POJOKSATU.id - Yap Thiam Hien, hidup di tiga zaman. Malang melintang di era kolonial jelang kemerdekaan, mengalami masa Orde Lama dan menghadapi Orde Baru. Ia bagian dari jejak Tionghoa yang menjadi seorang advokat teguh dalam menegakkan keadilan dan HAM di Indonesia.
Sejak 1992, namanya diabadikan sebagai nama bentuk penghargaan kepada mereka yang yang berjasa besar dalam penegakan HAM di Indonesia. Penghargaan Yap Thiam Hien yang sangat bernilai.
Yap Thiam Hien dikenal bangsa ini sebagai seorang advokat Tionghoa dan aktivis HAM di Indonesia yang berani. Lahir di Kuta Raja, Aceh pada tanggal 25 Mei 1913 dan meninggal di Brussel, Belgia pada 25 April 1989.
Yap Thiam Hien adalah figur teladan yang berkontribusi besar dalam penegakan HAM di Indonesia. Ia meninggal saat perjalanan dinas menghadiri konferensi internasional Lembaga Donor untuk Indonesia di Brussel.
Jenazahnya diterbangkan ke Jakarta dan dimakamkan lima hari kemudian diiringi oleh ribuan pelayat. Yap Thiam Hien dimakamkan di Taman Pemakaman Umum (TPU) Tanah Kusir, Jakarta Selatan pada 30 April 1989.
Masa kecil Yap Thiam Hien dihabiskan di rumah besar yang dimiliki oleh kakeknya, Joen Khoy, bersama dengan bibi, paman, dan sepupunya.
Lingkungan ini menciptakan komunikasi yang erat di antara anggota keluarganya. Yap memiliki hubungan dekat dengan ibunya, Tjing Nio, serta dengan Nakashima, yang dijuluki sebagai omah Jepang atau nenek.
Kedua figur ini dianggap memiliki pengaruh yang kuat dalam perjalanan hidup Yap Thiam Hien.
Yap kemudian menjadi salah seorang advokat hebat yang mendirikan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) dan tanpa pamrih menjadi pembela kaum tertindas, melawan diskriminasi rasial, politik, dan agama.
Yap Thiam Hien selalu teguh membela nilai keadilan dalam menjalani profesinya sebagai seorang pengacara.
Ketika seorang pengacara menjanjikan kemenangan perkara kepada kliennya, Yap Thiam Hien punya pandangan lain.
Kemenangan perkara merupakan suatu hal yang diperjuangkan oleh setiap pengacara dalam ruang sidang. Tapi di sisi lain, Yap justru menjanjikan kekalahan kepada kliennya.
Sebagai gantinya, ia menawarkan hal lain, yaitu kebenaran.
Yap adalah pengacara keturunan Tionghoa, seorang anak sulung dari pasangan Yap Sin Eng dan Hwan Tjing Nio.
Dia tumbuh di lingkungan perkebunan feodalistik, sehingga hal ini membentuk karakternya menjadi seseorang yang tidak menyukai penindasan dan perilaku sewenang-wenang.
Dia memulai karirnya sebagai seorang guru dengan demi membantu ayahnya membiayai pendidikan adik-adiknya yang masih bersekolah.
Pada awalnya, dia mengajar di beberapa sekolah Kristen yang diperuntukkan bagi keturunan Tionghoa di daerah Cirebon dan Lasem, Rembang.
Pada tahun 1938, Yap mendapatkan beasiswa dan berkesempatan untuk kuliah hukum di Belanda.
Akhirnya, ia berangkat ke Belanda dan mengenyam pendidikan hukum di Universitas Leiden dan tinggal di Zendingshuis, Oegstgeest. Di Leiden, Yap meraih gelar Meester in de Rechten pada 1947.
Yap juga menggali pengetahuan dalam bidang filosofi, politik, organisasi sosial, bahkan hingga sejarah Alkitab selain menguasai ilmu hukum.
Meskipun diberikan kesempatan dan membangun karir yang mapan di bawah penguasaan kolonial, nasionalisme Yap rupanya tak bisa dibeli.
Yap tidak bisa mengabaikan ketidakadilan dan penderitaan yang dialami banyak orang Indonesia akibat penindasan kolonial dan pelanggaran HAM yang terjadi di tanah airnya.
Sepanjang hidupnya, Yap selalu gigih berjuang untuk mengadvokasi HAM di Indonesia.
Ia juga seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang aktif. Bahkan pada tahun 1926, Yap memimpin gerakan anti kolonial di Blitar.
Tanpa gentar, dia menyuarakan protes terhadap pemerintah kolonial Belanda dan organisasi-organisasi hak asasi manusia Tionghoa lainnya yang memberikan dukungan kepada Belanda.
Tidak berhenti di situ, Yap Thiam Hien juga mendirikan Partai Indonesia sebagai kelompok politik Tionghoa pertama dengan tujuan memperjuangkan hak politik dan ekonomi bagi warga Tionghoa.
Namun, upaya politiknya tidak diakui oleh pemerintah kolonial Belanda.
Pada tahun 1927, Yap Thiam Hien diadili dan divonis empat tahun penjara atas tuduhan terlibat dalam konspirasi melawan pemerintah kolonial.
Meskipun demikian, pada tahun 1931, dia dibebaskan setelah ditemukan bukti baru yang menunjukkan bahwa dia telah dijebak oleh pihak kolonial.
