POJOKSATU.id - Wacana penerapan sistem “war” tiket dalam penyelenggaraan ibadah haji belakangan ramai diperbincangkan publik.

Banyak yang membayangkan proses perebutan kuota keberangkatan layaknya berburu tiket konser atau pertandingan sepak bola.

Padahal, jauh sebelum istilah “war tiket” populer seperti sekarang, sejarah perjalanan haji Indonesia sudah dipenuhi berbagai drama yang tak kalah pelik.

Baca Juga: Pemkab Cirebon Apresiasi Cirebon Power, Dari Kurban hingga Vokasi untuk Warga

Ada sistem undian, praktik percaloan, penipuan, perjalanan laut berbulan-bulan, ancaman perang, hingga tragedi wabah yang membuat ibadah haji pernah dihentikan berkali-kali.

Bahkan dalam sejarah dunia Islam, musim haji tercatat pernah dibatalkan atau dibatasi sekitar 40 kali akibat perang, pembantaian, epidemi, dan kekacauan politik.

Zaman Soekarno: Mau Haji Harus Menang Undian
Pada masa pemerintahan Soekarno, kuota haji Indonesia setiap tahun hanya sekitar 15.000 orang.

Baca Juga: Dari Usia 14 Tahun hingga 17 Tahun, Dua Remaja Ini Jadi Sorotan sebagai Jemaah Haji Termuda 2026

Jumlah itu sangat kecil dibanding tingginya minat masyarakat untuk pergi ke Tanah Suci.

Akibatnya, pemerintah menerapkan sistem pengundian bagi calon jemaah haji.

Sutradara senior Misbach Yusa Biran dalam bukunya Kenang-Kenangan Orang Bandel menceritakan bagaimana sulitnya masyarakat mendapatkan kesempatan berhaji pada masa itu.

Baca Juga: 4 Amalan yang Pahalanya Setara Haji dan Umrah, Jangan Disepelekan Umat Islam

“ Maka yang berminat harus diundi. Ada yang sampai tiga kali tidak juga menang, padahal orang sudah jual kerbau segala untuk bayar ONH ke bank,” tulis Misbach.

Banyak warga desa rela menjual sawah, ternak, hingga perhiasan keluarga demi mendapatkan biaya ONH atau Ongkos Naik Haji.

Namun setelah uang disetor ke bank, belum tentu mereka langsung bisa berangkat.

Jika tiga kali gagal dalam undian, calon jemaah memang otomatis mendapat giliran tahun berikutnya.

Baca Juga: UPI Buka Seleksi Mandiri Berdasarkan Nilai UTBK-SNBT 2026, Simak Syarat, Jadwal, dan Link Pendaftarannya

Tetapi persoalan baru muncul. Tidak sedikit yang uangnya sudah habis dipakai untuk kebutuhan sehari-hari karena terlalu lama menunggu.

Di masa itu, naik haji bukan sekadar ibadah. Pergi ke Tanah Suci menjadi simbol kehormatan sosial yang sangat besar di tengah masyarakat.

Maraknya Penipuan dan Calo Haji
Sulitnya memperoleh kuota haji akhirnya membuka ruang besar bagi praktik penipuan.

Baca Juga: Polemik Gelar Ir Budi Gunadi Sadikin Berujung Laporan ke Polda Metro Jaya, ITB Buka Suara

Banyak calo mengaku memiliki jalur khusus atau “jatah gelap” dari panitia haji. Mereka menawarkan keberangkatan instan tanpa perlu mengikuti proses resmi pemerintah.

Modusnya terdengar meyakinkan.

Calon jemaah cukup menyerahkan uang, lalu diminta datang langsung ke pelabuhan pada hari keberangkatan. Paspor, tiket, dan dokumen lain disebut akan diberikan di lokasi.

Padahal semuanya palsu.

Baca Juga: Jangan Salah Pilih Hewan Kurban, Ternyata Warna, Aroma, dan Tekstur Daging Bisa Ungkap Kualitasnya

Korban yang sudah menggelar walimatussafar dan berpamitan dengan keluarga besar akhirnya hanya bisa menangis di pelabuhan karena sang calo tak pernah muncul.

Menurut cerita Misbach, banyak calon haji saat itu diantar rebana, doa-doa keluarga, bahkan tangis haru tetangga sekampung. Namun setibanya di pelabuhan, mereka justru menyadari telah ditipu.

Rasa malu yang luar biasa membuat sebagian korban bahkan tidak berani pulang ke rumah. Ada yang mengalami gangguan jiwa karena tekanan sosial akibat gagal berangkat.

