POJOKSATU.ID- Surat murka istri Soekarno tuduh dalang G30S PKI saat berada dalam pengasingannya di Paris, Ratna Sari Dewi istri ke-6 Soekarno menulis surat terbuka yang ditujukan kepada Soeharto
Dalam surat itu Ratna Sari Dewi, menyebut Soeharto lah sebagai dalang skenario G30S yang membantai jenderal-jenderal untuk menggulingkan kepemimpinan Soekarno dan menyalahkan PKI.
Ratna juga menyoroti pemberitaan palsu dari Soeharto yang membuatnya merasa terpanggil untuk mengungkap kebenaran.
Baca Juga: Pra Musrenbang RKPD 2025 Zona Dataran Tinggi Membahas Empat Prioritas Pembangunan Daerah di Sumut
Ia mempertanyakan keterlibatan Jenderal AH Nasution dalam peristiwa tersebut dan menyebut Soeharto sebagai dalang yang kejam.
Dengan tajam Ratna Sari Dewi istri menyatakan bahwa meskipun Soeharto dapat menghancurkan jasmani, meskipun demikian Soekarno tetap semangat dan jiwa Soekarno dalam membela keadilan dan kebenaran tidak akan pernah mati.
Di mana Soeharto?
Pertanyaan ini selalu muncul setiap kali membahas G30S mengapa Soeharto tidak masuk dalam daftar jenderal yang harus diculik.
Baca Juga: PJ Ketua TP PKK Sumut Ajak Masyarakat Sergai Manfaatkan Posyandu sebagai Layanan Kesehatan
Dalam sumber yang berbeda, menurut Mantan Komandan Garnisun Kodam Jaya Kolonel Abdul Latief yang ikut terlibat dalam penculikan jenderal mengatakan di Mahkamah Militer alasan dia dan pasukannya tidak memasukan nama Soeharto untuk diculik.
“Kami menganggap Jenderal Soeharto adalah loyalis Bung Karno, maka, tidak kami jadikan sasaran” kata Latief seperti dikutip dari buku Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan dan Petualang tahun 2010 halaman 301.
Latief mengaku sempat melapor ke Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) bahwa bakal ada upaya kudeta yang dilakukan oleh dewan jenderal untuk menumbangkan Soekarno.
Namun, Latif mengatakan saat itu Soeharto hanya bergeming dan tidak melakukan apapun. Bahkan, kata Latief, pada malam 30 September 1965, Soeharto memilih mengabaikan Latief yang ingin menyampaikan rencana untuk menggagalkan kudeta.
Baca Juga: Bocoran Hasil Pembahasan PP Manajemen ASN 16 Januari 2024, PNS dan PPPK Leha-leha Minggir!
Adapun Soeharto mengakui bahwa dia sempat bertemu dengan Latief menjelang peristiwa G30S, namun kesaksiannya soal bertemu Latief cenderung berubah-ubah.
Soeharto mengaku hanya melihat Latief dari kejauhan dan tak sempat berinteraksi. Lain halnya dalam wawancara dengan Der Spiegel pada 19 Juni 1970, Soeharto mengaku ditemui Latief di RSPAD Gatot Subroto pada malam 30 September 1965.
Singkatnya, sampailah hari saat Soeharto sukses menumpas PKI. Setidaknya sebanyak 500 ribu orang yang dituduh sebagai simpatisan PKI dihabisi di berbagai penjuru Tanah Air. Melihat kejadian tersebut, Latief pun merasa dikhianati oleh Soeharto.
Jadi, lanjut Latief, siapa yang sebenarnya telah mengakibatkan terbunuhnya para jenderal tersebut, dirinya yang telah memberi laporan lebih dulu kepada Jenderal Soeharto, Atau justru Jenderal Soeharto, yang sudah menerima laporan tetapi tidak berbuat apa-apa.
Baca Juga: Daftar Caleg Partai NasDem DPRD Kabupaten Kuningan Lengkap Nomor Urut dan Dapilnya
"Nyatanya, sama sekali tidak pernah ada langkah-langkah untuk menambah penjagaan. Sebaliknya, setelah Peristiwa G30S meletus, selain menghantam G30S dan juga membantai ribuan rakyat yang sama sekali tidak tahu apa-apa, mereka bertiga (Soeharto, Umar Wirahadikusumah, dan Basuki Rachmat) malahan bersama-sama menggulingkan pemerintahan Presiden Soekarno," kata Latief ***
