POJOKSATU.id - Perayaan pesta budaya Cap Go Meh di Kota Bogor selalu meriah dan kini menjadi salah satu agenda pariwisata yang dilirik secara nasional.

Ini karena, perjalanan Cap Go Meh di Kota Bogor sebagai pesta budaya telah menyatu begitu lama dengan masyarakat Bogor yang memiliki nilai toleransi tinggi.

Dari masa ke masa, nilai kebersamaan Cap Go Meh di Kota Bogor tak pernah menimbulkan pertikaian. Bahkan selalu menjadi ajang pemersatu.

Meski pemaknaan tradisi ini berbeda di setiap wilayah, namun kemeriahan Cap Go Meh di Kota Bogor tidak hanya dirasakan oleh etnis Tionghoa saja, melainkan juga masyarakat yang menerimanya sebagai pesta rakyat.

Baca Juga: Pertarungan Hidup Kho Ping Hoo, Maestro Cerita Silat Tionghoa Indonesia yang Legendaris, Cersil yang Digandrungi Tiga Presiden Indonesia

Bahkan sebelum masa orde baru, Cap Go Meh di Kota Bogor sudah menjadi pesta budaya yang melibatkan kebersamaan seluruh kalangan masyarakat, sebelum akhirnya sempat dilarang sejak tahun 1969.

Berikut catatan panjang Cap Go Meh di Kota Bogor dari masa ke masa yang perlu diketahui sebagai ajang pemersatu bangsa dan penanda kebersamaan yang selalu dirawat.

1. Cap Go Meh Kisaran Tahun 1800-1930

Sejak komunitas Tionghoa Buitenzorg memiliki klenteng Hok Tek Bio sekitar tahun 1800-an, riuh perayan Tjap Go Meh sebagai perayaan paling meriah saat itu mulai dilaksanakan.

Sekitar tahun 1930-an arak-arakan Tapekong dan Ceng Ge didaulat masuk ke dalam Istana Gubernur Jendral Belanda.

2. Cap Go Meh 1954, Diundang Soekarno

Ini tahun pertama, dan satu-satunya sepanjang sejarah, Cap Go Meh bisa masuk ke Istana Bogor dan memeriahkan acara di kawasan tersebut.

Biasanya, Cap Go Meh hanya digelar di kawasan Suryakancana. Atas undangan Presiden Soekarno, Cap Go Meh menjelma menjadi event yang dapat dibanggakan oleh warga Bogor.

Baca Juga: Organisasi Tionghoa Masa Kolonial, Penyulut Nasionalisme, Penyokong Persatuan Indonesia, Lebih Awal dari Budi Utomo

Arak-arakan Tapekong dan Ceng Ge pun berhasil memukau Bung Karno beserta tamu negara yang berada di Istana Bogor.

3. Cap Go Meh 2002, Kemunculan Kembali

Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) menjadi pelopor pengakuan masyarakat Tionghoa sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia.

Perayaan Sin Cia (Imlek) diperkenankan dan Cap Go Meh diizinkan kembali tampil di ruang-ruang publik.

4. Cap Go Meh 2003, Bergerak dari Vihara Dhanagun

Vihara Dhanagun mulai mengawali revitalisasi Cap Go Meh Bogor, dan menjadi cikal bakal pesta rakyat Bogor.

Sambutan meriah dari berbagai kalangan masyarakat pun terjadi, dan tradisi gotong Tapekong mulai diperlihatkan kembali.

5. Cap Go Meh 2004, Memasuki Tahun Transisi

Suhu politik saat itu belum menguntungkan. Pemilihan umum dan pergantian Presiden menjadi satu faktor, mengapa Cap Go Meh 2004 tidak terlalu besar dari konsep yang sama seperti tahun sebelumnya.

Wait and see. Semua masih dalam masa transisi. Beda pemimpin, menghasilkan peraturan yang berbeda dan Cap Go Meh di Kota Bogor masih melihat situasi di masa mendatang.

