POJOKSATU.id,-- Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling serang di Selat Hormuz yang terjadi pada Senin (4/5) waktu setempat.

Dikutip dari Al-Jazeera, Selasa 5 Mei 2026, rentetan serangan rudal dan drone terjadi pada Senin (4/5), menargetkan sejumlah titik strategis dan kapal di perairan tersebut.

Beberapa kapal dagang dilaporkan mengalami ledakan dan kebakaran.

Baca Juga: Militer Iran Siap Perang Lagi dengan AS, Tolak Rencana Trump Memandu Kapal di Selat Hormuz

Militer AS mengklaim telah menghancurkan enam kapal kecil milik Iran, meski klaim itu dibantah oleh Teheran.

Di saat yang sama, Iran juga melancarkan serangan ke wilayah Uni Emirat Arab (UEA), termasuk pelabuhan minyak di Fujairah yang menyebabkan kebakaran besar.

Eskalasi meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperkenalkan inisiatif yang disebut Project Freedom, sebuah upaya untuk membantu kapal-kapal yang terjebak agar bisa melintasi Selat Hormuz.

Namun, langkah tersebut belum menunjukkan hasil signifikan dan justru memicu reaksi keras dari Iran.

Baca Juga: Iran Klaim Serang 2 Kapal AS di Selat Hormuz, Komando Pusat Militer Amerika Beri Tanggapan

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menilai pendekatan militer tidak akan menyelesaikan krisis yang ada.

Dampak konflik ini langsung terasa di pasar global. Harga minyak dunia melonjak lebih dari 5 persen seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.

Hingga kini, upaya diplomasi antara kedua negara belum menunjukkan perkembangan berarti. Meski sempat ada perundingan awal, kelanjutan dialog masih belum jelas.

Iran Serang UEA

Komunitas dunia internasional mengecam Iran setelah 15 rudal dan empat drone ditembakkan dari negaraitu ke Uni Emirat Arab (UEA) pada hari Senin (4/5).

UEA menegaskan bahwa mereka berhak untuk merespons serangan tersebut.

Serangan ini menandai pertama kalinya UEA menjadi sasaran sejak Iran dan Amerika Serikat (AS) menyepakati gencatan senjata pada 8 April.

Serangan Iran langsung dikecam Arab Saudi, Qatar, Kuwait, dan Bahrain, Yordania, Jerman, Kanada.