POJOKSATU.ID - Sosok Jenderal Ali Moertopo, semulai jenderal kesayangan Presiden Soeharto namun seiring berjalannya waktu malah dianggap sebagai ancaman bagi penguasa Orde Baru itu.
Jenderal Ali Moertopo saat ini memang kurang banyak dibicarakan, namun pada masa kejayaannya, ia adalah sosok yang sangat diperhitungkan.
Ali Moertopo dianggap sebagai ahli intelijen yang menjadi mata dan telinga Soeharto.
Ia banyak mendapat kepercayaan demi keberlanjutan stabilitas politik pada awal pemerintahan Orde Baru.
Setiap orang yang berencana mengganggu kekuasaan Soeharto akan ditindak oleh Ali Moertopo.
Selain itu, Ali Murtopo juga dikenal sebagai sosok yang memberi saran kepada Presiden Soeharto untuk menyederhanakan jumlah partai politik di Indonesia.
Baca Juga: Kalimantan Tengah Sudah Pengumuman Penempatan PPPK Guru 2023, Begini Cara Ceknya
Menurutnya, jumlah partai yang sedikit akan lebih mudah diatur dan diawasi.
Gagasan ini pun diimplementasikan pada tahun 1973 dengan mengurangi jumlah partai menjadi hanya dua, dengan satu golongan karya.
Seperti diketahui, Soeharto adalah presiden kedua Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun pada masa Orde Baru.
Baca Juga: Perayaan Imlek Sebelum era Gus Dur, Sepi dan Sembunyi-sembunyi
Pada masa kepemimpinannya, Soeharto dikenal dengan sosok yang tegas dan otoriter.
Latar belakang kepemimpinan Soeharto dimulai dari karirnya di dunia militer, di mana ia mencapai posisi Letnan Jenderal TNI sebelum akhirnya menggantikan Soekarno sebagai Presiden pada tahun 1967.
Soeharto naik ke tampuk kekuasaan dalam konteks ketidakstabilan politik dan ekonomi yang melanda Indonesia pasca-Gerakan 30 September (G30S) pada tahun 1965.
Dilansir dari kanal YouTube Pojok History, di balik kepemimpinan Soeharto kala itu ada seorang jenderal yang menjadi mata dan telinga Soeharto era orde baru yaitu Ali Moertopo.
“Ia diakui sebagai ahli intelijen yang menjadi mata dan telinga Soeharto, serta pihak yang bertanggung jawab atas keberlanjutan stabilitas politik pada awal orde baru,” bunyi narasi dalam unggahan Pojok Hostory, dikutip Pojoksatu.id, Kamis 18 Januari 2024.
Diketahui Ali Moertopo lahir di Blora, Jawa Tengah, pada tanggal 23 September 1924 dan meninggal di Jakarta pada tanggal 15 Mei 1984.
Ali Moertopo mengawali kariernya sebagai tentara, bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tahun 1945.
Pada tahun 1950-an, ia ditugaskan di Kodam Diponegoro. Awalnya, ia adalah bagian dari pasukan Banteng Raider.
Pasukan ini merupakan sebuah pasukan khusus untuk menumpas pemberontakan Darul Islam.
Ali Moertopo juga dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan penting dalam pembentukan Golkar, partai politik yang menjadi pendukung utama pemerintahan Soeharto.
Baca Juga: Mengenal Anak Soekarno Paling Misterius yang Jarang Terekspos
Ali Moertopo merupakan salah satu jenderal kesayangan soeharto yang ahli strategi dan intelijen. Pada Zaman orde baru ia menduduki sejumlah jabatan strategis.
Mulai Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara, Deputi Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara sampai Menteri Penerangan.
Dengan kompetensinya sebagai ahli intelijen, Ali Moertopo berperan dalam melakukan modernisasi badan intelijen negara setelah kejadian tragis pada tahun 1965.
Pada tahun 1971, ia juga ikut mendirikan CSIS atau Center of Strategic and International Studies.
Penelitian yang dilakukan oleh CSIS mencakup isu-isu dunia internasional dan menjadi referensi bagi kalangan akademisi yang ingin menganalisis kebijakan pemerintahan masa Presiden Soekarno.
Dianggap Ancaman Penguasa Orde Baru
Memang di awal kekuasaan Soeharto, Jenderal Ali Moertopo menjadi mata, telinga dan kaki tangan Soeharto.
Ia juga membantu Soeharto dan Golkar mengamankan kekuasaan.
Namun Soeharto menyadari bahwa membiarkan Ali Moertopo bergerak bebas dengan operasi khusus memiliki risiko yang tinggi dan berbahaya.
Baca Juga: Mengenal Mbah Muqoyyim, Pendiri Pondok Pesantren Buntet Cirebon yang Ditakuti Belanda
Opsus yang dimiliki oleh Ali Moertopo kemudian dibatasi dan wewenangnya dikurangi.
Presiden Soeharto kemudian menemukan pengganti Ali Moertopo yang dianggap lebih baik dan lebih dapat diandalkan, yaitu Benny Moerdani atau yang dikenal dengan LB Moerdani.
Sejak kemunculan LB Moerdani, karier Ali Moertopo perlahan meredup dan ia tidak pernah lagi menduduki jabatan strategis hingga masa pemerintahan Soeharto berakhir.***
