POJOKSATU.id - Belakangan viral potongan video Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang memicu perdebatan luas di media sosial.

Sorotan publik muncul setelah tim C2 dari SMA Negeri 1 Pontianak dianggap salah menjawab pertanyaan tentang mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), padahal jawaban mereka dinilai banyak orang sebenarnya tepat.

Masalah bermula karena dewan juri menganggap artikulasi jawaban peserta terlalu cepat sehingga terdengar kurang jelas.

Baca Juga: Link Pengumuman Manajer Koperasi Merah Putih 2026, Begini Cara Cek Kelulusan dan Tahapan Berikutnya

Akibatnya, tim tersebut bukan mendapat poin tambahan, tetapi justru dikurangi lima poin.

Situasi makin ramai karena pertanyaan serupa kemudian dijawab oleh tim B dari SMA Negeri 1 Sambas dengan jawaban yang dianggap mirip.

Kali ini, dewan juri justru langsung menyatakan jawaban benar dan memberikan tambahan sepuluh poin.

Baca Juga: Kuota Magang Nasional 2026 Naik Jadi 150 Ribu Peserta, Gajinya Bisa Tembus Rp5,8 Juta per Bulan

Perbedaan perlakuan itu terekam jelas dalam siaran langsung YouTube dan langsung memicu protes peserta.

“Dewan juri, izin. Tadi kami menjawabnya sama seperti regu B. Sama,” ujar salah satu peserta tim C2.

Potongan video perdebatan antara peserta, juri, dan pembawa acara kemudian menyebar luas di media sosial dan memancing kemarahan warganet.

Baca Juga: Rahasia Terbongkar, Ini 6 Cara Masak Daging Kambing Kurban agar Sehat, Empuk dan Tidak Bau Perengus

Sekretaris Jenderal MPR RI akhirnya merilis pernyataan resmi dan berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penilaian serta tata kelola perlombaan tersebut.

Pimpinan lembaga bahkan memutuskan membatalkan seluruh hasil kompetisi tingkat Kalimantan Barat dan meminta final diulang.

Bermula dari Barak Militer
Jauh sebelum menjadi tontonan televisi atau lomba antarsekolah di Indonesia, format cerdas cermat ternyata lahir dari lingkungan militer pada pertengahan abad ke-20.

Saat dunia masih berusaha pulih dari Perang Dunia II, seorang warga Kanada bernama Don Reid menciptakan permainan kuis sederhana untuk menghibur para prajurit di bawah organisasi United Service Organizations (USO).

Baca Juga: Nomor Telepon Bakal Wajib Dicantumkan di Akun Medsos, Ini Penjelasan Menkomdigi Meutya Hafid

Di tengah tekanan perang, permainan itu menjadi hiburan mental bagi tentara, bukan hanya soal kekuatan fisik dan senjata, tetapi juga ketangkasan berpikir di bawah tekanan.

Memasuki pertengahan 1940-an, stasiun radio WFIL di Philadelphia mulai menayangkan program Campus Quiz yang dipandu Wally Butterworth dan Tom Moorehead.

Acara tersebut mempertemukan sekolah-sekolah menengah dalam duel pengetahuan di panggung Manor Theater.

Hadiah hiburan seperti pemutar musik otomatis membuat acara semakin populer.

Baca Juga: Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib Kelas 3 SD Mulai 2027, Ini 10 Tips Mengajar Anak agar Tidak Bosan

Pada 1948, sebuah pabrik kertas di Delaware County, Pennsylvania, mendanai kompetisi Delco Hi-Q yang terus berlangsung hingga kini dan dikenal sebagai salah satu kuis akademik tertua di Amerika Serikat.

Ketika dunia memasuki masa damai, Don Reid bersama John Moses membawa format kuis itu ke radio publik.

Tanggal 10 Oktober 1953, program College Quiz Bowl pertama kali mengudara di NBC Radio.

Pertandingan perdana mempertemukan Northwestern University melawan Columbia University dan dimenangkan Northwestern.

Baca Juga: Bahasa Inggris Jadi Mapel Wajib Kelas 3 SD Mulai 2027, Ini 10 Tips Mengajar Anak agar Tidak Bosan

Dari sinilah lahir format baku cerdas cermat modern, mulai dari tim berisi empat orang, sistem buzzer atau bel elektronik, moderator pembaca soal, hingga aturan pengurangan poin bagi peserta yang terlalu cepat menekan tombol namun salah menjawab.

Menjadi Budaya Pop di Televisi
Puncak kejayaan kuis akademik terjadi ketika radio mulai beralih ke televisi.

Pada 4 Januari 1959, College Quiz Bowl resmi tayang di televisi melalui CBS lalu NBC. Dipandu Allen Ludden dan Robert Earle, acara tersebut menjelma menjadi tontonan populer keluarga Amerika.

Televisi membuat anak-anak muda pintar dipandang seperti bintang olahraga. Sponsor besar berdatangan dan kuis akademik berubah menjadi budaya pop yang menguntungkan sekaligus menghibur.

Baca Juga: Catat! Prapendaftaran SPMB DKI Jakarta 2026 Berlangsung hingga 10 Juni, Ini Panduannya

Masuk ke Indonesia pada Era TVRI
Popularitas kuis edukatif dari Barat akhirnya masuk ke Indonesia pada awal 1960-an ketika TVRI berdiri sebagai televisi nasional pertama.

