POJOKSATU.id, JAKARTA-- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut diplomasi dengan Iran sudah berlangsung selama 47 tahun.
Trump secara terbuka mengisyaratkan dukungan terhadap kemungkinan pergantian rezim atau kepemimpinan di Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.
Ketika ditanya apakah Trump menginginkan perubahan rezim di Iran, Trump menjawab bahwa hal tersebut sepertinya akan menjadi hal terbaik yang bisa terjadi.
Pernyataan itu disampaikan Trump saat Pentagon mengirimkan kapal induk kedua ke wilayah tersebut.
Namun ia menolak merinci siapa sosok yang diharapkan menggantikan kepemimpinan Iran saat ini.
Trump juga melontarkan kritik keras terhadap proses diplomasi yang telah berlangsung selama 47 tahun.
"Selama 47 tahun, mereka terus berbicara dan berbicara dan berbicara. Sementara itu, kita telah kehilangan banyak nyawa. Kaki putus, lengan putus, wajah hancur,” kata Trump usai menghadiri acara militer di Fort Bragg, seperti dikutip dari Reuters, Minggu (15/2/2026).
“Kita telah terus berjuang untuk waktu yang lama," katanya lagi.
Pernyataan keras itu muncul di saat AS memperkuat kehadiran militernya di Timur Tengah.
Baca Juga: Obama Tanggapi Unggahan Rasis Presiden Donald Trump, Singgung Hilangnya Rasa Malu dari Jabatan
Kapal induk USS Gerald R Ford dikirim untuk bergabung dengan USS Abraham Lincoln, bersama sejumlah kapal perusak berpemandu rudal, jet tempur, dan pesawat pengintai yang telah lebih dulu dikerahkan.
Trump menegaskan, pengerahan kapal induk kedua tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi jika jalur diplomasi gagal.
“Seandainya kita tidak mencapai kesepakatan, kita akan membutuhkannya, jika kita membutuhkannya, kita akan menyiapkannya,” kata Trump.
Seorang pejabat AS menyebutkan kapal induk itu membutuhkan setidaknya satu pekan untuk tiba di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, sumber Reuters menyebut utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan menggelar perundingan dengan Iran di Geneva pada Selasa mendatang, 17 Februari 2026 dengan Oman bertindak sebagai mediator.
Pada hari yang sama, keduanya juga disebut akan bertemu dengan perwakilan Rusia dan Ukraina terkait upaya AS mendorong pengakhiran perang di Ukraina.
Washington menginginkan agar perundingan nuklir dengan Iran turut mencakup isu rudal balistik, dukungan terhadap kelompok bersenjata di kawasan, serta perlakuan pemerintah terhadap rakyat Iran.
Namun Teheran menyatakan hanya bersedia membahas pembatasan program nuklir dengan imbalan pencabutan sanksi, dan menolak mengaitkannya dengan persoalan rudal.
Di tengah situasi tersebut, Trump kembali mengancam akan melakukan serangan jika kesepakatan tidak tercapai, sementara Iran berjanji akan melakukan pembalasan, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan.***

