POJOKSATU.id - Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak yang semakin mengkhawatirkan setelah alarm keamanan sempat terdengar di Makkah dan Jeddah, Arab Saudi, Selasa 15 September 2026.
Peringatan tersebut memang dicabut dalam waktu singkat.
Namun, cakupannya disebut lebih luas dibandingkan peringatan sebelumnya sejak konflik meningkat pada pekan lalu.
Yang membuat situasi ini menjadi perhatian adalah alarm di Makkah.
Baca Juga: Kapal Virgo Transport 8 Kecelakaan, Dedi Mulyadi Siapkan Uang Tunggu untuk 12 Korban Selamat
Kota Suci tersebut sebelumnya belum pernah mengalami peringatan serupa selama perang berlangsung.
Sampai saat ini, otoritas Arab Saudi belum menjelaskan apakah ada proyektil yang berhasil mencapai wilayah negaranya.
Tidak ada pula kelompok yang secara langsung menyatakan bertanggung jawab atas serangkaian serangan tersebut.
Di tengah situasi tersebut, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dilaporkan memperluas penguasaannya di sejumlah wilayah pesisir Laut Merah di Yaman.
Baca Juga: Setahun Jadi Menteri Keuangan, Segini Estimasi Pensiun Purbaya Yudhi Sadewa
Perkembangan itu menjadi penting karena wilayah tersebut menghadap Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Ancaman terhadap jalur tersebut datang ketika Selat Hormuz juga menghadapi gangguan akibat perang yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Dua jalur strategis itu memiliki peran penting dalam pergerakan energi dan perdagangan dunia.
Arab Saudi sendiri mengalami gangguan pada jalur distribusi minyaknya setelah Pipa East-West terkena serangan pada Jumat.
Baca Juga: Direktorat Pajak Sempat Dirombak Purbaya, Menkeu Baru Beri Tanggapan, Kita Diskusikan Ya
Pipa sepanjang sekitar 1.200 kilometer itu menghubungkan ladang minyak di kawasan Teluk dengan wilayah Laut Merah.
Jalur tersebut menjadi semakin penting ketika pelayaran melalui Selat Hormuz terganggu.
Karena itu, penghentian aliran minyak melalui Pipa East-West dalam waktu lama dikhawatirkan turut menekan pasokan minyak dunia.
Para pedagang minyak memperkirakan penutupan berkepanjangan dapat memangkas pasokan global hingga 4 persen.
Sementara itu, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan pemulihan aliran minyak melalui pipa tersebut kemungkinan dapat dilakukan dalam hitungan hari.
Baca Juga: William Paputungan
Di sisi lain, serangan Houthi terhadap Arab Saudi juga terus berkembang.
Koalisi militer pimpinan Saudi menyatakan serangan pada Senin menyebabkan 13 warga sipil mengalami luka.
Houthi sebelumnya melakukan operasi cepat di sepanjang pesisir barat Yaman hingga berhasil mengambil alih sebuah pulau di mulut Laut Merah.
Kelompok tersebut juga merebut kawasan sekitar pelabuhan bersejarah Mocha.
Pejabat pemerintahan Yaman yang didukung Saudi menyebut perkembangan itu direspons dengan peningkatan serangan udara terhadap posisi Houthi.
Baca Juga: Ady Setiawan Ungkap Kunci Dewa United Menang Dramatis Atas Borneo FC
Mereka juga mengakui bahwa Houthi kini secara efektif menguasai sebagian besar garis pantai barat Yaman di sepanjang Laut Merah.
Dampaknya mulai terasa di pasar energi.
Harga minyak mentah Brent pada Selasa menembus US$108 per barel, menjadi level tertinggi sejak Mei.
Kenaikan harga energi tersebut terjadi ketika risiko terhadap jalur pelayaran dan distribusi minyak semakin besar.
Jika gangguan berlangsung lebih lama, tekanan terhadap biaya energi dan perdagangan internasional dapat semakin meluas.
Baca Juga: Dewa United Bungkam Borneo FC, Dua Gol Terjadi di Injury Time
Persoalan Bab el-Mandeb bahkan dibawa ke Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Wakil Duta Besar AS untuk PBB Jennifer Locetta menyebut kemajuan Houthi di sekitar selat tersebut sebagai ancaman terhadap keamanan energi global.
Arab Saudi juga meminta perhatian terhadap keamanan jalur pelayaran.
Duta Besar Arab Saudi untuk PBB Abdulaziz Alwasil menuduh milisi Houthi sedang "memiliterisasi selat-selat internasional untuk memeras ekonomi global".
Sementara itu, Amerika Serikat menghadapi pilihan sulit di tengah meningkatnya ketegangan.
Baca Juga: SPBU Margonda Depok Batasi Transaksi Cashless, Pertamina Beri Teguran
Washington harus mempertimbangkan dukungan terhadap Arab Saudi tanpa memperluas keterlibatan militernya di kawasan yang sudah dipenuhi konflik.
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada Selasa bertemu dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di Kairo.
Keduanya menekankan pentingnya menjaga kebebasan dan keamanan navigasi di Bab el-Mandeb serta Laut Merah.
Sehari sebelumnya, Mohammed juga bertemu dengan komandan militer regional AS, Laksamana Brad Cooper, di Jeddah.
Baca Juga: Lomba OSN 2026 Mulai Digelar di UMM, 297.955 Siswa Mendaftar dan 570 Peserta Lolos ke Babak Final
Sebelumnya, ia telah berbicara dengan Presiden Donald Trump untuk meminta dukungan militer.
Namun, sejauh ini dukungan Amerika Serikat disebut masih terbatas pada bantuan intelijen.***

