POJOKSATU.id - Masjid Quba menjadi salah satu destinasi utama jemaah umrah maupun haji saat berada di Madinah.
Nilai sejarah dan keutamaan ibadahnya membuat masjid ini selalu ramai diziarahi.
Letaknya sekitar empat kilometer dari Masjid Nabawi dan dipercaya sebagai masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW.
Masjid ini awalnya berada di pinggiran selatan Yatsrib, nama lama Madinah, tepatnya di desa Quba.
Di tempat inilah unta betina Nabi berlutut untuk minum setelah perjalanan hijrah dari Makkah menuju Madinah.
Nabi kemudian beristirahat selama empat hari sambil menunggu kedatangan Ali bin Abi Thalib.
Dalam masa persinggahan itu, Rasulullah tinggal di rumah Kultsum ibn al-Hadmi dari Bani Amr bin Auf dan memulai pembangunan masjid yang kemudian dinamai Quba.
Nabi sendiri ikut mengangkat batu bata, memikul pasir, dan bekerja bersama para sahabat.
Masjid dibangun dari batu bata mentah dengan atap pelepah kurma, mencerminkan kesederhanaan sekaligus ketakwaan.
Keutamaan Salat di Masjid Quba
Masjid Quba memiliki fadilah yang sangat besar. Dalam hadis riwayat Ibnu Majah disebutkan
“Siapa yang berwuduk di rumahnya, lalu ia mendatangi Masjid Quba dan melaksanakan salat di dalamnya, maka pahalanya seperti pahala umrah.”
Semasa hidupnya, Rasulullah rutin mengunjungi Masjid Quba setiap Sabtu, Senin, dan Kamis.
Tradisi itu kemudian dilanjutkan para sahabat setelah beliau wafat.
Masjid ini juga dikenal sebagai masjid yang dibangun atas dasar takwa, sebagaimana disebutkan dalam Surah At-Taubah ayat 107–110.
Ayat tersebut turun berkaitan dengan Masjid ad-Dirar, masjid yang dibangun oleh sekelompok munafik untuk memecah belah umat Islam.
Setelah wahyu turun, Rasulullah memerintahkan agar masjid tersebut dibakar karena motifnya yang merusak persatuan.
Perjalanan Renovasi dari Masa ke Masa
Sejak pertama dibangun, Masjid Quba telah mengalami banyak renovasi. Khalifah ketiga, Utsman bin Affan, tercatat melakukan renovasi awal.
Pada masa Umar bin Abdul Aziz yang saat itu menjabat Gubernur Madinah, masjid kembali diperbaiki dan dibangun menara.
Renovasi besar juga terjadi di era modern. Pada 1985, Raja Fahd memerintahkan perluasan masjid dengan tetap mempertahankan nilai arsitektur bersejarahnya.
Struktur terbaru dirancang oleh arsitek Abdel Wahed el-Wakil.
Pada 2018, Putra Mahkota Muhammad bin Salman memerintahkan restorasi 130 masjid bersejarah, termasuk Masjid Quba, sebagai bagian dari program revitalisasi nasional dalam kerangka Visi Saudi 2030.
Struktur dan Kapasitas Masjid Quba Kini
Saat ini, Masjid Quba menjadi masjid terbesar kedua di Madinah.
Luas areanya mencapai sekitar 50.000 meter persegi dengan kapasitas hingga 66 ribu jemaah.
Ruang salat utama mampu menampung sekitar 20 ribu jemaah.
Masjid ini memiliki 54 kubah kecil, lima kubah sedang, dan satu kubah besar tepat di atas mihrab.
Empat menara berdiri di setiap sudut bangunan, menambah kemegahan arsitekturnya.
Halaman masjid dilapisi marmer putih dan hitam, dihiasi ornamen merah, serta dilengkapi payung peneduh untuk melindungi jemaah dari terik matahari.
Fasilitasnya pun lengkap dengan tujuh pintu utama, 12 pintu tambahan, serta puluhan unit toilet untuk kenyamanan jemaah.
Masjid yang Sarat Nilai Sejarah dan Spiritualitas
Masjid Quba bukan sekadar bangunan bersejarah. Ia menjadi simbol awal kebangkitan peradaban Islam di Madinah.
Di sinilah salat berjamaah pertama kali ditegakkan secara terang-terangan setelah hijrah.
Jejak kerja keras Rasulullah dan para sahabat dalam membangun masjid ini menjadi pengingat bahwa fondasi Islam ditegakkan dengan ketakwaan, persatuan, dan pengorbanan.
Berziarah ke Masjid Quba bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin.
Setiap langkah menuju masjid ini seakan mengajak kita menapaktilasi jejak hijrah, memperbarui niat, dan menguatkan iman.
Di tempat sederhana yang sarat sejarah ini, umat Islam diajak kembali pada esensi: membangun hidup di atas dasar takwa.***