Sosok penting di balik perkembangan kuis di Indonesia adalah Ani Sumadi yang dikenal sebagai “Ratu Kuis”.

Dalam wawancara bersama majalah Tempo pada 9 Mei 1992, Ani mengaku membawa inspirasi kuis dari luar negeri lalu menyesuaikannya dengan budaya Indonesia.

Program awal yang ia ciptakan adalah Silent Quiz yang dipandu almarhumah Ratmi B29.

Baca Juga: Benarkah Minum Es Saat Menstruasi Bisa Memperparah Nyeri Haid? Ini Faktanya

Dari sana lahir berbagai program populer seperti Cerdas Cermat dan Cepat Tepat yang menjadi tontonan favorit keluarga Indonesia.

Cerdas Cermat biasanya diperuntukkan bagi siswa sekolah dasar, sementara Cepat Tepat mempertemukan pelajar SMP dan SMA dari berbagai daerah.

Selain itu, muncul pula Lomba Cerdas Tangkas yang menggunakan bahasa Inggris dan memiliki format mirip Ragam Pesona di TVRI.

Menjadi Alat Politik Orde Baru
Pada era Orde Baru, format cerdas cermat tidak hanya menjadi hiburan dan pendidikan, tetapi juga alat pembentukan ideologi negara.

Baca Juga: Primus Yustisio Minta Gubernur BI Mundur Imbas Dollar Perkasa Jatuhkan Rupiah ke Level Rp17.653

Mengutip Suara Karya edisi 3 Oktober 1991, banyak soal kuis saat itu berisi materi tentang Pancasila, UUD 1945, hingga GBHN.

Formatnya sangat formal. Pelajar duduk rapi di balik meja, juri berpakaian resmi, dan seluruh sistem berorientasi pada hafalan serta jawaban tunggal.

Arsip BP-7 Banjarnegara mencatat bahwa Lomba Cerdas Tangkas P4 dan Lomba Cerdas Cermat P4 menjadi bagian dari program pembinaan ideologi negara pada 1978–1998.

Dalam buku Mengenal Orde Baru karya Dhianita Kusuma Pertiwi, disebutkan bahwa model kuis yang terlalu kaku dan berorientasi hafalan perlahan membentuk mentalitas seragam dan minim ruang kritis.

Baca Juga: Reaction Braking Jadi Skill Dasar Wajib untuk Keselamatan Berkendara

“Namun, jangan dibayangkan penayangan lomba cerdas cermat pada masa Orde Baru di TVRI sama dengan yang baru-baru ini,” tulis Dhianita.

Pernah Dipakai untuk Judi Buntut
Menariknya, acara cerdas cermat juga pernah terseret praktik perjudian pada pertengahan 1980-an di Pontianak, Kalimantan Barat.

Menurut laporan majalah Tempo edisi 28 September 1985, angka nilai peserta dalam acara Cerdas Cermat dan Cepat Tepat TVRI dijadikan patokan nomor judi buntut.

Nilai akhir tiap regu dijumlahkan lalu diolah menjadi angka taruhan antara 00 sampai 99.

Baca Juga: Kasus Hantavirus Muncul di Jakarta, Dinkes Minta Warga Jangan Asal Bersihkan Kotoran Tikus

“Misalnya jika Regu A meraih nilai 1.100, regu B 750, dan regu C 950, angka masing-masing dijumlah,” tulis Tempo.

Kasus itu bahkan membuat aparat kepolisian kesulitan mengungkap jaringan judi karena transaksi dilakukan secara lisan tanpa bukti tertulis.

Era Reformasi dan Televisi Swasta
Setelah Reformasi 1998, wajah televisi Indonesia berubah drastis. Dominasi TVRI perlahan digeser televisi swasta yang lebih komersial dan mengejar rating.

RCTI menjadi televisi swasta pertama yang resmi mengudara pada 24 Agustus 1989.

Baca Juga: Momen Terakhir Pratu Ferischal dengan Ayah Satu Hari Sebelum Kejadian, Unggah Status Mau Sholat

Format kuis kemudian berkembang menjadi lebih interaktif, santai, dan penuh hiburan.

Pesertanya tidak lagi terbatas pelajar, tetapi juga selebriti dan masyarakat umum.

Program-program seperti Aksara Bermakna, Tak Tik Boom, Sang Juara, Family 100, Kuis Dangdut, hingga Who Wants to Be a Millionaire? menjadi bagian dari perkembangan kuis modern Indonesia.

Helmy Yahya dan Tantowy Yahya menjadi dua figur penting dalam era tersebut.

Baca Juga: TMMD 128 Kodim Cilegon Gandeng BNN Edukasi Bahaya Narkoba ke Pelajar SMPN 6 Cilegon

Menariknya, Helmy Yahya ternyata pernah menjadi juara Cepat Tepat TVRI Palembang pada akhir 1970-an.

Meski formatnya terus berubah mengikuti zaman, semangat utama lomba cerdas cermat sebenarnya tetap sama, yakni menggabungkan pengetahuan, ketangkasan berpikir, dan hiburan. ***