POJOKSATU.id – Di balik heroiknya Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, terdapat sosok perempuan yang memiliki peran besar menjaga semangat perjuangan melalui urusan yang sering luput dari perhatian, yakni penyediaan makanan bagi para pejuang.
Ia adalah Dariyah Soerodikoesoemo atau yang lebih dikenal sebagai Bu Dar Mortir.
Namanya dikenang sebagai pelopor dapur umum yang memastikan para pejuang, relawan, hingga masyarakat tetap memperoleh makanan di tengah berkecamuknya perang.
Semangat Bu Dar dalam menjaga ketahanan pangan para pejuang dinilai masih relevan hingga saat ini, termasuk menjadi pengingat bahwa keberhasilan sebuah perjuangan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan di garis depan, tetapi juga oleh sistem penyediaan makanan yang terorganisasi dengan baik.
Nilai tersebut sejalan dengan semangat yang diusung Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yakni memastikan kebutuhan pangan menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia.
Perintis Dapur Umum Pertempuran Surabaya
Pemerhati sejarah dari Begandring Soerabaia, Achmad Zaki Yamani, menjelaskan Bu Dar merupakan tokoh yang menggagas pembentukan dapur umum bagi para pejuang pada masa Revolusi Kemerdekaan.
Menurutnya, keberadaan dapur umum menjadi faktor penting dalam mempertahankan daya juang pasukan.
"Beliau yang punya inisiatif membuat dapur umum. Orang perang kan butuh makan. Ada istilah, logistik mungkin tidak memenangkan perang, tetapi tanpa logistik perang tidak akan dimenangkan," ujar Zaki.
Prinsip tersebut masih relevan hingga sekarang. Dalam kondisi apa pun, mulai dari perang, bencana, hingga pembangunan nasional, ketersediaan pangan menjadi fondasi utama agar aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan baik.
Menukar Emas 100 Gram demi Membeli Bahan Makanan
Pengorbanan Bu Dar tidak berhenti pada gagasan mendirikan dapur umum.
Ketika para pejuang melakukan gerakan mundur dari Surabaya menuju Jombang pada 1945, Bu Dar rela melepas kalung dan gelang emas miliknya dengan total berat sekitar 100 gram.
Perhiasan tersebut ditukarkan dengan beras dan berbagai bahan makanan untuk memasok kebutuhan dapur umum.
Bahan pangan itu kemudian diolah menjadi makanan bagi pejuang, warga sipil, serta relawan yang mempertahankan Surabaya dari serangan pasukan Sekutu.
Baca Juga: Kemensos Sampaikan Cara Cepat Klaim Kartu Penyandang Disabilitas Cuma Lewat Ponsel
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa bagi Bu Dar, mempertahankan semangat perjuangan lebih penting daripada mempertahankan harta benda pribadi.
Dapur Umum Beroperasi 24 Jam
Setelah Surabaya jatuh ke tangan Inggris, peran Bu Dar justru semakin besar.
Ia dipercaya mengoordinasikan dapur umum pertahanan COPP VI di bawah pimpinan Letkol Latif Hadiningrat.
Bu Dar juga kerap memasuki wilayah yang telah dikuasai musuh dengan menyamar sebagai pedagang untuk memperoleh kebutuhan logistik bagi Tentara Nasional Indonesia.
Baca Juga: Bisa Lewat HP! Begini Cara Mudah Klaim dan Cek Status Kartu Penyandang Disabilitas Virtual Kemensos
Menurut Zaki, dapur umum yang dipimpin Bu Dar tidak pernah berhenti beroperasi.
Selama 24 jam, para relawan memasak dan membungkus makanan untuk didistribusikan kepada pejuang di berbagai titik pertempuran.
Bahkan dalam berbagai catatan sejarah Tentara Pelajar disebutkan, banyak pejuang yang baru sempat makan setelah pertempuran selesai, sehingga nasi yang mulai dingin bahkan hampir basi pun tetap disantap karena rasa lapar.
Mengoordinasikan Puluhan Dapur Umum
Peran Bu Dar ternyata jauh lebih besar daripada sekadar memasak.
Baca Juga: Update Harga BBM Per 1 Agustus 2026: Sejumlah Jenis BBM Non-Subsidi Mengalami Penurunan Harga
Ia disebut mengoordinasikan sedikitnya lebih dari 50 dapur umum yang tersebar di wilayah Surabaya Raya.
Ratusan hingga ribuan relawan perempuan bergabung dalam jaringan tersebut.
Bu Dar mengatur pembagian tugas mulai dari pengadaan bahan makanan, proses memasak, pembungkusan, hingga distribusi makanan ke garis depan.
Karena kemampuannya mengelola logistik perang, ia dijuluki sebagai combat cook, atau komandan dapur umum bagi para pejuang.
Disiplin demi Makanan Tetap Layak Konsumsi
Bu Dar dikenal sebagai sosok yang tegas. Ia tidak segan menegur para relawan yang bekerja lambat.
Menurut Zaki, Bu Dar memiliki kebiasaan mengulum susur atau tembakau. Jika ada anggota tim yang dinilai kurang sigap, susur tersebut kadang dilemparkan sebagai bentuk teguran agar pekerjaan segera diselesaikan.
Di balik sikap tegas itu, Bu Dar sangat memperhatikan kualitas makanan.
Baca Juga: Alih Kekuasaan
Ia memastikan nasi bungkus segera didistribusikan agar tidak basi ketika diterima para pejuang yang berada di garis depan.
Bukan Hanya Memasak, tetapi Juga Mengurus Pos Kesehatan
Selain mengelola dapur umum, Bu Dar juga berperan mengorganisasi sejumlah pos Palang Merah.
Di tempat tersebut, para relawan memberikan pertolongan pertama kepada pejuang yang mengalami luka akibat pertempuran.
Peran ganda sebagai pengelola logistik pangan sekaligus pendukung layanan kesehatan membuat kontribusi Bu Dar menjadi salah satu unsur penting dalam mempertahankan semangat perjuangan rakyat Surabaya.***

