POJOKSATU.id, JAKARTA—Presiden AS Donald Trump membuat keputusan terlibat perang dengan Iran dengan menyerang tiga fasilitas nuklir Iran di Fordow, Natanz, dan Esfahan, Sabtu malam (21/6) waktu setempat.
Dalam pernyataan di media sosial pada Sabtu malam, 21 Juni 2025, Trump mengklaim keberhasilan penuh serangan udara AS di tiga titik nuklir di Iran, yakni Fordow, Natanz, dan Esfahan.
“Kami telah menyelesaikan serangan yang sangat berhasil terhadap tiga lokasi nuklir di Iran, termasuk Fordow, Natanz, dan Esfahan,” kata Trump seperti dimuat ABC News.
Baca Juga: 93 WNI Beserta Staf Kedubes Dievakuasi dari Teheran ke Azerbaijan, Tempuh Jalan Darat 16 Jam
“Semua pesawat dalam perjalanan pulang dengan selamat. Tidak ada militer lain di dunia yang dapat melakukan ini. Sekarang waktunya perdamaian!" tegasnya lagi.
Sejumlah tokoh Partai Republik menyambut serangan itu sebagai keputusan berani yang diperlukan untuk menanggapi ancaman nuklir Iran.
Senator Lindsey Graham dari South Carolina dalam unggahan X memuji langkah Trump dan menyebut Iran pantas mendapatkannya.
Baca Juga: Teheran Baku
"Rezim itu pantas mendapatkannya. Kerja bagus, Presiden @realDonaldTrump. Kami memiliki Angkatan Udara terbaik di dunia. Itu membuat saya sangat bangga," cuitnya.
Senator John Cornyn dari Texas menyebut keputusan menyerang Iran sangat tepat dan berani, dengan tujuan utama adalah mengancurkan situs nuklir mereka.
“Presiden Trump membuat keputusan yang berani dan tepat untuk melenyapkan ancaman nuklir Iran. Semoga Tuhan memberkati AS. Terima kasih kepada militer kita yang luar biasa dan @POTUS kita yang gigih," tulisnya.
Ketua DPR Mike Johnson juga menyampaikan dukungannya, menyebut serangan tersebut sebagai tindakan tegas yang bertujuan mencegah terorisme. Ia dilaporkan telah diberi pengarahan sebelum serangan dilakukan.
Senator John Thune dan John Barrasso, juga dari Partai Republik, termasuk di antara mereka yang diberi informasi sebelum pelaksanaan serangan.
“Ancaman terbesar bagi keselamatan Amerika Serikat dan dunia adalah Iran dengan senjata nuklirnya," kata dia.***