6. Cap Go Meh 2005, Membangun Solidaritas

Pada 26 Desember 2004, Aceh diguncang gempa dan tsunami. Ratusan ribu warga Aceh menjadi korban. Indonesia berduka.

Dua bulan pasca tsunami, perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor ditiadakan. Bantuan sosial dari Etnis Tionghoa pun digalang dan mengalir ke Aceh.

Ini salah satu bentuk kepedulian kepada sesama, dikarenakan Aceh masih dalam tahap pembangunan dan pemulihan pasca tsunami sehingga Cap Go Meh di Kota Bogor memilih untuk mendukung pemulihan Aceh.

Baca Juga: Kisah Kie Lin Bertahan di Awal Orde Baru, Setia Bersama Cap Go Meh, Satu-satunya di Indonesia Hanya Ada di Kota Bogor

7. Cap Go Meh 2006, Belum Banyak Wisatawan

Cap Go Meh di Kota Bogor kembali digelar pada tahun 2006 dan masih mengusung konsep yang serupa, yaitu arak-arakan liong dan barongsai.

Belum banyak wisatawan yang mengetahui dan belum terlalu banyak media yang tertarik mengekspose event ini karena masih dianggap sebuah event dari kalangan etnis Tionghoa saja.

8. Cap Go Meh 2007, Sebuah Perubahan

Sebuah perubahan dilakukan dalam perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor dengan menampilkan sesuatu yang berbeda sebagai ajang pesta budaya.

Pada 2007, perayaan Cap Go Meh (CGM) disusun lebih matang dengan dilakukannya beberapa event seperti pameran foto agar menarik pengunjung juga wisatawan untuk datang pada gelaran CGM 2007.

Di tahun ini, penghargaan diberikan oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk jumlah penampilan liong dan barong terbanyak.

Dengan adanya perubahan konsep dan menampilkan hal-hal baru, acara CGM mulai dikenal dalam pemberitaan di media ketika itu.

9. Cap Go Meh 2008, Tahun Bersejarah

Inilah salah satu tonggak tahun bersejarah bagi event Cap Go Meh di Kota Bogor.

Untuk kali pertama gagasan "Street Festival" muncul. Tentunya, dengan rangkaian acara yang dikemas sebagai hiburan untuk rakyat Bogor.

Masih dengan rute yang sama sepanjang 1,5 km mulai dari Vihara Dhanagun hingga simpang tiga Batutulis, arak-arakan dilakukan lebih tertib.

Di tahun inilah akhirnya Cap Go Meh menjadi salah satu agenda festival Kota Bogor yang diselenggarakan selain Hari Jadi Bogor (HJB).

10. Cap Go Meh 2009, Partisipan dari Daerah

Baca Juga: Djiauw Kie Siong, di Rumah Prajurit Tionghoa Ini Proklamasi Sepakat Terjadi, Bahkan Karawang Sudah Lebih Dulu Kibarkan Merah Putih

Tahun 2009, sekitar 120 ribu pengunjung memadati kawasan Suryakancana. Perayaan Cap Go Meh tahun 2009 disertai arak-arakan joli dari pelbagai daerah seperti Sukabumi, Bekasi, Jakarta hingga Ungaran.

Tahun ini muncul tema “Dari Bogor Bersatu Dalam Ragam Budaya”

11. Cap Go Meh 2010, Mengulang Prestasi

Gelaran Cap Go Meh Street Festival kembali mengulang prestasi yang sempat ditorehkan pada 2007, yakni sebagai perayaan Cap Go Meh terbesar di Indonesia.

Cap Go Meh tahun itu ditandai dengan hadirnya liong Kelompok Pertunjukan Naga Merah Putih yang mendapatkan rekor dari MURI dengan panjang 50 meter membuat decak kagum penonton.

12. Cap Go Meh 2011, Mulai Merangkul Sanggar

Tidak ada penampilan yang signifikan pada gelaran Cap Go Meh 2011, pengunjung yang semakin membludak memadati jalan Suryakencana bukan lagi pemandangan aneh.

