POJOKSATU.id - Pada 19 September 1965 di Surabaya, terjadi peristiwa perobekan bendera Belanda di atap Hotel Yamato oleh dua pemuda, Kusno Wibowo dan Hariyono.
Hotel Yamato yang berada di Jl. Tunjungan, Surabaya, kala itu menjadi markas RAPWI, organ Sekutu yang mengurus tahanan warga Eropa. Insiden ini bermula ketika sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. Ploegman mengibarkan bendera Belanda di puncak hotel.
Tindakan ini langsung memicu kemarahan warga Surabaya karena dianggap melecehkan kedaulatan Indonesia yang telah merdeka.
Residen Surabaya saat itu, Soedirman, segera datang untuk menegur. Ia mengingatkan Ploegman bahwa pengibaran bendera asing harus mendapat izin pemerintah Indonesia. Soedirman meminta agar bendera Belanda diturunkan.
Namun, Ploegman menolak dengan alasan Sekutu telah menang atas Jepang, sehingga Belanda berhak menduduki kembali Indonesia. Tidak hanya itu, Ploegman bahkan mengancam Soedirman dengan revolver, yang akhirnya membuat situasi semakin panas.
Melihat ketegangan ini, Sidik, salah satu pemuda yang mendampingi Soedirman, menendang revolver Ploegman hingga terjatuh, menimbulkan suara letusan yang terdengar hingga luar hotel.
Peristiwa itu memicu kekisruhan, di mana Sidik berduel dengan Ploegman hingga akhirnya menewaskan pria Belanda tersebut. Sayangnya, Sidik juga tewas setelah dikeroyok pasukan Belanda.
Di tengah kericuhan, pemuda Kusno Wibowo merayap ke atap hotel untuk menurunkan bendera Belanda.
Ia dibantu seorang pemuda lainnya. Bersama-sama, mereka menurunkan bendera dan merobek warna biru pada bendera Belanda tersebut, sehingga yang tersisa adalah merah dan putih—melambangkan bendera Indonesia. Tindakan heroik ini disambut sorak-sorai massa yang berkumpul di sekitar Hotel Yamato.
Versi lain menyebut bahwa pemuda yang membantu Kusno adalah Hariyono. Sementara itu, Kusno Wibowo sendiri dalam suratnya kepada Dewan Harian 45 Pusat pada 1980 mengingat bahwa yang membantunya adalah Abdul Aziz, bukan Hariyono.
Namun, berdasarkan penelitian Dewan Harian Daerah Angkatan 45 Jawa Timur, Kusno dan Hariyono diakui sebagai tokoh utama yang merobek bendera tersebut.
Tokoh yang terlibat dalam Insiden Hotel Yamato
1. Ploegman: Ploegman adalah tokoh Belanda yang mengibarkan bendera Belanda tanpa izin di Hotel Yamato. Aksinya memicu perlawanan pemuda Indonesia yang merasa kedaulatan negara terancam.
Baca Juga: DOWNLOAD Logo dan Pedoman Peringatan HARI PAHLAWAN 2024, Panduan Penggunaan dan Makna, Link Lengkap
2. Residen Soedirman: Soedirman mewakili Pemerintah Indonesia dalam negosiasi untuk meminta penurunan bendera. Meski berusaha damai, ia terpaksa mundur setelah diancam oleh Ploegman.
3. Hariyono: Hariyono adalah bawahan Soedirman yang juga ikut merayap ke atap hotel untuk merobek bendera, bersama Kusno.
4. Kusno Wibowo: Kusno bersama Hariyono atau Abdul Aziz (versi Kusno) adalah tokoh yang berhasil merobek warna biru dari bendera Belanda, mengubahnya menjadi merah putih.
5. Sidik: Sidik adalah pemuda yang menendang revolver Ploegman dan kemudian berduel dengan pasukan Belanda. Sayangnya, ia gugur dalam insiden tersebut.
Para pemuda dalam peristiwa Hotel Yamato menunjukkan keberanian luar biasa dalam mempertahankan martabat bangsa. Perjuangan mereka melawan provokasi Belanda menjadi simbol patriotisme yang harus terus dikenang. ***
#Ikuti aplikasi berita [Pojok Satu] di Play Store dan App Store: [Android] dan [iOS] untuk mendapatkan informasi terbaru.

