POJOKSATU.ID - Meskipun selama ini Trump dikenal sebagai pendukung kuat Israel, sikap politiknya yang cenderung mengutamakan kepentingan domestik Amerika dapat memicu ketidakpastian di Timur Tengah, khususnya bagi negara Zionis itu.

Dengan penekanan Trump pada kebijakan "America First", negara-negara di kawasan ini mulai khawatir akan berkurangnya keterlibatan AS dalam mempertahankan kestabilan wilayah.

Salah satu alasan utama kekhawatiran Israel adalah kebijakan Trump yang lebih berfokus pada keamanan domestik, serta pengurangan bantuan luar negeri.

Baca Juga: Ujian SKD? Pahami TWK Materi Cinta NKRI agar tak Kesulitan, Ini Penjelasannya

Selama masa kepresidenannya sebelumnya, Trump memperkenalkan berbagai kebijakan yang tidak hanya memperkuat ekonomi dalam negeri AS, tetapi juga memperlemah komitmen Amerika terhadap beberapa aliansi internasional.

Dengan berkurangnya dukungan AS, Israel mungkin harus menghadapi tantangan besar dalam menghadapi ancaman dari negara-negara seperti Iran, yang kerap mengancam keberadaan Israel.

Selain itu, ketegangan dengan Iran juga menjadi faktor yang meningkatkan kecemasan Israel. Selama masa Trump yang pertama, hubungan AS dengan Iran berada pada titik terendah, terutama setelah keluarnya Amerika dari kesepakatan nuklir Iran.

Baca Juga: Heboh Nama MARIA EVA, Diungkit Lagi Warganet Usai Partai Golkar Umumkan Pengurus, Begini Perkaranya

Jika Trump kembali terpilih, kebijakan garis keras terhadap Iran kemungkinan akan berlanjut, dan hal ini berpotensi memperburuk situasi. Israel, yang sangat khawatir akan ambisi nuklir Iran, mungkin merasa kesulitan jika Amerika mengurangi peran aktifnya dalam menjaga tekanan terhadap Teheran.

Namun, sikap Trump yang lebih cenderung membatasi intervensi AS di luar negeri dapat membuat Israel merasa lebih terisolasi.

Dengan mengurangi keterlibatan AS dalam konflik-konflik global, Israel mungkin akan merasa lebih bertanggung jawab atas keselamatan dan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Baca Juga: Tri Adhianto Dorong Gerakan Kota Bekasi Berkarya, Ciptakan Lapangan Kerja untuk Warga!

Hal ini bisa menjadi mimpi buruk bagi Israel, yang bergantung pada dukungan militer dan diplomatik Amerika untuk mempertahankan posisi strategisnya di wilayah tersebut.

Tidak hanya Iran, isu terkait dengan Palestina juga bisa mempengaruhi hubungan Israel dengan Trump.

Meskipun Trump mendekatkan hubungan AS-Israel melalui pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan perjanjian normalisasi dengan beberapa negara Arab, kebijakan luar negeri Trump yang sangat pro-Israel bisa menimbulkan ketegangan lebih lanjut dengan negara-negara Arab dan masyarakat internasional. Hal ini berpotensi membuat situasi di Gaza dan Tepi Barat semakin rumit.

Baca Juga: Buntut Kasus Judi Online Komdigi: Ferry Irwandi Bongkar Sosok Makelar Bandar Situs yang Diduga Berinisial AL

Akhirnya, meskipun Trump mungkin berupaya untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan negara-negara otoriter seperti Rusia, hal ini tidak selalu sejalan dengan kepentingan Israel.

Israel cemas akan meningkatnya pengaruh Rusia di Timur Tengah, yang dapat mengubah keseimbangan kekuatan di kawasan. Jika Trump memilih untuk menghentikan dukungannya terhadap negara-negara sekutu seperti Ukraina, Israel mungkin merasa semakin terpinggirkan dalam dinamika politik global yang semakin kompleks. ***