Tetap mengusung konsep yang sama hanya dengan tema yang berbeda, tahun 2011 Cap Go Meh mulai merangkul sanggar-sanggar budaya untuk ikut mengisi street fest.

13. Cap Go Meh 2012, Petama Kali Gubernur Jawa Barat Hadir

Untuk kali pertama, acara Cap Go Meh di Kota Bogor ini dibuka oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan.

Selain itu, Cap Go Meh Street Festival 2012 tidak hanya diikuti kelompok barongsai dan Liong, tetapi juga diikuti kelompok kesenian Sunda.

14. Cap Go Meh 2013, Tak Kalah Spektakuler

Ini tahun tak kalah spektakulernya dengan gelaran-gelaran sebelumnya. Sekira 5.000 peserta mengikuti acara ini.

Peserta berasal dari Komunitas Ciliwung, Kelompok Seni di Sukabumi, Tangerang, dan Surabaya.

Baca Juga: Ternyata Kita Punya Mulan van Java, Namanya Tan Peng Nio, Gadis Tionghoa dalam Perang Geger Pacinan atau Perang Kuning di Zaman VOC

Selain itu, perayaan Cap Go Meh juga dimeriahkan parade 12 kendaraan hias yang melambangkan 12 shio.

Ditambah dengan parade 50 barong dari pelbagai wilayah, 25 liong dan 20 joli. Cap Go Meh 2013 juga mulai menampilkan Ogoh-ogoh yang merupakan budaya pemeluk agama Hindu.

15. Cap Go Meh 2014, Menuju Nusantara

Ketika pada tahun-tahun sebelumnya hanya menampilkan budaya Sunda, pada helaran tahun 2014 Cap Go Meh mengangkat kebudayaan Nusantara yang ditampilkan pada pawai budaya.

Kesuksesan dari tahun 2014 ini menjadikan Cap Go Meh Street Festival sebagai agenda nasional.

16. Cap Go Meh 2015, Kejutan dari Jokowi

Sebuah kejutan datang pada helaran Cap Go Meh 2015. Kedatangan Presiden Ir. Joko Widodo seolah semakin meneguhkan bahwa event ini tidak bisa dipandang sebelah mata.

Acara tahun ini, juga dihadiri oleh Anies Baswedan ketika menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca Juga: Jejak Pahlawan Nasional Etnis Tionghoa Laksamana Muda John Lie, Kisah Hantu Selat Malaka yang Sering Menyantuni Anak Jalanan dan Gelandangan

Pada tahun ini juga, rute street festival tidak hanya di sekitaran Suryakancana, tetapi sudah menyentuh Jalan Raya Pajajaran.

17. Cap Go Meh 2016, Lebh Fresh

Cap Go Meh 2016 tampil beda dengan konsep lebih fresh. Acara dibuka dengan festival drum band.

Mulai muncul partisipasi dari komunitas Bogor Plus Sahabat (Bobats) yang menampilkan kostum karakter (Sun Go Kong) yang digarap pelajar SMKN 3 Kota Bogor.

Selain itu, ada pawai budaya, mobil hias, atraksi barongsai dan liong, Joli dewa Dewi dan penampilan menarik lainnya dari komunitas di Kota Bogor maupun luar Bogor.

Disediakan beberapa panggung hiburan yang diisi juga dengan wayang dan penampilan dari sanggar binaan dari Disparbud Kota Bogor.

Event CGM semakin besar sebagai ajang pemersatu bangsa.

Baca Juga: Ong Lien Hiang Nama Tionghoanya, Punya Kisah Kelam di Masa Orde Baru: Keindonesiaan Tidak Mungkin Saya Jual, Dialah Susi Susanti!

Acara juga dihadiri dan dibuka oleh Prof Dr HM Ahmad Syah, Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Kemenpar.

Saat itu CGM Bogor ditetapkan sebagai asset pariwisata nasional dalam mengampanyekan "Pesona Indonesia".

18. Cap Go Meh 2017, Dibuka Menteri Agama

Cap Go Meh-Pesta Rakyat Bogor atau Bogor Street Festival menegaskan slogan “Ajang Budaya, Pemersatu Bangsa”.

