POJOKSATU.id – Nama Gerwani kerap jadi sorotan saat publik membahas sejarah kelam Indonesia, terutama terkait peristiwa G30S 1965 dan propaganda Orde Baru.

Selama puluhan tahun, Gerwani dicitrakan secara negatif sebagai organisasi perempuan yang kejam, brutal, dan menjadi bagian dari Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Citra ini dilekatkan melalui berbagai media massa dan narasi resmi negara pasca-1965 yang menggambarkan mereka terlibat dalam penyiksaan para jenderal di Lubang Buaya.

Baca Juga: Tata Ulang Beban Kerja Guru Madrasah Lewat Revisi KMA Nomor 890 Tahun 2019 : Regulasi Baru Nanti Memastikan Tugas Tambahan Bagian dari JTM

Namun, apakah benar Gerwani adalah organisasi perempuan di bawah PKI? Atau justru ini bagian dari propaganda politik untuk menghancurkan gerakan perempuan yang progresif?

Pertanyaan ini belum pernah dijawab secara jujur dalam sejarah resmi negara, bahkan sering dihindari dalam buku pelajaran atau diskusi akademik arus utama.

Sejarah Gerwani

Gerwani bukan sekadar organisasi yang muncul dalam situasi politik tertentu, melainkan lahir dari semangat revolusi dan perjuangan kesetaraan sosial.

Baca Juga: Transfer Data WNI ke AS Picu Polemik, Pemerintah: Hanya Metadata, Bukan Data Pribadi

Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani secara resmi berdiri pada Kongres Nasional di Surakarta, tanggal 4 Juni 1950.

Sebelum bernama Gerwani, organisasi ini dikenal sebagai Gerwis atau Gerakan Wanita Sedar, yang didirikan oleh sejumlah perempuan muda progresif.

Tokoh-tokoh pendiri Gerwis antara lain S.K. Trimurti, Umi Sardjono, dan Suharti, yang aktif dalam perjuangan kemerdekaan dan pemberdayaan perempuan.

Baca Juga: Dokter Spesialis di Daerah Tertinggal Bakal Terima Tunjangan Khusus Rp30 Juta per Bulan, Tahap Awal Sasar 1.100 Dokter yang Bertugas di Faskes Pemda

Gerwis mencerminkan semangat zaman pasca-kolonial yang menuntut perubahan besar dalam tatanan sosial dan posisi perempuan di ruang publik.

Organisasi ini menitikberatkan pada isu-isu seperti pendidikan, kesehatan ibu-anak, serta perlindungan terhadap buruh perempuan yang rentan eksploitasi.

Gerwis juga menjalin kerja sama dengan organisasi perempuan lain seperti Isteri Sedar, Wanita Islam, dan organisasi perempuan lokal di berbagai daerah.

Hal ini menunjukkan bahwa mereka bukan organisasi eksklusif kiri, melainkan terbuka untuk membangun solidaritas di antara perempuan dari berbagai latar belakang.

Pada tahun 1954, Gerwis berubah nama menjadi Gerwani dan mulai mengalami pergeseran orientasi menjadi lebih politis, seiring situasi politik nasional yang memanas.

Perubahan ini terjadi di bawah kepemimpinan Presiden Soekarno yang mengusung Demokrasi Terpimpin sebagai arah baru dalam pemerintahan nasional.

Baca Juga: CATAT! Kriteria Rekening Bank yang Akan Diblokir PPATK dan Langkah Aktivasi Ulang

Gerwani tidak hanya memperjuangkan isu-isu perempuan, tetapi juga menyuarakan isu nasional seperti anti-imperialisme, reformasi agraria, dan perjuangan kelas pekerja.

Organisasi ini kemudian menjalin hubungan erat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), meskipun tidak secara struktural menjadi bagian resmi partai tersebut.

Gerwani merupakan organisasi otonom yang memiliki kesamaan pandangan ideologis dengan PKI, terutama dalam perlawanan terhadap feodalisme dan kapitalisme.

Sejarawan Levina Wulandari menjelaskan bahwa relasi antara Gerwani dan PKI lebih sebagai kemitraan strategis, bukan bentuk subordinasi atau penguasaan satu pihak.

Namun, segalanya berubah drastis pasca-peristiwa 30 September 1965, yang dituduhkan sebagai usaha kudeta oleh PKI dan organisasi sayapnya, termasuk Gerwani.

