POJOKSATU.id - Ketika gelombang reformasi yang dipelopori mahasiswa dan pra pegiat demokrasi menjatuhkan Soeharto dari kekuasaannya selama 32 tahun, memiliki ragam peristiwa di tanah Indonesia Timur.
Pada masa itu, ribuan jiwa menjadi korban di Timor Leste dan Papua, selama Soeharto berkuasa. Kekerasan dan penindasan tak terlupakan, namun ada pula yang mengenang sisi positifnya yang bukan sekedar pembangunan semata.
Menoleh ke belakang, orang memandang Soeharto dengan cara yang berbeda. Sebagian menganggapnya sebagai koruptor dan penindas yang seharusnya diadili sebelum meninggal.
Namun ternyata banyak juga yang memandang Soeharto dengan hormat dan menganggapnya sebagai tokoh yang berjasa.
Timor Leste dan Papua adalah dua kawasan yang akan selalu melihat Soeharto dengan pandangan khusus.
Di Timor Leste, Soeharto akan selalu dikenang sebagai tokoh yang pada tahun 1975 mengambil keputusan untuk mengerahkan tentara Indonesia melintasi perbatasan.
Serta menduduki negeri itu dan menyatukannya bersama Indonesia dengan kemasan integrasi melalui Deklarasi Balibo.
Baca Juga: Hanya Daftarkan 4 caleg, Berikut Daftar Caleg DPRD Kabupaten Kuningan 2024 dari PSI
Pemerintah Soeharto pun menjalankan apa yang dibanggakan sebagai pembangunan besar-besaran di berbagai bidang di sana, namun sebagian dengan jalan kekerasan.
Sebelum akhirnya Timor Timur merdeka melalui referedum akhir tahun 1999, dan menjadi Timor Leste. Sementara di Papua, Suharto dikenang dengan kebijakan tangan besinya dalam memadamkan gerakan kemerdekaan.
Siapa nyana, ada juga orang-orang, bahkan tokoh-tokoh penting dari wilayah-wilayah itu yang melihat sisi baik Soeharto.
Salah satunya adalah pengakuan yang disampaikan peraih Nobel Perdamaian tahun 1996 dan mantan Administrator Apostolik Dioses Dili, Uskup Carlos Filipe Ximines Belo.
Baca Juga: Pj Gubernur Jabar: SDM Harus Sehat dan Cerdas
Dikatakannya, orang Timor Leste tidak akan pernah melupakan jasa besar Soeharto dalam membangun Timtim di segala bidang kehidupan.
Menurut Uskup Belo, meskipun banyak masalah di Timor Timur, tetapi Soeharto memandang semua dengan arif dan bijaksana.
"Beliau adalah Bapak Pembangunan dan itu benar adanya," kata Uskup Belo.
Uskup Belo pertama kali bertemu dengan Soeharto dan istrinya Ibu Tien saat datang ke Dili untuk meresmikan Gereja Katedral Dili.
Baca Juga: Maruarar Sirait Mundur dari PDIP, Taruna Merah Putih Jabar Tetap Dukung Ganjar-Mahfud
Pertemuan kedua, ketika Presiden Soeharto meresmikan Patung Kristus di Fatucama, Dili Timur. Dan perjumpaan ketiga di kediaman Soeharto yang berada di Jalan Cendana jakarta Pusat.
Uskup Belo juga menambahkan, sebagai manusia, Pak Harto adalah sosok yang simpatik. Sebagai negarawan, beliau telah memimpin Republik Indonesia secara disiplin.
Mungkin kekeliruan-kekeliruan yang terjadi pada rezim Orde Baru, itu adalah akibat dari tindakan oknum oknum yang belum memahami secara mendalam prinsip- prinsip Pancasila itu sendiri. Biarlah sejarah akan membuktikan semuanya itu
Selain itu, Jose Ramos Horta, pemenang nobel perdamaian dan mantan Presiden Timor Lesta mengatakan, kendati ia menyebut Soeharto seagai diktator, tetapi presiden kedua Indonesia itu merupakan jenis yang berbeda.
Baca Juga: Bukti Bahasa Melayu sebagai Bahasa Diplomasi Raja Inggris dengan Sultan Aceh sejak 1915
Menurut dia, Suharto adalah diktator yang sukses mengantarkan Indonesia menjadi negara dengan perekonomian yang menjanjikan.
Horta menambahkan, meski banyak jatuh korban semasa pemerintahannya, tetapi Soeharto harus dilihat secara seimbang.
Salah satu yang dicatat Ramos Horta adalah, pemerintahan Suharto mengirim begitu banyak mahasiswa untuk menimba ilmu di luar negeri.
Baca Juga: Hamida di Lampung Tunjukkan Kesiapannya Satu Garis Komando Menangkan PPP
Menurut Horta, selain gerakan demokrasi warga sipil Indonesia yang kuat yang berpuncak pada Mei 1998, berbagai faktor seperti korupsi dan kesalahan pengelolaan ekonomi seiring dengan legitimasinya yang menurun, berkombinasi menjadi faktor kejatuhan Soeharto.
Sementara itu, Papua yang merupakan wilayah Timur Indonesia ini, memandang Soeharto tidak dengan kenangan manis.
Pertama, karena Soeharto merupakan pemimpin Komando Mandala dalam Operasi Trikora, sebuah operasi militer yang dilancarkan pada tahun 1962 atas perintah Presiden Soekarno pada watu itu, untuk menyatuan Papua dengan Indonesia.
Koordinator Monitoring dan Investigasi Elsham Papua, Daniel Randongkir mengatakan, salah satu peninggalan Suharto yang membekaskan horor bagi rakyat Papua adalah kekerasan selama Papua ditetapkan sebagai Daerah Operasi militer atau DOM.
Tidak ada catatan pasti berapa banyak korban persis yang jatuh di Papua saat DOM diberlaukan di Papua, yang braktis bermula sejak tentara Indonesia masuk tahun 1960an, dan dicabut pada 1998, seiring jatuhnya Soeharto. ***