Bagi masyarakat Bogor CGM bukanlah festival agama namun festival kebudayaan yang dapat dinikmati semua orang.

Bogor sejak 100 tahun lalu telah merayakan Cap Go Meh dengan berbagai pertunjukkan seni dan prosesi kebudayaan yang menjadi ajang pemersatu masyarakat Bogor yang majemuk,” begitu pernyataan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Wisata Nusantara Esthy Reko Astuti kepada media.

CGM – Street Fest 2017 ini pun mengusung spirit "Bogor untuk Indonesia" dan secara resmi dibuka oleh Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin mewakili Presiden RI, Joko Widodo, yang berhalangan hadir dalam acara tersebut.

Baca Juga: Jejak Pahlawan Nasional Etnis Tionghoa Laksamana Muda John Lie, Kisah Hantu Selat Malaka yang Sering Menyantuni Anak Jalanan dan Gelandangan

Sekitar 40 sanggar seni dan budaya yang ada di Bogor terlibat.

Lebih istimewa, tahun 2017 berhasil menampilkan Tim Kesenian dari Sinying Tainan City, Taiwan yang menampilkan Lo Cia San Tai Ce Dance dan juga bentuk seni budaya nasional lain seperti Kentongan Papeling Banyumas, Ondel-ondel Betawi dari Komunitas Condet, Reog Ponorogo, dan lain-lain.

Sementara dari Bogor dan Jawa Barat hadir Kereta Kencana Komunitas Harekrishna, Jajangkungan dari Komunitas Tatanggara, Marching band, Wayang Golek, kostum bambu dan tarian, karya Helaran Tunggul Kawung, Ogoh-ogoh, Mobil Shio, Liong dan Barongsai.

19. Cap Go Meh 2018, Dihadiri Ketua MPR RI

Pada 2018, Pesta Rakyat CGM berlangsung meriah meskipun diguyur hujan. Acara ini menampilkan keberagaman budaya nusantara dan sukses menyatukan perbedaan warna bendera politik.

Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menilai Festival Cap Go Meh 2018 menunjukkan masyarakat Indonesia memiliki toleransi yang tinggi.

Baca Juga: Jejak Aktor Tionghoa Tan Tjeng Bok Alias Pak Item, Seniman dari Tangkiwood yang Serba Bisa, Disebut 100 Kali Menikah, Melarat di Akhir Hayat

20. Cap Go Meh 2019, Hadirnya Ridwan Kamil dan Ibu Shinta

Bogor Street Festival Cap Go Meh (BSF CGM) 2019 dihadiri oleh para tokoh pemuka lintas agama dan para pejabat tinggi, baik dari instansi pemerintah, TNI maupun Polri.

Ibu Sinta Nuriyah Wahid, istri dari Presiden RI ke-4, hadir dalam acara Cap Go Meh di Bogor pada tahun 2019.

Ridwan menyebut Cap Go Meh di Kota Bogor adalah wajah terbaik se-Jawa Barat yang diwakili Kota Bogor dalam menjaga Pancasila, menjaga bhinneka, memelihara keberagaman dalam kedamaian.

21. Cap Go Meh 2020, Pak Menteri Akhirnya Datang Juga

Sabtu siang 8 Februari 2020, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio akhirnya hadir dalam event pariwisata bikinan Kota Bogor.

Pak Menteri hadir ditemani Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto dalam perayaan Cap Go Meh tahun 2020.

Ketua Panitia Bogor Street Festival CGM 2020, Arifin Himawan, menegaskan bahwa acara ini telah berlangsung selama 19 tahun dan menjadi ciri khas kota Bogor dengan mengusung nilai persatuan dan kebudayaan, serta melibatkan berbagai grup kesenian dari nusantara.

