POJOKSATU.id — Demonstrasi besar yang awalnya menolak pemblokiran media sosial di Nepal, kini berubah menjadi kerusuhan yang menelan korban jiwa dan memicu kejatuhan pemerintahan.

Sejak Kamis pekan lalu, gelombang protes membesar, berpuncak pada pengunduran diri Perdana Menteri KP Sharma Oli serta Menteri Dalam Negeri, hingga pembakaran gedung parlemen.

Awal Pemicu, Pemblokiran Media Sosial

Mengutip AFP, Rabu (10/9/2025), kerusuhan bermula dari kebijakan pemerintah yang memblokir 26 platform media sosial, termasuk Facebook, YouTube, X, dan LinkedIn.

Baca Juga: Kemlu Pastikan WNI di Nepal Aman, Evakuasi Disiapkan Jika Situasi Memburuk

Kementerian Komunikasi dan Teknologi Informasi Nepal menyebut pemblokiran dilakukan karena platform tersebut belum mendaftar secara resmi sesuai aturan 2023.

"Platform yang tidak terdaftar akan dinonaktifkan mulai hari ini," ujar juru bicara kementerian, Gajendra Kumar Thakur.

Hanya lima platform yang lolos registrasi, di antaranya TikTok dan Viber.

Keputusan pemerintah ini memicu reaksi publik luas karena jutaan orang di Nepal bergantung pada media sosial untuk hiburan, bisnis, hingga berita.

Gelombang Protes dan Aksi Chaos

Protes yang dimulai dengan damai berubah menjadi kerusuhan.

Para demonstran, banyak dari kalangan mahasiswa, menuduh pemerintah bersikap otoriter dan menutup akses publik.

Presiden Digital Rights Nepal, Bholanath Dhungana, menyebut pemblokiran mendadak ini bentuk pengendalian.

"Penutupan mendadak seperti ini merupakan bentuk kontrol, bukan regulasi," tegasnya.

Demo kemudian membesar. Arah aksi yang awalnya pemblokiran media sosial mulai mengarah ke isue lain.

Massa menyanyikan lagu kebangsaan, meneriakkan penolakan korupsi, bahkan membawa bendera One Piece sebagai simbol perlawanan.

Baca Juga: Nepal Mencekam! Kemlu RI Pastikan 57 WNI Aman, Begini Pesan KBRI Bagi yang Melakukan Kunjungan

Bentrok Berdarah: 19 Tewas, 400 Luka-Luka

Senin (8/9/2025), kerusuhan mencapai puncaknya.

Polisi menembakkan gas air mata, peluru karet, meriam air, hingga pentungan untuk membubarkan massa yang mencoba menembus kawat berduri menuju parlemen.

Juru bicara kepolisian Kathmandu, Shekhar Khanal, melaporkan 17 orang tewas di Lembah Kathmandu dan dua lainnya di Sunsari, Nepal timur. Sekitar 400 orang terluka, termasuk 100 polisi.

"Saya berada di sana untuk protes damai, tetapi pemerintah menggunakan kekerasan," kata Iman Magar, mahasiswa yang terkena tembakan di lengannya.

Pemerintah Guncang, PM & Menkeu Mundur

Tragedi berdarah itu lalu memicu krisis politik.

Menteri Dalam Negeri Ramesh Lekhak mengundurkan diri pada Senin malam. Sehari kemudian, PM KP Sharma Oli juga menyerahkan surat pengunduran diri.

"Saya telah mengundurkan diri efektif mulai hari ini demi langkah menuju solusi politik," ujar Oli.

Namun, situasi tetap panas.

Sejumlah video menunjukkan parlemen dibakar massa.

Rumah eks PM Oli ikut jadi sasaran, sementara Menteri Keuangan Bishnu Prasad Paudel diarak dan dikejar demonstran di jalanan Kathmandu.

Krisis Politik dan Gerakan Generasi Muda

Nepal dengan populasi 30 juta kini menghadapi ketidakstabilan serius.

Hampir 43% penduduk berusia 15–40 tahun, dengan pengangguran sekitar 10% dan PDB per kapita hanya US$1.447 (Rp23 juta).

Analis menyebut gerakan ini didorong generasi muda yang muak pada korupsi dan ketidakadilan sosial.

Balendra Shah, wali kota Kathmandu yang populer di kalangan anak muda, menyerukan agar massa menahan diri.

Baca Juga: Unjuk Rasa Berdarah Guncang Nepal: Istri Mantan PM Tewas, Gedung Parlemen Dibakar, Oli Mengundurkan Diri

"Kami tegaskan: ini murni gerakan Gen Z," tulis Shah di akun Facebook-nya.

Nepal kini berada di titik kritis, dengan tuntutan rakyat agar transisi pemerintahan sementara segera dibentuk.

Semoga informasi ini bermanfaat.

Silahkan berikan tanggapan di kolom komentar dan bantu share info ini ya.

Akses artikel bisa dibaca melalui apps kami: