jenazah, sebagian besar sudah diidentifikasi sebagai sandera Israel.

Sebaliknya, Israel juga mengembalikan sekitar 150 jenazah warga Palestina ke Gaza, meski banyak di antaranya sulit dikenali karena kondisi tubuh yang rusak parah.

Dalam tahap pertama kesepakatan gencatan senjata, kedua pihak telah menukar 20 sandera hidup dengan sekitar 1.900 tahanan Palestina.

Tahap berikutnya akan membahas pelucutan senjata Hamas, penarikan pasukan Israel dari beberapa wilayah Gaza, serta pembentukan pemerintahan sementara yang didukung komunitas internasional untuk mengelola wilayah yang porak poranda akibat perang.***