Walaupun mengalami masa penahanan, Yap Thiam Hien tetap gigih dalam perjuangannya untuk kemerdekaan Indonesia.
Dia aktif dalam mengorganisir gerakan anti-kolonial dan memegang peran kepemimpinan dalam Kongres Nasional Tionghoa, sebuah organisasi yang bertujuan memperjuangkan hak politik bagi komunitas Tionghoa di Indonesia.
Baca Juga: Kisah Cinta Romantis Jendral Sudirman, Rayuan Maut dan Kesetiaan Hingga Akhir Hayat
Tahun 1935 Yap mendirikan majalah bulanan bernama "Kedaulatan Rakjat" untuk mendukung gerakan kemerdekaan bagi Indonesia.
Pada tahun 1950, Yap Thiam Hien membela seorang tukang kecap keliling di Pasar Baru, Jakarta Pusat, yang telah ditangkap dan disiksa tanpa alasan yang jelas.
Keberaniannya untuk mengambil sikap membela korban ketidakadilan ini mencerminkan komitmennya terhadap nilai-nilai keadilan sosial.
Tak lama setelah kejadian tersebut, Yap Thiam Hien kembali mempertahankan hak-hak sejumlah pedagang di Pasar Senen yang menghadapi ancaman penggusuran dari pemilik gedung.
Di masa itu, perlakuan diskriminatif terlihat jelas, contohnya melalui penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1959 yang melarang orang asing untuk berdagang.
Juga ada aturan penggunaan Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia yang menempatkan orang Tionghoa dalam kategori orang asing.
Berbagai risiko ia hadapi hingga ia mendapat predikat sebagai minoritas tiga lapis: seorang Tionghoa, seorang Kristen, dan seorang yang jujur sekaligus berani.
Yap kemudian pernah ditangkap kembali dengan tuduhan yang tidak beralasan yaitu keikutsertaannya dalam Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G 30S PKI).
Yap pun dijatuhkan hukuman satu tahun dengan pertimbangan bahwa tuduhan Yap memenuhi unsur pencemaran nama baik.
Namun, bukan Yap jika ia mudah menyerah. Ia pun mengajukan banding dan dijatuhkan 14 hari bui.
Karena merasa tidak bersalah sama sekali, Yap kembali mengajukan banding hingga akhirnya dibebaskan dari segala tuntutan pada tingkat Mahkamah Agung.
Salah satu perkara yang membesarkan nama Yap Thiam Hien adalah pada tahun 1966 di masa awal Orde Baru.
Baca Juga: Kisah Jusuf Hamka Dipenjara Usai Usulkan Ibu Tien jadi Wapres Soeharto
Ketika itu ia melakukan pembelaan terhadap Soebandrio, Menteri Luar Negeri Kabinet Djuanda, yang dituduh terlibat penculikan pada kejadian G30SPKI.
Meskipun dikenal sebagai seorang antikomunis, Yap tetap melakukan pembelaan karena menyatakan kebenaran dinilai sebagai tugas mutlak dari seorang advokat.
Meski begitu, sejak awal perkara Yap sudah menyadari hal ini sebagai upaya rezim baru untuk menyingkirkan para pengikut Soekarno melalui cara hukum.
Pembelaan Yap yang serius dan teliti kepada Soebandrio itu sempat membuat para hakim militer di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) bingung dan kesal.
Soebandrio tetap divonis hukuman mati, tetapi kemudian diturunkan menjadi hukuman seumur hidup karena ada intervensi Ratu Inggris.
Selain advokasi terhadap HAM, Yap Thiam Hien juga merupakan sosok yang peduli terhadap pendidikan.
Sebagai pengurus Yayasan UKI sejak awal berdirinya pada tahun 1953, Yap berjuang untuk menyediakan akses pendidikan yang merata bagi semua golongan masyarakat.
Pada tanggal 22 November 1957, sebanyak 37 tokoh berkumpul untuk membahas kemungkinan mendirikan sebuah fakultas.
Baca Juga: Gejolak Pemilu 1997, Jelang Kejatuhan Soeharto dan Rezim Orde Baru
Tokoh-tokoh ini memiliki pandangan dan politik yang berbeda, tetapi mereka bekerjasama untuk memikirkan kepentingan umum.
Lalu, pendirian universitas terbentuk, dipimpin oleh Thio Thiam Tjong dan Yap Thiam Hien terpilih sebagai Wakil Ketua.
Berkat peran aktif Yap, Perguruan Tinggi Ekonomi Tarumanagara akhirnya didirikan pada tahun 1959, dan Universitas Tarumanagara didirikan pada tahun 1962 dengan 4 fakultas, termasuk Fakultas Hukum.
Yap Thiam Hien adalah sosok yang dengan keteguhan hati, sulit untuk diimitasi dan dintimidasi.
Di masa Ode Baru, Yap Thiam Hien banyak terlibat dalam organisasi masyarakat dan membela warga yang terdampak pembangunan waduk Kedungombo, peristiwa Tanjung Priok, dan kerusuhan Malari.
Yap Thiam Hien juga berani bersebrangan dengan Soeharto dalam hal pelaksanaan hukum, demokrasi, dwifungsi ABRI, dan pembangunan.
Seluruh kemampuan Yap Thiam Hien digunakannya untuk membela mati-matian seorang klien untuk mencapai keadilan itu sendiri. ***

