POJOKSATU.id — Chief Technology Officer (CTO) Starbucks, Deb Hall Lefevre, memilih mundur dari jabatannya di saat perusahaan tengah menjalankan restrukturisasi besar.

Keputusan restrukturisasi ini menyebabkan penutupan sejumlah gerai di Amerika Utara serta PHK ratusan pegawai.

Keputusan tersebut diambil karena Lefevre berencana pensiun.

Sebelum bergabung dengan Starbucks pada Mei 2022, ia pernah menjabat sebagai eksekutif di McDonald's.

Baca Juga: Prediksi Susunan Pemain Timnas Indonesia vs Arab Saudi di Kualifikasi Piala Dunia 2026: Sayap Agresif, Sokong Lini Depan

Kehadirannya di Starbucks difokuskan untuk memperkuat layanan drive-through, pemesanan digital, dan sistem operasional internal.

Pengunduran dirinya terjadi bersamaan dengan dimulainya gelombang PHK kedua yang berlaku sejak 26 September 2025.

CEO Starbucks, Brian Niccol, menilai restrukturisasi teknologi mutlak diperlukan demi efisiensi tenaga kerja dan pemulihan kinerja bisnis setelah enam kuartal berturut-turut mengalami penurunan penjualan.

Untuk sementara, posisi Lefevre diisi oleh Ningyu Chen.

Baca Juga: Berdayakan UMKM Lokal Bersama Mewujudkan Generasi Sehat Indonesia

Di sisi lain, perusahaan juga mempercepat implementasi sistem berbasis kecerdasan buatan (AI) yang ditargetkan tuntas pada akhir September 2025.

Inovasi ini mencakup sistem inventaris otomatis, asisten barista virtual, perangkat titik penjualan terbaru, dan algoritma manajemen antrean.

"Prioritas teknologi kami tidak berubah. Kami fokus pada pekerjaan teknologi yang dibutuhkan untuk mewujudkan rencana Kembali ke Starbucks kami," imbuhnya.

Starbucks juga memastikan akan menutup beberapa gerai dengan performa rendah dan mengurangi sekitar 900 posisi di tim pendukung.

Sejumlah lowongan baru pun dibatalkan sebagai bagian dari efisiensi lanjutan.

Sebelumnya, pada Februari 2025, perusahaan telah mengumumkan PHK terhadap 1.100 pegawai.

Niccol menegaskan pemangkasan karyawan bertujuan menyederhanakan struktur perusahaan.

"Kami menyederhanakan struktur kami dengan menghilangkan duplikasi, serta menciptakan tim yang lebih kecil dan lebih gesit," ujarnya.

Restrukturisasi tersebut juga menjadi langkah strategis Starbucks untuk menghidupkan kembali citra kedai kopi.

Baca Juga: Ma Omih, Seniman Kecapi yang Setia Menjaga Tradisi di Karawang Sampai Jakarta

Di antaranya dengan memperkenalkan kembali penggunaan cangkir keramik, menciptakan suasana yang lebih nyaman, dan memangkas waktu tunggu pelanggan.***

Kirim komentar Anda dan baca artikel Pojoksatu.id lainnya tanpa iklan melalui aplikasi kami di bawah ini:

Versi Android

Versi iOS

Channel WhatsApp

Fanpage Edugov

Baca artikel menarik lainnya dari penulis: Salsabila Azahra.