POJOKSATU.id - Kubah hampir selalu menjadi bagian yang melekat pada bangunan masjid.

Dari masjid kecil di kampung hingga masjid megah di kota besar, kubah sering dianggap sebagai ciri khas arsitektur Islam.

Namun jika ditelusuri lebih jauh, sejarah kubah ternyata tidak berasal dari tradisi Islam. Dalam ajaran Islam sendiri tidak ada ketentuan khusus mengenai bentuk arsitektur tempat ibadah.

Baca Juga: Ketegangan Memuncak, Iran Siap Izinkan Kapal Lewat Selat Hormuz dengan Syarat Usir Dubes AS-Israel

Islam memberi kebebasan kepada umatnya untuk menentukan bentuk fisik bangunan masjid sesuai dengan kondisi budaya, teknologi, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Asal-usul Kata Kubah
Secara etimologis, kata kubah berasal dari bahasa Latin “domus” yang berarti rumah. Dalam perkembangan bahasa, istilah ini kemudian diadopsi oleh masyarakat Arab menjadi “qubba” atau “kubba”.

Istilah tersebut diambil dari bahasa Suriah yang merujuk pada bangunan berbentuk setengah lingkaran atau atap melengkung.

Baca Juga: Kasus Suap Proyek Pemkab Rejang Lebong Terungkap, KPK Tetapkan Bupati Fikri Thobari sebagai Tersangka

Bentuk arsitektur kubah sebenarnya sudah dikenal jauh sebelum lahirnya Islam. Kubah telah digunakan pada berbagai bangunan di kawasan Mediterania sejak masa Romawi dan Bizantium.

Seiring waktu, bentuk atap ini kemudian digunakan pada berbagai jenis bangunan, termasuk tempat ibadah.

Masjid Pertama yang Menggunakan Kubah
Dalam buku Sejarah Ibadah karya Syahruddin El-Fikri dijelaskan bahwa penggunaan kubah pada masjid mulai dikenal pada abad ke-7.

Baca Juga: Kasus Suap Proyek Pemkab Rejang Lebong Terungkap, KPK Tetapkan Bupati Fikri Thobari sebagai Tersangka

Masjid pertama yang menggunakan arsitektur kubah adalah Masjid Qubbat as-Sakhrah atau Dome of the Rock.

Masjid ini berada di kompleks al-Haram asy-Syarif di Kota Yerusalem, satu kawasan dengan Masjid al-Aqsa.

Pembangunan masjid tersebut dimulai setelah Yerusalem berada di bawah kekuasaan Islam pada masa Khalifah Umar bin Khattab.

Baca Juga: VIRAL Video Menu MBG Lele Mentah di Pamekasan, BGN Bongkar Fakta Sebenarnya

Namun bangunan megahnya baru didirikan pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Dinasti Umayyah sekitar tahun 685 hingga 691 M.

Masjid Qubbat as-Sakhrah menjadi salah satu karya arsitektur Islam paling awal dan paling monumental.

Pembangunannya dikerjakan oleh dua tokoh Muslim dari Palestina, yaitu Raja' bin Hayat dari Bitsan dan Yazid bin Salam dari Yerusalem.

Baca Juga: OTT Kepala Daerah Terus Terulang, Puan Maharani Minta Evaluasi Besar-besaran dan Singgung Biaya Politik Mahal

Kubah masjid ini memiliki tiga tingkatan. Tingkatan pertama dan kedua memiliki tinggi sekitar 35,3 meter, sedangkan tinggi keseluruhan bangunan mencapai sekitar 39,3 meter.

Bentuk kubahnya juga dipengaruhi oleh arsitektur Bizantium yang berkembang di kawasan tersebut.

Di bawah kubah itu terdapat sebuah batu suci yang dikenal sebagai sakhrah muqaddasah. Batu ini diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad SAW memulai perjalanan Mi’raj menuju langit.

Baca Juga: Aksi Nekat Napi Nusakambangan Kabur Lewat Laut Naik Perahu Nelayan, Pelarian Singkat Berujung Diamankan Warga

Keunggulan Arsitektur Kubah
Selain memiliki nilai estetika, bentuk kubah juga memiliki sejumlah kelebihan secara arsitektur.

Pakar arsitektur Jeffrey O. Hill menjelaskan bahwa bangunan dengan atap kubah memiliki beberapa keunggulan dibandingkan atap datar.

Struktur kubah membuat ruangan di dalam bangunan terasa lebih luas. Selain itu, sirkulasi udara di dalam ruangan juga menjadi lebih baik karena bentuknya yang melengkung memungkinkan udara bergerak lebih leluasa.

