POJOKSATU.id, JAKARTA-- Amerika Serikat (AS) melontarkan ancaman keras kepada Iran jika Donald Trump terbunuh akibat serangan Iran.
Trump mengatakan AS akan menghancurkan dan memusnahkan seluruh wilayah Iran jika negara itu mencoba atau berhasil membunuh dirinya.
Hal ini disampaikan Trump setelah Israel memberikan informasi intelijen kepada AS pekan ini tentang rencana baru dan spesifik Iran untuk membunuh Trump.
Teheran selama bertahun-tahun telah bersumpah membalas Trump karena memerintahkan pembunuhan Jenderal Iran Qassem Soleimani, Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Januari 2020.
Baca Juga: AS Tolak Perjanjian Perdagangan Bebas, Donald Trump Diduga Mempersulit Perusahaan Bisnis
Trump juga yang memerintahkan serangan gabungan AS dan Israel pada 28 Februari 2026 lalu ke Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
"1.000 rudal telah siap dan diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan rudal lainnya akan segera menyusul, jika Pemerintah Iran bertindak sesuai ancamannya, yang diumumkan di banyak penjuru dunia, untuk membunuh, atau mencoba membunuh, Presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat, dalam hal ini, SAYA!" tulis Trump di platform media sosialnya, Truth Social, dilansir kantor berita AFP, Sabtu (11/7/2026).
"Perintah telah diberikan, dan Militer AS siap, bersedia, dan mampu, untuk jangka waktu satu tahun, yang dapat diperpanjang, untuk menghancurkan dan memusnahkan seluruh wilayah Iran," katanya lagi.
Terkait ancaman ini, media-media AS melaporkan hal itu pada hari Kamis (9/7) waktu setempat, di tengah meningkatnya serangan AS dan Iran, yang menambah kekhawatiran akan kembalinya perang habis-habisan.
Baca Juga: Donald Trump Klaim Penjaga Timur Tengah, Terima Imbalan 20 Persen Pendapatan Kawasan Minyak Itu
"Washington telah memantau serangkaian laporan intelijen tentang kemungkinan rencana untuk membunuh Trump, tetapi peringatan dari Israel itu baru dan menyangkut rencana spesifik," lapor CNN, mengutip sumber anonim yang mengetahui masalah tersebut, seperti dilansir kantor berita AFP, Jumat (10/7/2026).
Media AS lainnya, Wall Street Journal, juga mengutip sumber anonim, melaporkan bahwa informasi intelijen itu menyebut plot tersebut adalah info baru.
"Mereka ingin menyingkirkan pemimpin AS -- saya. Saya ada di setiap daftar. Saya melihat pagi ini bahwa saya ada di setiap daftar mereka. Dan sejauh ini saya rasa saya sedikit beruntung, tetapi mungkin keberuntungan itu tidak akan bertahan lama," kata Trump kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One saat ia terbang pulang dari KTT NATO di Turki pada hari Rabu lalu.***