“Haji Singapura”, Korban Penipuan Zaman Kolonial
Masalah perjalanan haji ternyata sudah muncul sejak era kolonial Belanda.

Saat itu, pemerintah kolonial membuka peluang bagi pihak swasta untuk mengelola perjalanan haji karena jumlah calon jemaah terus meningkat dan kapal pemerintah tidak lagi mencukupi.

Dalam arsip sejarah perjalanan haji Indonesia disebutkan muncul banyak agen perjalanan partikelir seperti Agen Herklost dan Firma Alsegoff & Co.

Baca Juga: Resep Rahasia Tongseng Solo dengan Daging Empuk dan Bumbu Meresap Sempurna, Kuliner Legendaris Olahan Daging Kambing

Namun karena orientasinya bisnis, pelayanan jemaah sering kali diabaikan.

Para calo berlomba mencari calon jemaah sebanyak-banyaknya. Warga miskin dibujuk menjual harta benda dengan harga murah demi membayar biaya perjalanan.

Setelah uang diterima, sebagian jemaah justru diterlantarkan di tengah perjalanan.

Ada yang diperas habis-habisan sebelum sampai ke Arab Saudi sehingga perjalanan mereka berhenti di Singapura. Korban seperti ini kemudian dikenal dengan istilah “haji Singapura”.

Baca Juga: Banyak yang Salah, Bersihkan Daging Kurban Sebaiknya Tidak Dicuci Air Mengalir

Julukan itu menjadi sindiran pahit bagi orang-orang yang sudah kehilangan harta tetapi gagal mencapai Makkah.

Perjalanan Haji dengan Kapal Laut yang Mengharukan
Sebelum pesawat terbang digunakan secara luas, perjalanan haji dilakukan menggunakan kapal laut selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Pengalaman itu juga dirasakan Misbach Yusa Biran saat berangkat haji tahun 1964 sebagai kru film Tauhid.

Baca Juga: Lagi dan Lagi, Demi Keselamatan KAI Daop 3 Cirebon Tutup Perlintasan Sebidang Ilegal di Kabupaten Subang

Ia berangkat dari Pelabuhan Tanjung Priok menggunakan kapal tua bernama Ambulombo.

Suasana keberangkatan kala itu disebut sangat emosional.

Ketika kapal perlahan meninggalkan dermaga, suara azan menggema dari pengeras suara pelabuhan.

Para jemaah berdiri di dek kapal sambil melambaikan tangan ke arah keluarga mereka.

Tangisan pecah di mana-mana.

Sebagian keluarga berteriak memanggil nama orang yang berangkat. Sebab pada masa itu, pergi haji bisa berarti perpisahan sangat panjang.

Baca Juga: Saat Terakhir Siswi SMK Nias Utara Sebelum Tewas, Sempat Pulang Sekolah Bareng Adik Kandung

Tidak sedikit yang berangkat namun tak pernah kembali karena sakit atau meninggal di perjalanan.

Di atas kapal, sebagian jemaah mulai mengenakan pakaian ihram ketika melewati Yamlamlam.

Namun ada juga yang baru mengambil miqat di Jeddah mengikuti ketentuan pemerintah saat itu.

Tradisi Syeikh dan “Indekos” Jemaah Indonesia
Setibanya di Jeddah, jemaah Indonesia zaman dulu biasanya langsung diarahkan ke tempat bernama Babu Soal.

Di lokasi itu, petugas akan bertanya siapa syeikh pembimbing mereka.

Baca Juga: Kejari Karawang Usut Dugaan Korupsi KPR BTN Proyek Citra Swarna Grand dan Kartika Residence, 91 Saksi Sudah Diperiksa

Tradisi tersebut menunjukkan bahwa jemaah Nusantara dulu memiliki hubungan kuat dengan para syeikh keturunan Indonesia yang menetap turun-temurun di Arab Saudi.

Mereka tinggal di rumah atau penampungan milik para syeikh tersebut selama musim haji.

Para syeikh inilah yang membantu mengatur penginapan, transportasi, hingga membimbing pelaksanaan ibadah.

Asal-usul mereka bisa dikenali dari nama belakang seperti al-Bantani, al-Minangkabawi, hingga al-Singkili.

Fungsi utama syeikh kala itu sangat penting, yakni memastikan jemaah tidak tersesat atau terlantar di Tanah Suci.

Ancaman Perang Timur Tengah dan Kekhawatiran Haji 2026
Pelaksanaan haji 2026 kembali dibayangi kekhawatiran akibat memanasnya situasi geopolitik Timur Tengah.

Baca Juga: Perempuan Haid Tetap Bisa Wukuf Saat Haji, Lalu Bolehkah Tawaf? Ini Penjelasan Ulama

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran membuat kawasan udara Timur Tengah dipenuhi ancaman rudal serta drone.

