POJOKSATU.id - Bagi umat Islam, sajadah merupakan perlengkapan yang sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Hampir di setiap rumah Muslim, masjid, maupun musala, sajadah selalu tersedia sebagai alas untuk melaksanakan salat.

Namun sebenarnya, sajadah bukanlah sesuatu yang wajib dalam ibadah salat.

Kehadirannya lebih berfungsi sebagai alat bantu agar tempat sujud tetap bersih dan suci dari kotoran atau najis.

Baca Juga: Viral Info Pembagian THR Ojol di Cibubur, Ternyata Hoaks, Aparat Buru Penyebar Pesan

Di balik fungsinya yang sederhana, sajadah ternyata memiliki sejarah panjang yang berkaitan dengan perkembangan praktik ibadah umat Islam sejak masa awal.

Awal Penggunaan Sajadah
Pada masa Nabi Muhammad SAW, umat Islam melaksanakan salat dengan sangat sederhana. Rasulullah dan para sahabat sering melaksanakan salat di berbagai tempat, baik di masjid, rumah, maupun di tempat terbuka.

Pada masa itu, lantai masjid masih berupa tanah atau pasir. Karena dalam salat terdapat gerakan sujud yang menempelkan dahi ke tanah, maka diperlukan alas agar tempat sujud tetap bersih.

Dalam beberapa riwayat hadis disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah melaksanakan salat dengan beralaskan tikar kecil.

Baca Juga: Saat Ibu Kota Sepi karena Mudik, Pemprov DKI Justru Luncurkan Program Mudik ke Jakarta

Dari Ibnu Abbas diriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah salat di atas permadani. Hadis lain dari Al-Mughirah bin Syu’bah menyebutkan bahwa Rasulullah biasa salat di atas tikar dan kulit yang telah disamak.

Riwayat lain dari Abu Sa’id juga menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah salat di atas tikar dan bersujud di atasnya.

Selain tikar biasa, Rasulullah juga diketahui menggunakan khumrah, yaitu tikar kecil yang terbuat dari anyaman daun kurma.

Alas sederhana ini mudah dibawa ke mana-mana sehingga memudahkan seseorang tetap menjaga kebersihan tempat salat.

Baca Juga: Presiden Prabowo Buka Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Tegaskan Sinergi untuk Lompatan Pembangunan

Meski demikian, Islam tidak mewajibkan penggunaan sajadah.

Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Seluruh bumi dijadikan tempat salat bagiku, kecuali kuburan dan kamar kecil.” Hadis ini menunjukkan bahwa salat dapat dilakukan di mana saja selama tempatnya bersih.

Perkembangan Sajadah
Seiring berkembangnya peradaban Islam, kebutuhan akan alas salat semakin meningkat.

Hal ini terutama karena banyak umat Muslim yang melakukan perjalanan jauh atau tinggal di lingkungan yang tidak selalu bersih.

Baca Juga: Propaganda Barat tentang Iran Dipertanyakan, Aslinya Disebut Hanya Membuat Citra Jelek

Karena itu, penggunaan alas salat seperti tikar kecil, potongan kain, atau kulit yang telah disucikan mulai menjadi kebiasaan.

Dalam perkembangannya, alas sederhana tersebut kemudian berkembang menjadi sajadah seperti yang dikenal sekarang.

Pada abad pertengahan, penggunaan sajadah mulai meluas di berbagai wilayah dunia Islam.

Di beberapa kota seperti Kairo di Mesir, sajadah bahkan digunakan oleh masyarakat untuk salat berjamaah di ruang terbuka.

Baca Juga: Amerika dan Israel Disebut Mulai Gelagapan Hadapi Serangan Iran, Analis Sebut Perang Kali Ini Akan Berbeda

Seiring perkembangan seni dan budaya Islam, sajadah juga mulai dihiasi dengan berbagai motif dan ornamen yang indah.

Di banyak wilayah seperti Asia Tengah dan Timur Tengah, sajadah bahkan menjadi hasil kerajinan para penenun yang menunjukkan identitas budaya daerahnya.

Makna Motif pada Sajadah
Saat ini, sajadah hadir dalam berbagai ukuran, bahan, dan desain. Bahan pembuatannya pun beragam, mulai dari kain katun, wol, sutra, hingga kain tenun tradisional.

Motif pada sajadah tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga memiliki makna simbolis.

Baca Juga: Sejarah Tasbih dalam Islam dan Hukumnya, Dari Dzikir dengan Jari hingga Perdebatan Penggunaan Manik Tasbih

Salah satu motif yang paling umum adalah motif mihrab, yaitu gambar ceruk atau gerbang masjid yang mengarah ke kiblat.

Bentuk ini membantu pengguna sajadah untuk mengetahui arah salat sekaligus mengingatkan tujuan utama ibadah.

Ada pula sajadah yang menampilkan gambar Ka'bah sebagai simbol kiblat umat Islam.

Di Indonesia, salah satu sajadah yang "legend" adalah sajadah dengan motif gambar Masjidil Haram dan Masjid Aya Sofya yang populer digunakan umat Islam sebagai alas salat pada tahun 1940 hingga 1990 an.

Baca Juga: Fir'aun Baik

Selain itu, banyak sajadah dihiasi pola geometris yang rumit dan berulang. Pola ini merupakan ciri khas seni Islam yang melambangkan keteraturan dan keagungan ciptaan Allah.

Motif tumbuhan seperti bunga, dedaunan, atau pohon kehidupan juga sering digunakan. Motif ini melambangkan keindahan alam dan harapan akan kehidupan yang penuh berkah.

Beberapa sajadah juga menampilkan gambar lampu masjid, tasbih, atau kitab suci Al-Qur’an sebagai simbol cahaya ilmu dan hidayah.

Selain itu, kaligrafi Arab yang memuat ayat Al-Qur’an atau Asmaul Husna juga sering digunakan sebagai elemen dekoratif.

Baca Juga: Marak Dijual Bebas di Toko Kecil, BPOM Bakal Tindak Tegas Peredaran Tramadol yang Sering Disalahgunakan

Motif yang Dihindari pada Sajadah
Meski motif sajadah sangat beragam, para ulama mengingatkan agar desainnya tidak mengganggu kekhusyukan dalam salat.

Sebagian ulama melarang penggunaan sajadah yang menampilkan gambar makhluk bernyawa seperti manusia atau hewan.

Motif seperti itu dikhawatirkan dapat mengganggu konsentrasi saat beribadah.

Penggunaan simbol agama lain juga tidak diperbolehkan karena dapat menimbulkan kerancuan dalam akidah.

Baca Juga: Terungkap di Sidang Etik, Kasat Narkoba Toraja Utara Terima Setoran dari Bandar, Berakhir Dipecat dari Polri

Selain itu, motif yang terlalu ramai atau mencolok juga sebaiknya dihindari karena bisa mengalihkan perhatian saat salat.

Lebih dari Sekadar Alas Salat
Di berbagai negara Muslim, sajadah tidak hanya berfungsi sebagai alat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi dan identitas budaya.

Setiap daerah memiliki ciri khas sajadah yang berbeda, baik dari segi motif, warna, maupun bahan yang digunakan.

Sajadah bahkan sering dijadikan oleh-oleh khas setelah seseorang menunaikan ibadah umrah atau haji di Tanah Suci.

Demikianlah sajadah menjadi bagian dari peradaban Islam sejak zaman dahulu hingga masa kini.***