POJOKSATU.id - Di Kauman, Yogyakarta, pada 23 Mei 1923, lahir seorang perempuan yang kelak menorehkan namanya dalam sejarah pendidikan tinggi Indonesia.

Ia adalah Prof. Hj. Siti Baroroh Baried, perempuan yang sejak muda memegang satu keyakinan sederhana tetapi kuat: “Hidup saya harus menuntut ilmu.”

Siti Baroroh tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan gerakan pembaruan Islam. Ayahnya, H. Tamim bin Dja’far, merupakan keponakan Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan, salah satu tokoh penting dalam sejarah ‘Aisyiyah.

Dari lingkungan itulah semangat pendidikan tumbuh dalam dirinya. Ia tidak sekadar belajar untuk memperoleh gelar, tetapi menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian.

Baca Juga: DPRD Kota Bandung Kebut Raperda Proyek Rp477,95 Miliar, RSUD Ujungberung Ditarget Rampung 2029

Semangat tersebut membawanya menempuh pendidikan hingga ke Universitas Al Azhar, Mesir. Sepulangnya ke Indonesia, Siti Baroroh kemudian mengabdikan dirinya di dunia akademik sekaligus organisasi.

Pada 27 Oktober 1964, ketika usianya baru 39 tahun, ia diangkat sebagai Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pengangkatan itu menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Indonesia karena Siti Baroroh dikenal sebagai guru besar perempuan pertama, sekaligus salah satu profesor perempuan pertama di Indonesia.

Namun, ruang perjuangannya tidak berhenti di kampus.

Baca Juga: Soal Tunjangan DPRD, Bupati Cirebon Diminta Tak Asal Teken APBD 2027

Siti Baroroh juga menjadi bagian penting dalam perjalanan ‘Aisyiyah. Sebelum dipercaya menjadi ketua umum, ia pernah menjabat sebagai Ketua Biro Hubungan Luar Negeri ‘Aisyiyah. Pada 1965, ia kemudian dipercaya memimpin Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Selama lima periode berturut-turut hingga 1981, Siti Baroroh berada di pucuk kepemimpinan organisasi perempuan Muhammadiyah tersebut.

Masa kepemimpinannya menjadi salah satu periode penting ketika ‘Aisyiyah semakin dikenal hingga ke luar Indonesia.

Ia membawa nama ‘Aisyiyah ke berbagai forum internasional dan membangun hubungan dengan sejumlah lembaga dunia, termasuk UNICEF, UNESCO, WHO, The Asia Foundation, World Conference of Religions for Peace, UNFPA, UNDP, dan World Bank.

Baca Juga: Husein Djajadiningrat, Doktor dan Guru Besar Pertama di Indonesia yang Membuka Jalan bagi Kaum Pribumi

Jaringan internasional itu tidak dibangunnya sekadar untuk memperkenalkan organisasi.

Siti Baroroh ingin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia memiliki kemampuan untuk berbicara dalam forum dunia dan ikut menentukan arah perubahan masyarakat.

Salah satu kesempatan itu datang ketika ia diundang dalam seminar di Harvard University, Amerika Serikat. Dalam forum tersebut, ia menyampaikan materi berjudul ‘Aisyiyah and The Social Change Woman of The Indonesian.

Dari kiprahnya itu, ‘Aisyiyah semakin menarik perhatian peneliti dan akademisi dari berbagai negara.

Organisasi yang lahir pada 19 Mei 1917 tersebut tidak lagi hanya dikenal sebagai gerakan perempuan di Indonesia, tetapi juga menjadi bahan kajian mengenai pendidikan, perubahan sosial dan pemberdayaan perempuan.

Baca Juga: Dian Damayanti Klarifikasi Paper MBG untuk Nobel, Kemdiktisaintek Sebut Belum Guru Besar dan Bukan Dosen

Bagi Siti Baroroh, pendidikan perempuan adalah bagian penting dari perubahan itu.

Ia percaya perempuan berhak memperoleh pendidikan untuk meningkatkan harkat dan martabatnya.

Pendidikan, menurut pandangannya, harus dimulai sejak usia dini agar perempuan memiliki kesempatan yang lebih besar untuk berkembang.

Gagasan tersebut kemudian meninggalkan warisan yang panjang. Melalui berbagai amal usahanya, ‘Aisyiyah kini mengelola ribuan lembaga pendidikan, mulai dari tempat penitipan anak, kelompok bermain dan pendidikan anak usia dini hingga sekolah serta perguruan tinggi.

Perjuangan itu tidak hanya menyentuh pendidikan. ‘Aisyiyah juga berkembang melalui amal usaha di bidang kesehatan, sosial, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.

Baca Juga: Soal TKA SMK 2026 Pusmendik, Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam Lengkap K3LH, SMAW hingga Pemeriksaan Hasil Las

Siti Baroroh ingin perempuan memiliki kesempatan pendidikan yang setara, bahkan mampu melampaui laki-laki dalam bidang yang ditekuninya.

Ia juga mendukung perempuan untuk membangun karier dan berkiprah di ruang publik.

Namun, ia memiliki pandangan sendiri mengenai emansipasi. Baginya, kemajuan perempuan bukan berarti harus kehilangan nilai dan identitasnya.

Perempuan dapat mengembangkan ilmu, membangun karier dan berperan di tengah masyarakat, sembari tetap memegang nilai-nilai yang diyakininya.

Begitulah Siti Baroroh menjalani hidupnya: ilmu di satu tangan, pengabdian di tangan yang lain.

Baca Juga: Mimpi Ikhsan Jadi Nyata, Bocah SD Ini Akhirnya Bertemu Bupati Karawang di Peresmian Jembatan Garuda

Ia tetap aktif di ‘Aisyiyah hingga akhir hayat. Ketika meninggal dunia pada 9 Mei 1999 dalam usia 74 tahun, ia masih dipercaya sebagai penasihat Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah sekaligus Pemimpin Umum Majalah Suara ‘Aisyiyah.

Jejaknya tidak berhenti ketika ia berpulang.

Dari ruang kuliah hingga forum internasional, dari pendidikan anak-anak hingga perjuangan perempuan, Siti Baroroh telah menunjukkan bahwa seorang perempuan dapat berdiri di tengah dunia ilmu sekaligus mengabdikan pengetahuannya untuk masyarakat.

Semboyannya, “Hidup saya harus menuntut ilmu,” akhirnya bukan sekadar kalimat yang ia ucapkan ketika muda. Kalimat itu menjadi jalan hidup yang membawanya menjadi profesor perempuan pertama Indonesia sekaligus salah satu tokoh yang memperluas langkah ‘Aisyiyah dari Kauman hingga ke panggung dunia. ***