POJOKSATU.id - Ketupat menjadi salah satu hidangan yang hampir selalu hadir di meja makan saat Hari Raya Idul Fitri di Indonesia.

Dibuat dari beras yang dimasak dalam anyaman daun kelapa muda atau janur, makanan ini tidak hanya dikenal karena rasanya yang khas, tetapi juga karena makna filosofis yang menyertainya.

Bagi banyak masyarakat, ketupat bukan sekadar makanan pendamping opor atau rendang.

Baca Juga: Kasus Suap Proyek Pemkab Rejang Lebong Terungkap, KPK Tetapkan Bupati Fikri Thobari sebagai Tersangka

Ia telah menjadi simbol tradisi Lebaran yang diwariskan turun-temurun dan mengandung nilai budaya serta keagamaan yang cukup dalam.

Sejarah Ketupat di Nusantara
Sejarah ketupat di Indonesia diyakini sudah ada sejak abad ke-15, terutama di wilayah Pulau Jawa.

Tradisi ini berkembang bersamaan dengan penyebaran Islam di Nusantara.

Baca Juga: VIRAL Video Menu MBG Lele Mentah di Pamekasan, BGN Bongkar Fakta Sebenarnya

Salah satu tokoh yang sering dikaitkan dengan tradisi ketupat adalah Sunan Kalijaga, anggota Wali Songo yang dikenal menggunakan pendekatan budaya dalam berdakwah.

Melalui pendekatan tersebut, Sunan Kalijaga memadukan ajaran Islam dengan budaya lokal agar lebih mudah diterima masyarakat.

Ketupat kemudian diperkenalkan sebagai simbol dalam perayaan Idul Fitri pada masa Kesultanan Demak di bawah pemerintahan Raden Patah.

Baca Juga: OTT Kepala Daerah Terus Terulang, Puan Maharani Minta Evaluasi Besar-besaran dan Singgung Biaya Politik Mahal

Penggunaan janur sebagai pembungkus ketupat juga tidak lepas dari kehidupan masyarakat pesisir Jawa.

Daun kelapa muda ini sangat mudah ditemukan di wilayah pesisir sehingga sering dimanfaatkan dalam berbagai tradisi, termasuk sebagai pembungkus makanan.

Pendekatan budaya yang dilakukan Sunan Kalijaga membuat ajaran Islam dapat diterima tanpa menghilangkan tradisi lokal yang sudah hidup di tengah masyarakat.

Baca Juga: Aksi Nekat Napi Nusakambangan Kabur Lewat Laut Naik Perahu Nelayan, Pelarian Singkat Berujung Diamankan Warga

Tradisi Lebaran Ketupat
Sejarawan Agus Sunyoto menyebut bahwa tradisi Lebaran Ketupat merupakan budaya khas Indonesia yang berakar dari ajaran Islam.

Tradisi ini berkaitan dengan anjuran puasa enam hari di bulan Syawal setelah menjalankan puasa Ramadan.

Hal ini merujuk pada hadis yang berbunyi, “Man shoma ramadhana tsumma atba‘ahu syi’ta minsyawwalin fakaana shama kasiyaamidahron,” yang berarti: “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan, lalu melanjutkannya dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka pahalanya seperti berpuasa selama setahun penuh.”

Baca Juga: Viral Info Pembagian THR Ojol di Cibubur, Ternyata Hoaks, Aparat Buru Penyebar Pesan

Dalam pemahaman masyarakat, seseorang yang menyempurnakan puasa Ramadan dengan puasa enam hari di bulan Syawal disebut mencapai kesempurnaan ibadah.

Dari istilah tersebut kemudian muncul penyebutan “kupat” atau “ketupat”, yang menjadi simbol penyempurnaan ibadah puasa.

Karena itu, di sejumlah daerah dikenal tradisi “kupatan” yang dirayakan sekitar tujuh hari setelah Idul Fitri.

Baca Juga: Saat Ibu Kota Sepi karena Mudik, Pemprov DKI Justru Luncurkan Program Mudik ke Jakarta

Filosofi Ketupat
Dalam tradisi masyarakat Jawa, ketupat memiliki makna simbolis yang cukup mendalam.

Kata “ketupat” sering dimaknai sebagai akronim dari “ngaku lepat”, yang artinya mengakui kesalahan.

Makna ini sejalan dengan semangat Idul Fitri sebagai momen untuk saling memaafkan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Buka Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026, Tegaskan Sinergi untuk Lompatan Pembangunan

Selain itu, ketupat juga dikaitkan dengan konsep “laku papat” atau empat tindakan penting dalam kehidupan setelah Ramadan:
- Pertama adalah Lebaran, yang menandai berakhirnya ibadah puasa selama satu bulan penuh.

- Kedua adalah Luberan, yang mengajarkan untuk berbagi rezeki melalui zakat dan sedekah kepada mereka yang membutuhkan.

- Ketiga adalah Leburan, yaitu proses saling memaafkan agar kesalahan dan dosa dapat dileburkan.

Baca Juga: Propaganda Barat tentang Iran Dipertanyakan, Aslinya Disebut Hanya Membuat Citra Jelek

- Terakhir adalah Laburan, yang bermakna menjaga kesucian lahir dan batin setelah menjalani ibadah Ramadan.

Makna filosofis ini menjadikan ketupat bukan sekadar makanan, melainkan simbol perjalanan spiritual umat Islam setelah menjalankan ibadah puasa.

Ragam Ketupat di Berbagai Daerah
Seiring perkembangan budaya di berbagai daerah, ketupat juga memiliki banyak variasi dengan ciri khas masing-masing.

Baca Juga: Amerika dan Israel Disebut Mulai Gelagapan Hadapi Serangan Iran, Analis Sebut Perang Kali Ini Akan Berbeda

Di Medan misalnya, terdapat ketupat pulut yang dibuat dari beras ketan sehingga teksturnya lebih pulen.

Sementara di wilayah Melayu Riau dikenal ketupat kapau yang dibungkus menggunakan daun kapau sehingga warnanya tetap putih bersih.

Di Banjarnegara terdapat ketupat landan yang unik karena dimasak menggunakan air abu pelepah kelapa, sehingga menghasilkan warna kemerahan kehitaman.

Di Tegal dikenal kupat glabed yang disajikan dengan kuah kuning kental dan biasanya disantap bersama sate.

Baca Juga: Marak Dijual Bebas di Toko Kecil, BPOM Bakal Tindak Tegas Peredaran Tramadol yang Sering Disalahgunakan

Sedangkan di Solo ada ketupat cabuk rambak yang disajikan dengan sambal wijen dan kerupuk karak.

Masyarakat Betawi juga memiliki hidangan khas bernama ketupat bebanci yang disajikan dengan kuah santan dan daging sapi serta berbagai rempah.

Selain itu, ada pula ketupat pandan yang dibungkus daun pandan serta ketupat palas yang menggunakan daun lontar muda dan berbentuk segitiga.

Keragaman ini menunjukkan bahwa ketupat tidak hanya menjadi simbol keagamaan, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner Nusantara.

Baca Juga: Quraish Shihab Doakan Prabowo Seperti yang Dipanjatkan Gurunya ke Presiden Mesir

Hingga kini, tradisi ini pun terus hidup, mengingatkan bahwa kebersamaan dan ketulusan hati adalah makna yang sesungguhnya dari hari kemenangan. ***