POJOKSATU.id - Ibadah kurban yang dilaksanakan setiap Hari Raya Idul Adha memiliki sejarah panjang dan penuh makna dalam ajaran Islam.

Kurban bukan sekadar tradisi tahunan menyembelih hewan, tetapi merupakan simbol ketakwaan, keikhlasan, dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah SWT.

Syariat kurban berakar dari kisah agung Nabi Ibrahim AS dan putranya, Nabi Ismail AS.

Baca Juga: PPPK Paruh Waktu Dapat Gaji Ke-13 atau Tidak? Ini Penjelasan Lengkap Aturan 2026

Kisah ini menjadi salah satu teladan terbesar tentang pengorbanan dan ketaatan kepada perintah Allah SWT, meskipun harus menghadapi ujian yang sangat berat.

Dalam Al-Qur'an, tepatnya Surah As-Shaffat ayat 102, diceritakan bahwa Nabi Ibrahim AS mendapatkan mimpi yang berisi perintah untuk menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS.

Dalam ajaran Islam, mimpi para nabi merupakan wahyu dari Allah SWT yang wajib dilaksanakan.

Baca Juga: SKTP Mei 2026 Resmi Terbit! Ini Syarat dan Tips Agar TPG Cepat Cair ke Rekening Guru

Perintah tersebut tentu bukan perkara ringan. Nabi Ismail adalah anak yang sangat dicintai dan telah lama dinantikan kehadirannya.

Namun sebagai nabi dan hamba yang taat, Nabi Ibrahim tetap menjalankan perintah tersebut dengan penuh keyakinan.

Menariknya, Nabi Ibrahim tidak langsung melaksanakan perintah itu tanpa berbicara kepada anaknya. Ia terlebih dahulu menyampaikan wahyu tersebut kepada Nabi Ismail dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Baca Juga: Mau Jadi Developer Perumahan Subsidi? Perhatikan 4 Hal Penting Ini Sebelum Mulai Proyek

Dalam Surah As-Shaffat ayat 102 disebutkan:

"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu."

Mendengar hal tersebut, Nabi Ismail menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa. Ia tidak menolak ataupun merasa takut secara berlebihan.

Dengan penuh keikhlasan, ia justru meminta ayahnya untuk melaksanakan perintah Allah SWT tersebut.

Baca Juga: Satgas Citarum Harum Ultimatum Pabrik Nakal di Karawang, IPAL Jangan Dimainkan!

Jawaban Nabi Ismail yang diabadikan dalam Al-Qur'an menjadi bukti ketaatan seorang anak kepada Allah SWT dan orang tuanya.

"Hai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Dialog antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ini menjadi salah satu potret keteladanan terbesar dalam sejarah Islam. Ada nilai keimanan, kesabaran, dan kepasrahan total kepada kehendak Allah SWT.

Peristiwa Penggantian Nabi Ismail dengan Hewan Kurban
Ketika Nabi Ibrahim AS hendak melaksanakan penyembelihan terhadap Nabi Ismail AS, Allah SWT menunjukkan kasih sayang-Nya.

Baca Juga: Konvoi Persib Sisakan Pecahan Botol Miras, DLH Kota Bandung: Bahaya dan Sulit Dibersihkan

Tepat sebelum proses itu terjadi, Allah mengganti Nabi Ismail dengan seekor hewan sembelihan.

Peristiwa tersebut kemudian menjadi tonggak disyariatkannya ibadah kurban bagi umat Islam hingga sekarang.

Dalam lanjutan Surah As-Shaffat ayat 107 dijelaskan:

"Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."

Dalam berbagai riwayat disebutkan bahwa hewan pengganti tersebut adalah seekor kambing.

Baca Juga: 2.000 Nelayan Terancam, DPRD Jabar Desak Percepatan Pembangunan Kolam Labuh Jayanti

Dari sinilah kemudian umat Islam diperintahkan untuk melaksanakan kurban setiap Idul Adha sebagai bentuk meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Ibadah kurban akhirnya tidak hanya dipahami sebagai ritual penyembelihan hewan, tetapi juga simbol kesediaan manusia mengorbankan ego, keserakahan, dan kecintaan dunia demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Makna Spiritual dalam Ibadah Kurban
Kurban memiliki makna spiritual yang sangat dalam. Melalui ibadah ini, umat Islam diajarkan tentang pentingnya keikhlasan dan ketakwaan.

Allah SWT menegaskan dalam Surah Al-Hajj ayat 37 bahwa yang sampai kepada-Nya bukanlah darah atau daging hewan kurban, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya.

Baca Juga: Regulasi Baru Kemendikdasmen, Dana BOS Resmi Jadi Sumber Pembiayaan Guru Non ASN!

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa inti ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan dengan nilai mahal atau ukuran besar.

Lebih dari itu, kurban adalah latihan spiritual untuk menjadi pribadi yang rela berkorban demi kebaikan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Nabi Ibrahim AS memberikan contoh nyata bagaimana seorang hamba harus mendahulukan perintah Allah dibanding kepentingan pribadinya.

Sementara Nabi Ismail AS mengajarkan arti kesabaran dan kepasrahan dalam menghadapi ujian hidup.

Baca Juga: Apa Itu Cash Flow? Begini Cara Kerja dan Pentingnya untuk Keuangan Bisnis Maupun Pribadi

Kurban dan Nilai Kepedulian Sosial
Selain bernilai spiritual, ibadah kurban juga memiliki dimensi sosial yang sangat kuat.

Daging hewan kurban dibagikan kepada masyarakat, terutama fakir miskin dan mereka yang membutuhkan.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa Islam sangat menekankan kepedulian sosial dan semangat berbagi kebahagiaan di Hari Raya Idul Adha.

Baca Juga: SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026 Jadi Angin Segar Atasi Kekurangan Guru Non ASN di Daerah

Distribusi daging kurban juga menjadi bentuk pemerataan rezeki.

Banyak masyarakat yang mungkin jarang menikmati daging dalam kesehariannya, dapat merasakan kebahagiaan melalui pembagian kurban.

Karena itu, kurban tidak hanya berdampak bagi individu yang melaksanakannya, tetapi juga memberikan manfaat luas bagi lingkungan sekitar.

Dalam hadis riwayat Tirmidzi disebutkan bahwa tidak ada amalan yang paling dicintai Allah SWT pada Hari Raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban.

Baca Juga: Resep Korean Spicy Chicken ala Rumahan, Pedas Gurihnya Bikin Nagih Banget

Hal ini menunjukkan betapa besar kedudukan ibadah kurban dalam Islam, baik sebagai bentuk ibadah personal maupun sarana mempererat solidaritas sosial antarumat manusia.

Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam di setiap zaman.

Di tengah kehidupan modern yang penuh kepentingan duniawi, ibadah kurban mengingatkan manusia untuk tetap menempatkan Allah SWT di atas segala-galanya.

Kurban mengajarkan bahwa harta hanyalah titipan. Semakin besar rasa cinta kepada Allah SWT, semakin ringan pula seseorang untuk berbagi kepada sesama.

Baca Juga: Kemensos Manfaatkan Teknologi Pengawasan Digital 24 Jam di Lingkungan Sekolah Rakyat !

Tidak heran jika Idul Adha selalu identik dengan nilai pengorbanan, kepedulian, dan ketulusan hati.

Dari situlah lahir pribadi yang lebih ikhlas, peduli, dan dekat kepada Allah SWT. ***