Karena seluruh perjalanan haji modern menggunakan pesawat terbang, masyarakat pun mulai cemas terhadap keamanan jalur penerbangan menuju Arab Saudi.

Namun ancaman perang terhadap perjalanan haji ternyata bukan hal baru dalam sejarah.

Koran berbahasa Sunda Sipatahoenan edisi 2 Oktober 1935 pernah menulis artikel berjudul Djarah ka Mekkah Hariwang Koe Bahaja Perang atau “Ziarah ke Mekkah Khawatir Bahaya Perang”.

Baca Juga: Oknum TNI Diduga Terlibat Tambang Ilegal di Madina, Aliansi Mahasiswa Pemuda Gelar Aksi di Pomdam

Saat itu, masyarakat khawatir perang antara Italia dan Ethiopia akan mengganggu perjalanan kapal-kapal haji menuju Timur Tengah.

Tragedi Berdarah yang Pernah Menghentikan Haji
Dalam sejarah Islam, pelaksanaan haji pernah dihentikan berkali-kali karena tragedi besar.

Salah satu yang paling mengerikan terjadi pada 930 M ketika kelompok Qarmati menyerang Makkah di bawah pimpinan Abu Tahir al-Janabi.

Kelompok itu melakukan pembantaian massal terhadap jemaah haji di sekitar Masjidil Haram.

Baca Juga: Hasil TKA 2026 SD dan SMP Sudah Bisa Dicek! Ini Cara Mudah Akses dan Jadwal Resminya

Puluhan ribu orang dilaporkan tewas. Banyak jasad dibuang ke sumur Zamzam.

Kelompok Qarmati bahkan menjarah Hajar Aswad dan membawanya pergi selama bertahun-tahun.

Akibat tragedi tersebut, ibadah haji praktis lumpuh hingga sekitar satu dekade karena umat Islam takut datang ke Makkah.

Peristiwa itu dikenal sebagai tragedi Qaramithah dan menjadi salah satu bencana terbesar dalam sejarah haji dunia.

Wabah Penyakit yang Mematikan
Selain perang dan konflik politik, wabah penyakit juga berkali-kali memukul pelaksanaan haji.

Pada 967 M, wabah besar melanda Makkah dan menyebabkan banyak manusia serta hewan mati sehingga ibadah haji tidak memungkinkan dilakukan.

Baca Juga: Kunjungi Patraloka, Mahasiswa FEB UGM Dalami Tata Kelola Energi Bersama Pertamina

Kolera juga menjadi momok menakutkan pada abad ke-19.

Wabah tahun 1831 yang berasal dari India disebut menewaskan sekitar tiga perempat jemaah haji di Makkah.

Gelombang epidemi kembali muncul pada 1837 hingga 1858. Ribuan orang meninggal dan sejumlah musim haji harus dibatasi.

Pada 1846 saja, lebih dari 15.000 orang dilaporkan meninggal akibat wabah kolera.

Sementara pada 1858, jemaah asal Mesir bahkan harus dievakuasi besar-besaran ke wilayah Laut Merah untuk menjalani karantina.

Baca Juga: Hasil TKA 2026 SD dan SMP Sudah Bisa Dicek! Ini Cara Mudah Akses dan Jadwal Resminya

Pandemi COVID-19 Mengubah Wajah Haji Modern
Di era modern, dunia kembali menyaksikan pembatasan besar-besaran ibadah haji saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020.

Pemerintah Arab Saudi kala itu hanya mengizinkan sekitar 1.000 jemaah domestik untuk berhaji.

Pemandangan jutaan manusia memadati Masjidil Haram mendadak berubah drastis menjadi sangat sepi.

Pada 2021, pelaksanaan haji masih dibatasi ketat dan hanya diperuntukkan bagi warga yang tinggal di Arab Saudi.

Momen tersebut menjadi salah satu catatan paling bersejarah dalam pelaksanaan haji modern.

Sejarah panjang perjalanan haji menunjukkan bahwa ibadah suci ini selalu berjalan berdampingan dengan tantangan zaman.

Baca Juga: Webinar Nasional 'Adulting dan Mental Health: Bertahan di Dunia yang Chaos' Segera Digelar, Daftar Sekarang juga

Dari kapal laut tua, sistem undian, penipuan calo, perang dunia, hingga pandemi global, semua menjadi bagian dari perjalanan panjang umat Islam menuju Tanah Suci.

Di balik segala kesulitan itu, kerinduan untuk memenuhi panggilan haji ternyata tetap tak pernah padam dari generasi ke generasi. ***