POJOKSATU.id - Hubungan Iran dan Amerika Serikat pernah berada di titik paling akrab sebelum berubah menjadi rival keras.
Sejarah panjang intervensi politik, revolusi, hingga krisis sandera menjadi fondasi awal memburuknya relasi dua negara ini.
Pada Sabtu, 28 Februari 2026 Amerika Serikat resmi melancarkan serangan ke beberapa titik di Iran.
Hal ini terjadi setelah ketegangan kedua negara meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya terus menekan Teheran terkait pemberhentian pengembangan program nuklir Iran.
Meski Iran membantah mengembangkannya untuk senjata nuklir.
Setelah pembicaraan terakhir yang digelar Kamis, 26 Februari 2026 tak membuahkan hasil, serangan lebih dulu dilakukan Israel dan kemudian disusul oleh AS.
Aksi ini memperpanjang konflik panjang Iran, AS, dan Israel yang telah berlangsung puluhan tahun.
Berikut kronologi hubungan Iran dan AS, dari sekutu dekat hingga musuh bebuyutan.
Kudeta 1953: Awal Retaknya Hubungan
Permusuhan modern bermula pada 1953 ketika CIA membantu menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadeq yang menasionalisasi industri minyak.
Kudeta tersebut mengembalikan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat.
Di era Shah, Iran menjadi sekutu utama AS di Timur Tengah, menerima bantuan militer, ekonomi, bahkan dukungan pengembangan program nuklir sipil melalui program Atoms for Peace.
Baca Juga: Gaji Ratusan PPPK Lumajang Tersendat! Sekda Bongkar Penyebabnya, Ternyata Karena Ini
Namun dukungan Washington terhadap rezim Shah memicu kemarahan dalam negeri yang meledak dalam Revolusi Iran 1979.
Revolusi 1979 dan Krisis Sandera
Revolusi yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini menggulingkan Shah dan mendirikan Republik Islam Iran.
Puncak ketegangan terjadi saat krisis sandera di Kedutaan Besar AS di Teheran (1979–1981), ketika 52 diplomat AS ditahan selama 444 hari.
Sejak itu, hubungan diplomatik putus dan sanksi ekonomi diberlakukan.
Perang Iran-Irak dan Operation Praying Mantis
Dalam Perang Iran Irak, Iran menghadapi invasi Irak di bawah Saddam Hussein.
Meski tidak terlibat langsung, AS mendukung Irak secara intelijen dan logistik.
Ketegangan memuncak pada 1988 melalui Operation Praying Mantis, operasi militer terbesar AS terhadap Iran yang menghancurkan kapal perang dan infrastruktur minyak Teheran.
Dari Sekutu ke “Perang Bayangan” dengan Israel
Sebelum 1979, Iran termasuk negara Muslim yang menjalin hubungan baik dengan Israel.
Namun Revolusi Islam mengubah segalanya. Rezim baru memutus hubungan dan mendukung perjuangan Palestina.
Seiring waktu, Israel melihat Iran sebagai ancaman utama, terutama terkait program nuklirnya.
Ketegangan berkembang menjadi “perang bayangan” lewat serangan siber, operasi rahasia, hingga konflik di Suriah dan Lebanon.
Iran mendukung kelompok seperti Hizbullah dan milisi di kawasan, sementara Israel dituding berada di balik pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, termasuk Mohsen Fakhrizadeh pada 2020.
Pembunuhan Qassem Soleimani
Konflik kembali memanas saat jenderal elite Iran Qassem Soleimani tewas dalam serangan drone AS di Baghdad pada 2020.
Baca Juga: Fakta PPPK Paruh Waktu Pemkot Jogja! Gaji Layak, BPJS Bayar Sendiri, dan Skema THR yang Tak Seragam
Iran membalas dengan serangan rudal ke pangkalan AS di Irak, nyaris memicu perang terbuka.
Babak Baru 2026
Serangan terbaru AS dan Israel terhadap Iran mempertegas bahwa konflik ini belum menemukan ujungnya.
Dari kudeta 1953, Revolusi 1979, krisis sandera, hingga perang bayangan modern, hubungan ketiga negara terus diwarnai ketegangan, kecurigaan, dan kepentingan geopolitik yang saling bertabrakan.
Sejarah panjang ini menunjukkan satu hal bahwa apa yang terjadi hari ini bukan sekadar respons sesaat, melainkan bab lanjutan dari rivalitas lama yang terus membara di Timur Tengah.***