Baca Juga: Yap Thiam Hien, Jejak Tionghoa Pembela Kaum Tertindas, Penegak HAM yang Diabadikan Jadi Nama Penghargaan

22. Cap Go Meh 2021, Berlangsung Virtual

Peringatan Bogor Street Festival Cap Go Meh tidak digelar pada tahun 2021 ini, karena masih dalam situasi pandemi Covid-19.

Bogor Street Festival Cap Go Meh merupakan kegiatan yang masuk dalam 100 kalender of event Kementerian Pariwisata Tahun 2020.

Mengingat situasi pandemi, Perayaan Cap Go Meh (CGM) berlangsung secara virtual di Vihara Dhanagun, Jumat 26 Februari 2021.

Meski tak meriah karena pandemi, namun semangat kebersamaan tetap diusung sebagai ikon keberagaman Kota Bogor.

Baca Juga: Jangan Keliru, Ini Bedanya Imlek dan Cap Go Meh

Ketua Panitia CGM, Arifin Himawan mengungkapkan, pelaksanaan secara sederhana ini dilakukan demi menjaga kelangsungan masyarakat selama pandemi.

Meski pawai dan street festival yang biasa dilakukan di tahun sebelumnya ini ditiadakan, kawasan pecinan di Suryakencana itu tetap dipercantik.

Panita hanya melakukan kegiatan menghias Lawang Suryakencana, yakni gerbang Jalan Suryakencana dengan lampion. Hiasan lampion juga dipasang di Vihara Dhanagun dan di depan sejumlah gang di Jalan Suryakencana, untuk menunjukkan kesan Imlek hingga Cap Go Meh.

23. Cap Go Meh 2022, Digelar Terbatas

Bogor Street Festival Cap Go Meh (CGM - BSF) 2022 diadakan pada 5 Februari 2022. Acara ini digelar secara terbatas dengan protokol kesehatan yang ketat di Vihara Dhanagun, Jalan Suryakencana.

Beberapa atraksi khas Cap Go Meh, seperti barongsai dan liong tentunya ditampilkan di acara ini.

Segenap budayawan Sunda juga diundang untuk tampil di acara ini. Bogor Street Fest Cap Go Meh 2022 ditutup dengan prosesi ruwatan di mana sederet tabuh-tabuhan dibunyikan.

Tema Bogor Street Fest Cap Go Meh 2022 adalah "Embracing Diversity".

Baca Juga: Keunikan Vihara Dewi Kwan Im Palembang Berusia 291 Tahun, Ada Makam Ju Sin Kong Panglima Beragama Islam

24. Cap Go Meh 2023, Dihadiri Angela Tanoesoedibjo

Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat, hadir dalam Bogor Street Festival Cap Go Meh (BSF) 2023. Dalam acara tersebut, Ridwan Kamil menyebut BSF sebagai festival terbaik di Jawa Barat.

Wakil Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Angela Tanoesoedibjo menyatakan bangga terhadap gelaran festival budaya Bogor Street Festival yang merangkum kearifan lokal dalam acara Cap Go Meh.

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Krearif Angela Tanoesoedibjo menghadiri Bogor Streer Festival Cap Go Meh 2023 di Jalan Suryakencana, Kota Bogor, Jawa Barat, Minggu 5 Februari 2023.

Pembukaan Bogor Street Festival itu juga dihadiri Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto, Wakil Wali Kota Bogor Dedie Abdul Rachim, Rektor IPB Arif Satria dan sejumlah tokoh lintas agama serta tokoh Tionghoa.

Baca Juga: Imlek Mulai Hits, Kepoin Vihara Mak Kupoh Karawang yang Indah Bernilai Sejarah

Tahun ini, CGM - BSF tidak digelar karena bertepatan dengan Pemilu 2024.

Pernyataan ini sudah diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor, Iceu Pujiati saat melaunching agenda Calender of Event (CoE) 2024, pada Kamis (28/12/2023) lalu.

Catatan ini menjadi penting untuk melihat kembali berbagai peran yang pernah ada dalam perayaan Cap Go Meh di Kota Bogor, melihat kembali situasi dan mengukur bagaimana seni-budaya kita mampu berperan menjadi pemersatu bangsa. ***