POJOKSATU.id — Momen mengejutkan terjadi saat Brigade Al-Qassam, sayap militer Hamas, menyerahkan sejumlah warga Israel yang mereka sandera di Gaza kepada Palang Merah Internasional (ICC) sebagai bagian dari gencatan senjata, Sabtu (22/2/2025).

Salah satu sandera, Omer Shem Tov, bahkan terekam mencium kening dua pejuang Hamas.

Dalam peristiwa tersebut, tiga warga Israel yang dibebaskan adalah Omer Wenkert, Omer Shem Tov, dan Eliya Cohen.

Ketiganya dibawa ke atas panggung oleh pejuang Hamas, di mana mereka melambaikan tangan ke arah kamera sambil memegang sertifikat pembebasan mereka.

Dalam sebuah klip yang kini viral, Omer Shem Tov terlihat tersenyum, lalu merangkul kepala seorang pejuang Hamas yang mengenakan topeng sebelum mencium keningnya.

Baca Juga: Netanyahu MENUDUH Hamas INGKARI Kesepakatan Gencatan Senjata, Menteri Smotrich TOLAK PERJANJIAN, Gaza Mencekam, 30 WARGA TEWAS dalam Serangan Udara

Ia kemudian melakukan hal serupa kepada pejuang lainnya di panggung, disambut sorak-sorai dari orang-orang di sekitarnya.

Aksi Cium Kening

Dalam budaya Arab dan Timur Tengah, mencium kening seseorang bisa bermakna penghormatan, kasih sayang, doa, restu, dan kedekatan emosional.

Nenek Omer Shem Tov, Sara, menyatakan kepada Channel 12 Israel bahwa cucunya memang memiliki kepribadian periang.

"Itulah Omer. Dia bisa berbaur dengan siapa saja. Bahkan dengan Hamas... Mereka mencintainya bahkan di sana," ujarnya, dikutip dari Hindustan Times.

Ayahnya, Malki Shem Tov, juga menyebut putranya sebagai sosok yang berpikiran paling positif di dunia.

"Omer lebih kurus... tetapi dia tetap ceria, optimistis, dan berpikiran paling positif di dunia. Kami bahkan tidak tahu seperti apa penampilannya.

Dia muncul begitu saja dan mengejutkan kami semua, dengan senyumnya, lambaiannya — sungguh gila," katanya.

Baca Juga: Amerika KEUKEUH Duduki Jalur Gaza, Israel Bentuk Direktorat Kementerian untuk Pindahkan Warga Gaza, Otoritas Palestina dan Hamas DILARANG BEROPERASI

Menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Omer Shem Tov, Eliya Cohen, dan Omer Wenkert telah menghabiskan 505 hari dalam tahanan Hamas.

Pada hari yang sama, Hamas juga membebaskan tiga sandera lain di lokasi berbeda, dua di antaranya melalui seremoni serupa.

Rekaman aksi Omer Shem Tov mencium pejuang Hamas pun mengundang berbagai spekulasi di media sosial.

Beberapa menduga adegan itu diatur oleh Hamas, sementara yang lain melihatnya sebagai isyarat yang membawa harapan perdamaian di tengah konflik berkepanjangan.

"Semoga tindakan kecil ini mengarah pada gelombang perdamaian yang lebih besar. Setiap langkah diperhitungkan menuju keharmonisan," tulis seorang warganet.

Komentar lainnya menyebut bahwa adegan ini menggemparkan media Israel karena menunjukkan perlakuan manusiawi terhadap tahanan Israel.

Baca Juga: Amerika KEUKEUH Duduki Jalur Gaza, Israel Bentuk Direktorat Kementerian untuk Pindahkan Warga Gaza, Otoritas Palestina dan Hamas DILARANG BEROPERASI

Netanyahu Justru Marah

Namun, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, justru marah dengan seremoni pembebasan ini.

Ia merasa tindakan Hamas mempermalukan para tahanan yang dibebaskan. Sebagai bentuk protes, Netanyahu menunda pembebasan 600 tahanan Palestina yang sebelumnya dijadwalkan bebas pada Sabtu (22/2).

"Karena banyak pelanggaran yang dilakukan oleh Hamas, termasuk seremoni yang mempermalukan tahanan kami setiap pembebasan, mereka menggunakannya untuk propaganda.

Baca Juga: TOLAK Rencana Trump, Negara Arab Kompak Segera BANGUN KEMBALI Gaza Tanpa Menggusur Warga, Raja Yordania Abdullah KASIH PAHAM, Gentle DATANGI Trump

Maka kami memutuskan untuk menunda melepaskan 'teroris' yang rencananya akan dilepaskan hari Sabtu, sampai pelepasan sandera berikutnya yang tanpa seremoni," demikian pernyataan resmi dari kantor Perdana Menteri Netanyahu, dikutip dari AFP, Minggu (23/2/2025).

Keputusan ini pun mendapat kecaman dari Hamas. Anggota biro politik Hamas, Basem Naim, menuding Netanyahu sengaja menyabotase upaya perdamaian.

"Netanyahu jelas mengirimkan pesan yang kuat bahwa ia sengaja menyabotase kesepakatan tersebut, ia sedang mempersiapkan suasana untuk kembali berperang," katanya, dikutip dari Al-Jazeera, Senin (24/2). ***