Baca Juga: Viral Info Pembagian THR Ojol di Cibubur, Ternyata Hoaks, Aparat Buru Penyebar Pesan

Sebagian ahli sejarah bahkan menyebutkan bahwa bentuk bangunan berkubah pertama kali digunakan oleh suku Eskimo dalam bentuk rumah iglo.

Dengan berbagai kelebihan tersebut, bentuk kubah kemudian dianggap sebagai desain bangunan yang efisien sekaligus estetis.

Kubah Masjid di Indonesia
Di Indonesia sendiri, penggunaan kubah pada masjid sebenarnya tidak langsung muncul sejak awal masuknya Islam.

Baca Juga: Saat Ibu Kota Sepi karena Mudik, Pemprov DKI Justru Luncurkan Program Mudik ke Jakarta

Islam mulai berkembang di Nusantara sekitar abad ke-13 melalui para pedagang dari Gujarat, Arab, dan Persia.

Pada masa awal ini, bangunan masjid di Indonesia masih sangat sederhana dan lebih banyak mengadopsi arsitektur lokal.

Salah satu contohnya adalah Masjid Demak di Jawa Tengah yang tidak memiliki kubah. Masjid ini menggunakan atap bertingkat menyerupai meru, yaitu bentuk atap yang lazim ditemukan pada bangunan Hindu-Buddha.

Baca Juga: Presiden Prabowo Buka Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Tegaskan Sinergi untuk Lompatan Pembangunan

Masjid-masjid awal di Nusantara umumnya dibangun menggunakan bahan-bahan lokal seperti kayu. Bentuk bangunannya pun lebih menyerupai rumah tradisional masyarakat setempat.

Karena itu, kubah belum menjadi bagian dari arsitektur masjid pada masa awal perkembangan Islam di Indonesia.

Perkembangan Kubah pada Era Modern
Perubahan mulai terlihat pada abad ke-18 ketika arsitektur masjid mengalami modernisasi pada masa penjajahan Belanda.

Baca Juga: Propaganda Barat tentang Iran Dipertanyakan, Aslinya Disebut Hanya Membuat Citra Jelek

Salah satu yang bisa dilihat adalah Masjid Agung di Kotaraja Banda Aceh pada 1895, tampak menggunakan kubah sebagai pilihan atap utamanya.

Pengaruh arsitektur Timur Tengah dan Barat abad ke-19 mulai masuk dan perlahan mengubah tampilan bangunan masjid di Indonesia.

Pada masa ini, kubah mulai digunakan pada sejumlah masjid besar.

Dalam perkembangan selanjutnya, kubah semakin populer dan menjadi simbol visual masjid di berbagai daerah.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Masjid Istiqlal di Jakarta. Masjid nasional Indonesia ini mulai dibangun pada tahun 1961 dan selesai pada tahun 1978.

Baca Juga: Marak Dijual Bebas di Toko Kecil, BPOM Bakal Tindak Tegas Peredaran Tramadol yang Sering Disalahgunakan

Masjid Istiqlal memiliki kubah raksasa berdiameter sekitar 45 meter yang menjadi simbol kemegahan arsitektur Islam modern di Indonesia.

Desain kubahnya terinspirasi dari gaya arsitektur Timur Tengah, namun tetap disesuaikan dengan konteks bangunan modern.

Adaptasi dengan Budaya Lokal
Meski kubah masjid di Indonesia banyak dipengaruhi arsitektur Timur Tengah, unsur budaya lokal tetap terlihat dalam berbagai desain masjid.

Baca Juga: Bikin Heboh! Ahmad Sahroni Pilih Tak Ambil Gaji DPR sampai 2029, Semua Disumbangkan ke Kitabisa

Di beberapa wilayah, arsitektur tradisional masih dipadukan dengan kubah sebagai elemen tambahan.

Contohnya dapat ditemukan di wilayah Minangkabau, Sumatra Barat.

Sejumlah masjid di daerah tersebut tetap mempertahankan bentuk atap gonjong yang menyerupai tanduk kerbau seperti pada rumah adat Minangkabau, tetapi dilengkapi dengan kubah di bagian atasnya.

Baca Juga: Quraish Shihab Doakan Prabowo Seperti yang Dipanjatkan Gurunya ke Presiden Mesir

Seiring perkembangan zaman, bentuk kubah masjid di Indonesia juga semakin beragam.

Selain bentuk setengah bola yang paling umum, muncul pula desain kubah yang lebih lancip atau melengkung mengikuti perkembangan arsitektur modern. ***