POJOKSATU.id- Candi Borobudur lahir di bawah naungan Dinasti Syailendra, sebuah kerajaan bercorak Buddha Mahayana yang berkuasa di Jawa abad ke‑8 hingga ke‑9.

Pembangunan dimulai sekitar tahun 824 Masehi atas inisiatif Raja Samaratungga, dan rampung menjelang abad ke‑10 pada masa Ratu Pramudawardhani, putrinya.

Arsitek legendaris yang dianggap bertanggung jawab adalah Gunadharma.

Setelah berabad‑abad dibangun, Borobudur kemudian tertimbun abu vulkanik dan semak belukar, hingga hilang dari ingatan manusia.

Situs ini baru ditemukan kembali oleh penjajah Inggris pada 1814, ketika Sir Thomas Stamford Raffles diberi petunjuk oleh penduduk lokal mengenai keberadaannya.

Pekerjaan restorasi awal kemudian dilakukan oleh insinyur Belanda Christian Cornelius pada tahun 1911 atas perintah Raffles.

Baca Juga: Sejarah Gerakan Perempuan Indonesia, Dari Emansipasi, Revolusi, Hingga Reformasi

Pada dekade 1970–1980, proyek restorasi besar oleh Pemerintah Indonesia dan UNESCO dilakukan, melibatkan dibongkarnya platform batu satu per satu, pembersihan, katalogisasi, dan modernisasi sistem drainase.

Puncaknya, pada 1991 Borobudur resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO karena nilainya sebagai mahakarya kreatif manusia dan simbol warisan lintas budaya.

Arsitektur, Simbol Kosmologi dan Seni Megalitikum

Borobudur bukan sekadar struktur—ia dirancang seperti mandala tiga dimensi, memvisualisasikan kosmologi Buddha Mahayana: dari alam Kamadhatu (dunia nafsu) menuju Arupadhatu (keadaan rohani tertinggi).

Tersusun dalam sembilan platform: enam berbentuk bujur sangkar dan tiga melingkar, dihiasi ribuan panel relief serta sekitar 504 arca Buddha, dikelilingi juga oleh 72 stupa berlubang yang mengelilingi satu stupa pusat puncak.

Ciri khas tekniknya: tidak menggunakan semen atau perekat apa pun—batu andesit dikerjakan dan disusun dengan presisi menggunakan sambungan dovetail dan corbelling.

Sistem drainase lengkap dengan 100 saluran air dan gargoyles mencegah erosi akibat curah hujan tinggi.

Baca Juga: Sejarah Komnas Perempuan, Lahir dari Luka, Bergerak demi Keadilan

Pengaruh terbesar datang dari tradisi punden berundak (piramida bertingkat) pada masa Megalitikum Jawa, yang dikombinasikan dengan ajaran Buddha untuk menciptakan struktur spiritual sekaligus monumental.

Borobudur dulu dirancang sebagai tempat ziarah untuk umat Buddha Mahayana—sebuah simbol kosmos spiritual, dan alat untuk mendalami ajaran seperti Karmawibhangga, Jataka, serta Gandavyuha yang terpahat sepanjang dindingnya.

Reliefnya memuat salah satu koleksi tertinggi dan paling lengkap di dunia.

Desain lokasi juga sarat makna: Borobudur, Pawon, dan Mendut sejajar dalam satu garis lurus, diduga digunakan sebagai jalur prosesi ritual yang mengikuti lintasan matahari—mencerminkan sinkronisasi antara arsitektur dan kosmologi.

Kini, Borobudur menjadi monumen kebanggaan Indonesia dan simbol sejarah kebudayaan Asia Tenggara. Ia termasuk situs arkeologi terbesar di dunia dan destinasi utama wisatawan domestik maupun mancanegara.

Presiden Sukarno pun rutin memperkenalkannya sebagai simbol identitas nasional.

Ia juga menjadi inspirasi berbagai karya seni, desain hotel, dan bahkan mata uang atau perangko.

Baca Juga: Dari Ketakutan Menuju Harapan, Lahirnya Reformasi 1998

Pelestarian candi ini terus diperbarui demi menjaga integritas visual dan spiritualnya sebagai warisan umat manusia.***

Baca dan kirim komentar untuk artikel lainnya melalui apps kami: