POJOKSATU.id, WASHINGTON DC -- Amerika Serikat (AS) dan Iran akan menandatangani kesepakatan gencatan senjata selama 60 hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Laporan Axios, salah satu media di AS menyebut bahwa kesepakatan yang berpotensi ditandatangani AS dan Iran akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Dan membuka kembali Selat Hormuz yang secara efektif ditutup oleh Teheran selama perang berkecamuk sejak 28 Februari 2026 lalu.
Kesepakatan itu akan memungkinkan Teheran melanjutkan penjualan minyak dan menciptakan peluang negosiasi mengenai program nuklir Iran.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Didesak Tahan Roy Suryo dan Dokter Tifa, Kasus Lain Polisi Cepat Tahan Tersangka
Isi kesepakatan tersebut, seperti dilansir Middle East Monitor, Senin (25/5/2026), dilaporkan oleh media AS, Axios, yang mengutip seorang pejabat AS yang mengetahui draf kesepakatan tersebut. Baik AS maupun Iran sejauh ini belum memberikan pernyataan resmi apa pun.
Disebutkan oleh pejabat AS yang dikutip Axios tersebut bahwa kesepakatan yang diusulkan itu belum difinalisasi.
Pejabat AS itu juga memperingatkan bahwa kesepakatan tersebut masih dapat gagal sebelum ditandatangani.
Laporan New York Times (NYT) pada Minggu (24/5), yang mengutip seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya, menyebut kesepakatan itu masih menunggu persetujuan akhir dari Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Baca Juga: Netanyahu Gertak Balik usai Dikabarkan Ditendang Trump, Israel Siap Serang Iran dan Lebanon
Laporan Axios menyebut bahwa kesepakatan yang berpotensi ditandatangani AS dan Iran akan memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka kembali Selat Hormuz, yang secara efektif ditutup oleh Teheran selama perang berkecamuk sejak akhir Februari.
Berdasarkan draf nota kesepahaman, Iran akan membersihkan ranjau dari Selat Hormuz dan mengizinkan kapal-kapal untuk lewat tanpa pungutan tol.
Sebagai imbalannya, AS akan mencabut blokade terhadap pelabuhan Iran dan memberlakukan pengecualian sanksi terbatas yang memungkinkan Teheran untuk menjual minyak secara bebas selama periode 60 hari.
Seorang pejabat AS menggambarkan pengaturan tersebut sebagai bantuan berdasarkan kinerja, dengan menyebut bahwa bantuan ekonomi akan mengikuti langkah-langkah konkret AS dan tidak akan diberikan di muka.
Draf kesepakatan itu juga mencakup komitmen Iran untuk tidak mengupayakan senjata nuklir dan untuk menegosiasikan penangguhan pengayaan uranium, serta pemindahan pasokan uranium yang diperkaya tinggi.
Setiap pelonggaran sanksi yang lebih luas atau pencairan dana Iran, menurut laporan Axios, akan dibahas selama periode gencatan senjata, tetapi hanya akan diimplementasikan sebagai bagian dari kesepakatan akhir yang telah diverifikasi.
Selama periode 60 hari gencatan senjata diperpanjang, pasukan AS yang ditempatkan di kawasan tersebut akan tetap berada di tempatnya dan hanya akan ditarik jika kesepakatan akhir tercapai.
Kesepakatan tersebut juga tampaknya terkait dengan upaya untuk mengakhiri perang antara Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon.
Dituturkan seorang pejabat AS yang dikutip Axios bahwa Israel masih akan diizinkan untuk bertindak, jika Hizbullah mencoba mempersenjatai diri kembali atau melanjutkan serangan.***

