POJOKSATU.id, JAKARTA — WHO menyoroti peningkatan wabah penyakit menular khususnya diare usai gencatan senjata di Gaza, Palestina. Dimana kasus diare sangat tinggi tak ada makanan dan air bersih.

Menurut WHO, lebih banyak orang bisa meninggal karena penyakit dibandingkan pemboman di Jalur Gaza jika sistem kesehatannya tidak diperbaiki usai gencatan senjata.

“Pada akhirnya kita akan melihat lebih banyak orang meninggal karena penyakit daripada yang kita lihat akibat pemboman jika kita tidak dapat memulihkan sistem kesehatan ini,” ujar Jurubicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Margaret Harris, selama pengarahan di Jenewa, Selasa (28/11).

Baca Juga: BTS Raih Daesang MAMA Awards 2023, Perpanjang Rekor Selama Enam Tahun Berturut

Dalam hal ini, Harris menyoroti peningkatan wabah penyakit menular, khususnya diare.

"Obat-obatan, tidak ada kegiatan vaksinasi, tidak ada akses terhadap air bersih, serta tidak ada makanan. Kami melihat jumlah kasus diare pada bayi sangat tinggi," jelasnya.

Otoritas kesehatan Gaza mengatakan lebih dari 15 ribu orang dipastikan tewas dalam serangan Israel di Gaza, sekitar 40 persen di antaranya adalah anak-anak.

Sementara itu, jurubicara Badan Anak-anak PBB (UNICEF) di Gaza, James Elder mengatakan rumah sakit di Gaza penuh dengan anak-anak yang menderita luka perang dan gastroenteritis karena meminum air kotor.

Baca Juga: Prediksi Skor Milan vs Dortmund dan PSG vs Newcastle 29 November, Siapa Lolos dari Grup Neraka?

“Saya bertemu banyak orangtua. Mereka tahu persis apa yang dibutuhkan anak-anaknya. Mereka tidak memiliki akses terhadap air bersih dan ini melumpuhkan mereka,” jelasnya.

Gencatan Senjata Diperpanjang

Gencatan senjata di Gaza, Palestina, diperpanjang. Dari semula empat hari, kini gencatan senjata ditambah dua hari lagi, selama 48 jam ke depan.

Hamas mengungkap alasan perpanjangan ini. Pejabatnya mengatakan berharap dapat memperpanjang gencatan senjata lebih jauh lagi dan mengakhiri perang Israel-Hamas.

"Kami kini sepakat untuk membebaskan lebih banyak sandera dan memperpanjang perjanjian selama dua hari,” jelas Ghazi Hamad, seorang pejabat Hamas, dikutip dari Al-Jazeera, Selasa (28/11/2023).

Baca Juga: Inspirasi Desain Kamar Tidur Anak Laki-laki Minimalis Modern Vibes Cozy

“Ini merupakan kabar baik bagi masyarakat kami, khususnya masyarakat Gaza," katanya.

"Saya berharap kita dapat memperpanjangnya hingga kita mencapai akhir perang ini," tambahnya.

"Kami ingin mengakhiri perang. Kami berada dalam gencatan senjata sementara, namun kami berupaya untuk memperpanjangnya,” jelasnya.

“Ada banyak dukungan dari Qatar, Mesir dan banyak negara Barat untuk mengakhiri bencana ini," jelasnya lagi.

Baca Juga: Penjualan Meningkat, JBA Lelang Jual Ratusan Ribu Kendaraan di Tahun 2023

Selama tiga hari pertama gencatan senjata, 39 tawanan Israel dibebaskan oleh kelompok bersenjata tersebut. Mereka ditukar dengan 117 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel.

Sebagai hasil dari negosiasi paralel yang dipimpin oleh Qatar, 17 warga negara Thailand, satu warga Filipina, dan satu warga negara ganda Rusia-Israel juga telah dibebaskan oleh Hamas.

Dalam gelombang terbaru hari ini ada 11 sandera dibebaskan didominasi anak-anak.###