POJOKSATU.id, JAKARTA— Pasukan militer Israel (IDF) mengklaim 99% serangan rudal balistik, rudal jelajah dan drone milik Iran mampu dideteksi sebelum mengenai target. Serangan Iran ini rontok di tengah jalan.
Tiga pakar militer yaitu Brian Carter, Frederick W Kagan dari Pertahanan untuk American Enterprise Institute's Critical Threats Project, serta Fabian Hinz dari peneliti pertahanan di London International Institute for Strategic Studies, memberikan analisa serangan Iran ke Israel ini.
Iran meluncurkan 300 drone, rudal balistik, dan rudal jelajah ke Israel pada Sabtu (13/4) lalu. Namun 99 persen serangan ini rontok di tengah jalan.
Baca Juga: Kabar Terbaru Serangan Rudal Iran ke Israel, Wamenlu Iran Beri Peringatan Penting
Fabian Hinz, peneliti pertahanan di London International Institute for Strategic Studies mengatakan Iran meluncurkan serangan rudal kombinasi untuk memberikan peringatan ke Israel.
Jadi, strategi Iran untuk memberikan peringatan keras terlebih dahulu ke Israel melalui serangan pada akhir pekan lalu.
"Serangan ini dirancang untuk membangun kembali mekanisme pencegahan di pihak Iran," kata Rodger Shanahan, anggota lembaga think tang Australia, Lowy Institute, Selasa (16/4).
Selain itu, upaya intersepsi Israel terhadap puluhan rudal dan drone Iran membuat Tel Aviv menelan kerugian miliaran dolar. Diperkirakan kerugiannya mencapai 5 miliar shekel atau setara dengan $ 1,35 miliar.
Baca Juga: Negara Pendukung Iran Ternyata Ini, Punya Kekuatan Militer yang Tak Bisa Diremehkan
Sementara itu, Brian Carter dan Frederick W Kagan dari Pertahanan untuk American Enterprise Institute's Critical Threats Project, menganalisa bahwa Iran seperti meniru serangan Rusia ke Ukraina.
"Paket serangan yang dilancarkan mirip dengan yang digunakan berulang kali oleh Rusia untuk menyerang Ukraina," kata Brian Carter dan Frederick W Kagan, dikutip dari Business Insider, Selasa (16/4/2024).
IDF mengestimasikan penyerangan tersebut menggunakan 170 drone, 30 rudal jelajah, dan 120 rudal balistik.
"Drone meluncur dengan baik sebelum rudal balistik ditembakkan. Kemungkinan mereka berharap serangan akan tiba di jendela pertahanan udara Israel berbarengan dengan rudal jelajah dan drone," katanya.
Kecepatan drone dan rudal jelajah yang lebih lambat bertujuan untuk membuat sistem pertahanan udara Israel kelelahan.
Dengan begitu, rudal balistik akan lebih mulus untuk menyasar target.
"Rusia telah melakukan pendekatan serupa berulang kali," kata pakar militer ini lagi.
"Pasukan Iran tak memperhitungkan sistem pertahanan Israel yang lebih canggih ketimbang Ukraina untuk menghadang serangan seperti itu," jelasnya lagi.
Dilansir Anadolu Agency, Senin (15/4/2024) Jenderal Ram Aminach, mantan penasihat keuangan kepala staf Israel, mengatakan bahwa 'biaya pertahanan tadi malam diperkirakan antara 4-5 miliar shekel ($1,08-1,35 miliar)'. Pernyataan ini dikutip harian lokal Yedioth Ahronoth.
"Saya hanya berbicara tentang intersepsi terhadap apa yang diluncurkan Iran dan kali ini bukan cedera yang kecil," katanya.***

