POJOKSATU.ID - Budaya bukanlah suatu hal statis. Ia bergerak dan berubah sesuai dengan zaman, teknologi, dan dinamika sosial.

Diantara beragam jenis budaya yang ada, muncullah subkultur, skena, dan underground, seluruhnya merupakan bentuk dari kreativitas dan resistensi dalam masyarakat yang lebih besar.

Pojoksatu mengajak Anda menyelami bagaimana istilah-istilah ini muncul dan mengapa mereka terus relevan hingga hari ini.

Istilah skena (dalam pemahaman populer anak muda saat ini) sering dipakai untuk menyebut komunitas yang berbagi selera musik, gaya hidup, fesyen, atau cara berpikir layaknya satu “tongkrongan”.

Baca Juga: Home Spa Alami Budget Murah, Kulit Glowing Pikiran Rileks, Ini Dia Tutorial Lengkap Relaksasi dan Perawatan Kulit di Rumah

Sumber Ultimagz menyebutkan bahwa meskipun istilah ini sempat viral di media sosial dalam beberapa tahun terakhir, kenyataannya skena sudah ada sejak awal tahun 2000-an.

Menurut artikel tersebut, istilah ini dipadukan dari tiga kata: sua, cengkerama, dan kelana, yang menekankan unsur kebersamaan dan perjalanan bersama dalam ruang musikal dan sosial.

Sebelum kita masuk ke bagaimana skena tumbuh, mari kita pahami dulu konsep subkultur. Medium oleh Fachri Anoegrah menyebut bahwa subkultur adalah kelompok kecil dalam masyarakat yang memilih nilai-nilai atau gaya hidup berbeda dari budaya mayoritas.

Mereka mungkin memakai pakaian yang mencolok, berbicara dengan jargon sendiri, atau memilih musik yang tidak diputar di radio komersial.

Baca Juga: Sekolah Rakyat Prabowo: Janji Pendidikan Berkeadilan untuk Anak Miskin

Subkultur hadir sebagai respon terhadap dominasi budaya populer, sebagai ruang berlindung bagi identitas yang ingin dianggap berbeda.

Dunia underground seringkali menjadi saudara dari skena dan subkultur. Bila subkultur bisa memiliki beberapa interaksi dengan budaya populer, underground biasanya tetap berada di luar sorotan umum.

Musik underground, film indie, seni rupa yang eksperimental, apapun itu semuanya dikembangkan dengan pendekatan DIY (Do It Yourself). UX komunitas ini sering merayakan kreativitas tanpa batas, bahkan ketika fasilitas atau dukungan institusi minim.

Baca Juga: Bukan Kekenyangan, Kasus 8 Siswa di Pegantenan Pamekasan Muntah-muntah usai Konsumsi MBG

Penelitian mendukung kenyataan bahwa kelompok-kecil budaya seperti ini mempunyai peran penting dalam perkembangan kreativitas dan inovasi sosial.

Sebuah studi dari Departemen Ilmu Sosial di Universitas Gadjah Mada tahun 2022 menemukan bahwa komunitas musik indie dan punk di kota-kota seperti Yogyakarta dan Bandung tak hanya memproduksi musik, tetapi juga menjadi pusat jaringan sosial dan percakapan budaya alternatif.

Mereka menyediakan ruang bagi anggota yang merasa tidak cocok dengan norma mayoritas. (Penelitian UGM, 2022).

Sejarah menunjukkan bahwa istilah scene dalam bahasa Inggris atau Skena dalam bahasa Indonesia sudah digunakan sejak dekade 1970-an dan 1980-an di Barat, terutama dalam konteks musik punk, hardcore, dan artis eksperimental.

Baca Juga: Boyamin Kuasa Hukum Keluarga Kacab BRI Cempaka Putih Kesal Polda Metro Hanya Terapkan Pasal Penculikan

Di Indonesia sendiri, sejak tahun 80-90an sudah ada band-band rock dan metal yang menjadi cikal bakal munculnya skena-skene lokal. Ultimagz menyebut beberapa kelompok band rock seperti Roxx, Adaptor, Mortus, dan Rotor sebagai bagian dari akar skena rock di Indonesia awalnya.

Namun, ketika subkultur dan skena menjadi populer, muncul pula tantangan.

Komersialisasi adalah salah satunya. Banyak elemen esensial dalam skena seperti: autentisitas, keinginan untuk berbeda, atau dialog di antara anggota mulai tergerus ketika mode, musik, atau gaya skena diambil oleh industri besar dan menjadi “tren”.

Baca Juga: 10 Short Course Terpopuler di Indonesia 2025, Cek Biaya, Manfaat, dan Rekomendasi Tempat Belajar

Fachri Anoegrah menulis bahwa internet juga mempercepat proses peleburuan ini, membuat subkultur yang dulu terasa eksklusif menjadi objek konsumsi massal.

Selain itu, stigma sosial juga sering membayanginya. Label “poser” digunakan untuk mereka yang dianggap ikut-ikutan tanpa memahami akar dan nilai skena.

Ada pula anggapan negatif bahwa skena adalah “tradisi geng”, sebuah kelompok yang memisahkan diri dan terkadang menolak dialog dengan selera berbeda.

Baca Juga: Di Tanah 10 Hektar Majalengka, Sekolah Rakyat Berasrama Disiapkan untuk Anak-Anak Miskin

Ada istilah untuk ini, “polisi skena”, dapat didefinisikan sebagai orang yang menjaga “kemurnian” skena. Mereka sering dianggap otoriter dalam komunitas musik.

Meski begitu, banyak yang melihat skena sebagai ruang kebebasan berekspresi dan identitas. Anak-anak muda yang merasa tidak cocok dengan norma umum sering menemukan teman, pengakuan, dan kreativitas di dalamnya.

Subkultur dan underground memungkinkan terciptanya karya-karya baru yang lebih jujur, lebih pribadi, dan seringkali berdampak sosial.

Baca Juga: Nonton Timnas Sekaligus Umroh dan Liburan? Cek Paket Spesial Ini!

Di era digital yang semakin dominan, skena dan underground pun berubah bentuk.

Mereka tidak selalu memerlukan ruang fisik; internet, media sosial, platform streaming memberikan ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri.

Namun, tantangan tetap: bagaimana menjaga keaslian, bagaimana melindungi makna budaya dari peluruhan akibat komersialisasi dan viralitas.

Baca Juga: 200 Sekolah Rakyat Berasrama Segera Dibangun, Prabowo: Anak Miskin Harus Punya Masa Depan

Skena, subkultur, dan underground bukan sekadar istilah keren untuk tongkrongan anak muda. Mereka adalah cerminan kebutuhan manusia akan komunitas, identitas, kreativitas, dan keberanian untuk berbeda.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami:

Versi Android
Versi iOS
Channel Whatsapp
Fanpage Edugov

Menjaga agar ruang-ruang itu tetap hidup, otentik, dan inklusif adalah tantangan kita bersama.***