Baca Juga: Penempatan Tak Realistis, 140 Guru Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri, Banyak Siswa Kabur dari Asrama

Media militer seperti harian Angkatan Bersendjata menyebarkan kabar bahwa anggota Gerwani menyiksa para jenderal secara brutal di Lubang Buaya.

Dalam laporan tersebut disebutkan perempuan Gerwani menari telanjang, memotong alat kelamin para jenderal, dan tertawa histeris saat penyiksaan berlangsung.

Narasi ini disebarkan secara luas untuk membangkitkan kemarahan rakyat dan melegitimasi pembersihan massal terhadap organisasi kiri dan simpatisannya.

Penelitian oleh sejarawan Ruth Indiah Rahayu menunjukkan bahwa otopsi resmi tidak menemukan tanda-tanda penyiksaan sebagaimana diberitakan media militer.

Hasil penelitian internasional, seperti riset oleh Benedict Anderson dan Ruth McVey, turut membongkar kebohongan sistematis yang diarahkan kepada Gerwani.

Gerwani menjadi sasaran dehumanisasi dan kekerasan simbolik yang tidak hanya menghancurkan tubuh mereka, tetapi juga martabat dan sejarah perjuangan mereka.

Organisasi ini kemudian dibubarkan secara paksa. Ribuan anggotanya ditangkap, dipenjara tanpa proses hukum, bahkan mengalami penyiksaan dan kekerasan seksual.

Banyak dari mereka yang dibunuh, dihilangkan secara paksa, atau dijebloskan ke penjara dalam waktu yang sangat lama tanpa pengadilan.

Baca Juga: Total Jalani Tiga Kali Oplas di Bagian Wajah, Denada Akui Jauh Hari Sudah Predikasi Bakal Terjadi Pro dan Kontra

Citra Gerwani hancur total. Mereka dijadikan simbol perempuan bejat oleh propaganda negara, meskipun kenyataannya sangat berbeda dengan narasi itu.

Trauma kolektif ini masih membekas hingga hari ini, bahkan membuat banyak mantan anggota atau keluarganya enggan membuka identitas.

Namun, jika ditilik lebih dalam, Gerwani adalah gerakan perempuan yang progresif dan terorganisasi, sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah Indonesia.

Organisasi ini menuntut perubahan sosial yang menyeluruh, termasuk relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan, serta distribusi kekayaan yang lebih adil.

Ketika perempuan menyadari hak-haknya, bersatu dan berorganisasi, maka itu menjadi ancaman bagi struktur sosial yang patriarkal dan militeristik.

Baca Juga: Mahasiswa KKNT IPB University Kenalkan Program PINDANG, Ajak Anak-Anak Peduli Lingkungan Sejak Dini

Inilah sebab mengapa Gerwani harus dihancurkan —bukan hanya dengan represi fisik, tetapi juga dengan kekerasan narasi yang terus direproduksi selama Orde Baru.

Hingga kini, perjuangan perempuan masih menghadapi tantangan berat: kekerasan berbasis gender, diskriminasi di tempat kerja, hingga kemiskinan yang feminis.

Gerwani mengajarkan bahwa perjuangan perempuan tidak bisa dilepaskan dari konteks politik, ekonomi, dan struktur kekuasaan yang melingkupinya.

Gerakan perempuan tidak boleh hanya terjebak dalam isu moral, tetapi harus menyasar akar persoalan seperti ketimpangan kelas dan ideologi patriarki.

Gerwani bukanlah korban sejarah semata, tetapi pelopor perlawanan yang terlalu maju untuk zamannya dan menjadi inspirasi bagi generasi saat ini.

Sudah saatnya sejarah memulihkan nama mereka dan mengakui warisan perjuangan yang pernah mereka torehkan dalam sejarah bangsa Indonesia.

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami di bawah ini:

Versi Android: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.promedia.pojoksatu

Versi iOS: https://apps.apple.com/app/pojok-satu/id6670306141

Channel Whatsapp: https://www.whatsapp.com/channel/0029VaizUTRDjiOXHsJCgQ2E

Fanpage edugov: https://www.facebook.com/profile.php?id=61575904868212

Demikian artikel tentang sejarah Gerwani dan fakta di balik sejarah kelam Indonesia.***