POJOKSATU.id,-- Otoritas penerbangan sipil Uni Emirat Arab (UEA) menangguhkan sementara seluruh aktivitas penerbangan di Bandara Internasional Dubai pada Senin, 16 Maret 2026.
Langkah darurat ini diambil setelah serangan drone atau pesawat tanpa awak memicu kebakaran pada salah satu tangki bahan bakar di sekitar area bandara.
"Otoritas Penerbangan Sipil Dubai mengumumkan penghentian sementara penerbangan di Bandara Internasional Dubai sebagai tindakan pencegahan guna menjamin keselamatan seluruh penumpang dan staf," demikian pernyataan resmi Kantor Media Dubai di X, seperti dikutip dari Channel News Asia, Senin (16/3).
Baca Juga: Iran Mulai Keluarkan Rudal Andalan Sejjil ke Israel, Begini Penampakan Kerusakan Tel Aviv
Tim pertahanan sipil dilaporkan telah berhasil memadamkan api yang bersumber dari hantaman proyektil tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, otoritas setempat menyatakan tidak ada korban jiwa dalam insiden kebakaran tersebut.
Maskapai Emirates juga telah mengonfirmasi penangguhan jadwal penerbangan dari dan menuju Dubai.
Negara-negara Arab di kawasan Teluk terus menghadapi ancaman serius sejak pecahnya perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran pada 28 Februari lalu.
Baca Juga: Na Willa, Petualangan Gadis Kecil di Surabaya 1960-an yang Siap Warnai Bioskop Lebaran 2026
Tercatat lebih dari 2.000 serangan rudal dan drone telah diluncurkan, menyasar pangkalan militer AS hingga infrastruktur sipil yang krusial.
Uni Emirat Arab menjadi negara yang paling terdampak dari rangkaian serangan tersebut. Berdasarkan data otoritas keamanan, Iran telah meluncurkan lebih dari 1.800 rudal ke wilayah UEA.
Sistem Keamanan Regional
Dikutip dari Antara, Minggu, 15 Maret 2026, Menlu Iran Abbas Araghchi menilai sistem keamanan regional yang selama ini dipimpin Amerika Serikat terbukti tidak mampu mencegah konflik dan bahkan memperburuk situasi.
Dia mengatakan bahwa Amerika Serikat kini bahkan meminta bantuan negara lain, termasuk Tiongkok, untuk membantu mengamankan Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi perdagangan energi global.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan bahwa payung keamanan Amerika Serikat di kawasan telah gagal.
Ia juga menegaskan bahwa negara-negara regional seharusnya mengambil langkah sendiri untuk menjaga stabilitas tanpa campur tangan kekuatan asing.***

