POJOKSATU.id - Indonesia pernah memiliki pejabat keuangan yang hidup jauh dari kemewahan. Namanya Syafruddin Prawiranegara.
Jabatannya tidak main-main. Ia pernah menjadi Menteri Keuangan, Menteri Kemakmuran, Presiden De Javasche Bank, hingga kemudian dipercaya menjadi Gubernur Bank Indonesia pertama setelah nasionalisasi De Javasche Bank pada 1953.
Di tangannya, salah satu pusat penting perekonomian negara berada.
Namun, jabatan tinggi tidak membuat Syafruddin hidup seperti seorang pejabat kaya raya.
Baca Juga: Megawati Sarankan Menu MBG Lebih Beragam dari Makanan Khas Berbagai Daerah di Indonesia
Tidak ada kemewahan yang menonjol di rumahnya. Bahkan, menurut Yudi Latif dalam Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan, istrinya, Siti Halimah, pernah berjualan sukun goreng untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Ketika anak-anaknya bertanya apakah ia tidak malu berjualan karena suaminya seorang pejabat negara, Siti Halimah justru mengajarkan sesuatu yang sederhana.
Baginya, mencari nafkah dengan cara halal bukanlah sesuatu yang memalukan. Yang memalukan adalah mengambil sesuatu yang bukan hak.
“Seperti mengambil milik orang lain yang bukan hak kita, atau mengambil uang negara. Itu pencuri namanya. Orang-orang mungkin tidak tahu, tapi Allah tahu.”
Baca Juga: Jurnalis Senior asal Karawang Oland Sibarani Kembali Pimpin Dewan Kehormatan PWI Jabar
Kesederhanaan itu bahkan terasa ketika anak mereka, Chalid Prawiranegara, lahir.
Keluarga Syafruddin tidak mampu membeli gurita bayi. Siti Halimah akhirnya menggunakan kain yang ada di rumah, bahkan menyobek kain kasur untuk membuat gurita bagi bayinya.
Padahal, pada saat yang sama, Syafruddin dipercaya mengelola urusan keuangan negara.
Ia pernah menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin De Javasche Bank pada 1951.
Setelah bank tersebut dinasionalisasi, ia menjadi Gubernur Bank Indonesia pertama pada 1953 hingga 1958.
Baca Juga: ACC Bersama OJK dan Media Cirebon Dorong Literasi Keuangan Masyarakat
Sebagai orang yang berada di pusat kebijakan moneter, Syafruddin ikut meletakkan dasar pengelolaan keuangan negara yang baru merdeka. Ia juga termasuk tokoh yang mendorong pemerintah menerbitkan mata uang sendiri sebagai simbol kedaulatan Indonesia.
Namun, semakin besar kewenangan yang dimilikinya, semakin kuat pula prinsip yang ia pegang.
Syafruddin tidak memandang jabatan sebagai kesempatan memperkaya diri.
Ia justru melihatnya sebagai amanah.
Karena itu, kisah hidupnya menjadi menarik bukan hanya karena ia pernah memimpin Bank Indonesia, tetapi karena ia menunjukkan bahwa orang yang diberi kewenangan mengelola uang negara tidak harus ikut menjadi kaya karenanya.
Baca Juga: MSCI Rombak Indeks Saham Indonesia, CPIN dan GOTO Terdepak dari Global Standard
Syafruddin Prawiranegara akhirnya meninggalkan dunia pada 15 Februari 1989 di Jakarta.
Ia tidak meninggalkan kisah tentang kemewahan seorang pejabat.
Ia meninggalkan sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: teladan bahwa seseorang bisa berdiri di pusat kekuasaan dan keuangan negara tanpa merasa memiliki apa yang sebenarnya bukan miliknya. ***

