POJOKSATU.id, JAKARTA-- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim militer AS telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, Sabtu (3/1).

Menurut pernyataan Trump, saat ini, Maduro beserta istrinya dilaporkan sedang diterbangkan keluar dari wilayah Venezuela.

Dilansir dari New York Times, melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat telah melancarkan "serangan skala besar terhadap Venezuela".

Ia menekankan bahwa operasi militer ini dilakukan "bekerja sama dengan aparat penegak hukum AS."

Baca Juga: Guru Mulai Terima TPG THR 100 Persen Sejak Malam Tahun Baru, Ini Penyebabnya Tidak Serentak

"Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, dan sedang menerbangkannya keluar dari Venezuela," tulis Trump dalam unggahannya, Sabtu (3/1).

Pengumuman penangkapan ini menandai puncak dramatis dari tekanan berbulan-bulan yang dilancarkan pemerintahan Trump untuk menggulingkan Maduro dari kursi pemerintahan di Venezuela.

Sebelum pengumuman Trump, militer AS telah melakukan serangan militer di Caracas dan beberapa bagian negara Venezuela lainnya, yang memunculkan ledakan hebat di pangkalan militer utama Fortuna di kota tersebut pada Sabtu (3/1) pagi waktu setempat.

Saksi mata di Caracas sebelumnya juga melaporkan terlihat kepulan asap hitam pekat membumbung dari fasilitas militer Fortuna, disertai suara jet tempur yang terbang rendah.

Baca Juga: Prabowo Buka Suara soal Bansos, Tegaskan Peran Pemerintah Jaga Harapan Rakyat Kecil

Sementara itu dilansir dari Reuters, jika klaim Trump terbukti benar, langkah ini akan menjadi intervensi langsung Amerika Serikat yang paling signifikan di Amerika Latin sejak invasi Panama pada 1989 untuk menggulingkan Manuel Noriega.

Reuters melaporkan, helikopter terlihat melintas di atas kepulan asap akibat ledakan di Caracas pada Sabtu pagi waktu setempat.

Ketegangan antara Washington dan Caracas memang meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Pemerintahan Trump menuding Maduro menjalankan "negara narkoba" dan memanipulasi pemilu.

Baca Juga: Kabar Baik Guru Non Sertifikasi, Lulusan PPG 2025 Mulai Terbit NRG dan Berpeluang Terima TPG 2026

Di sisi lain, Maduro secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menuding AS berupaya menguasai cadangan minyak Venezuela, yang terbesar di dunia.

Ironisnya, hanya sehari sebelum klaim penangkapan itu muncul, Maduro menyatakan terbuka untuk berdialog dengan Amerika Serikat.

Dalam wawancara dengan televisi pemerintah Venezuela yang dikutip BBC News, Maduro mengatakan siap melakukan pembicaraan dengan AS terkait isu perdagangan narkoba dan minyak. Ia bahkan menyebut dialog bisa dilakukan "di mana pun mereka mau dan kapan pun mereka mau".

Dalam wawancara tersebut, Maduro juga menghindari pertanyaan mengenai pernyataan Trump sebelumnya yang mengklaim AS telah menyerang fasilitas dermaga di Venezuela.

Menanggapi isu tersebut, Maduro hanya mengatakan hal itu "bisa dibicarakan dalam beberapa hari ke depan".

BBC News melaporkan, selama tiga bulan terakhir AS telah meningkatkan operasi militernya di kawasan Karibia dan Pasifik timur dengan dalih "perang melawan narkoba".

Lebih dari 30 serangan terhadap kapal yang diduga membawa narkotika telah dilakukan, dengan korban tewas dilaporkan mencapai lebih dari 110 orang.

Serangan terbaru terjadi pada Rabu lalu, ketika dua kapal dihantam dan menewaskan lima orang di dalamnya, menurut militer AS.***