POJOKSATU.id,-- Rusia dan China mulai bersuara keras usai Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman akan membom pembangkit listrik tenaga nuklir Iran yang beroperasi di Bushehr.

Rusia menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir Iran berpotensi sangat berbahaya dan penuh konsekuensi, bahkan mungkin tidak dapat dipulihkan akibat dampaknya.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, kepada wartawan dalam sebuah konferensi pers, Senin (23/3) menyebutkan, penyelesaian konflik di Iran harus diselesaikan secara politik dan diplomatik.

Baca Juga: KSP Muhammad Qodari Monitoring Mudik di Purwakarta, Petugas Diminta Siaga

"Kami percaya bahwa situasi tersebut seharusnya beralih ke penyelesaian politik dan diplomatik," kata Dmitry Peskov.

"Ini adalah satu-satunya hal yang dapat secara efektif berkontribusi untuk meredakan situasi tegang yang kini telah berkembang di kawasan tersebut," kata Peskov lagi.

Rusia telah memperingatkan serangan yang dapat membahayakan lokasi tersebut, yang pekan lalu diumumkan oleh badan pengawas nuklir PBB telah terkena proyektil.

"Kami menganggap serangan terhadap fasilitas nuklir berpotensi sangat berbahaya dan penuh dengan konsekuensi, bahkan mungkin tidak dapat dipulihkan," jelasnya lagi.

Baca Juga: Pelangi di Mars Sambangi Sumatera, Film Keluarga Temani Libur Lebaran 2026

China Ikut Bersuara

China juga ikut bersuara setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran.

China memperingatkan bahwa serangan lebih lanjut di Timur Tengah (Timteng) berisiko menciptakan situasi yang tak terkendali di wilayah yang dilanda perang tersebut.

Konflik dan dampaknya terhadap Hormuz telah mengancam keamanan energi global serta pasokan minyak China.

"Penggunaan kekuatan hanya akan menyebabkan lingkaran setan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, dalam konferensi pers, ketika ditanya tentang ancaman Trump.

"Jika perang meluas lebih jauh dan situasi memburuk lagi, seluruh wilayah dapat terjerumus ke dalam situasi yang tak terkendali," katanya lagi.***