POJOKSATU.id — Kala malam jatuh di dataran Prambanan, bayangan candi-candi batu menjulang seolah menyimpan kisah lama yang tak pernah selesai diceritakan.
Di antara dinding relief dan arca-arca yang membisu, tersimpan satu legenda abadi tentang seorang perempuan Jawa yang kecantikannya menjebak nasib—Roro Jonggrang.
Ia bukan sekadar tokoh dongeng. Kisahnya begitu kuat melekat dalam ingatan budaya Jawa dan Nusantara.
Sejarah, cinta, dan pengkhianatan bercampur dalam satu narasi yang diwariskan dari mulut ke mulut selama ratusan tahun.
Dan seperti banyak kisah rakyat lainnya, cerita ini hidup tak hanya dalam kata, tapi juga dalam batu, dalam arsitektur megah Candi Prambanan.
Baca Juga: Cerita Rakyat Abad Pertengahan, Kisah Lisan yang Tak Pernah Mati
Dua Kerajaan dan Awal Kutukan
Alkisah, hiduplah dua kerajaan yang saling bertetangga namun bermusuhan: Kerajaan Prambanan yang diperintah oleh Prabu Boko, raja berperawakan raksasa yang kuat namun lalim; dan Kerajaan Pengging, yang dipimpin oleh Prabu Damar Moyo, seorang raja bijak yang kemudian mengirim putranya, Bandung Bondowoso, untuk menghentikan kekuasaan Prabu Boko.
Perang meletus. Dalam pertempuran dahsyat, Prabu Boko terbunuh, dan Bandung Bondowoso berhasil merebut Prambanan.
Namun di balik kemenangan itu, ia justru jatuh cinta kepada Roro Jonggrang, putri dari Prabu Boko yang sangat cantik namun cerdas dan penuh siasat.
Roro Jonggrang yang menyadari bahwa Bandung adalah pembunuh ayahnya menolak lamaran sang pangeran secara halus.
Baca Juga: Sejarah Candi Borobudur, Dari Dinasti Syailendra hingga Warisan Dunia
Alih-alih langsung menolak, ia mengajukan dua syarat yang mustahil: menggali sumur bernama Jalatunda dan membangun 1000 candi dalam semalam.
Bagi Roro Jonggrang, itu adalah siasat untuk menolak tanpa terang-terangan menolak.
Sihir, Jin, dan Tipu Daya
Bandung Bondowoso, yang memiliki ilmu kesaktian tinggi, menyanggupi syarat tersebut. Sumur Jalatunda digali dalam waktu singkat.
Baca Juga: Sejarah Gerakan Perempuan Indonesia, Dari Emansipasi, Revolusi, Hingga Reformasi
Namun ketika Bandung turun memeriksa sumur, Roro Jonggrang dan patihnya, Gupolo, berusaha mengubur Bandung hidup-hidup dengan menimbun batu.
Usaha itu gagal. Bandung selamat, namun tak urung hatinya mulai mencurigai motif di balik syarat-syarat tersebut.
Malam harinya, Bandung memulai tugas membangun 1000 candi.
Dengan bantuan pasukan jin dan kekuatan supranaturalnya, ia membangun candi-candi itu satu per satu dalam kecepatan luar biasa. Menjelang fajar, jumlah candi telah mencapai 999.
Roro Jonggrang panik.
Ia memerintahkan para dayang untuk menyalakan api, membakar jerami, dan memukul-mukul lesung agar terdengar seperti fajar telah menyingsing.
Suara ayam berkokok menggema, langit mulai memerah, dan para jin mengira matahari telah terbit. Mereka kabur sebelum menyelesaikan candi terakhir.
Bandung Bondowoso sadar telah ditipu.
Amarah dan kekecewaannya memuncak. Ia lalu mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu untuk melengkapi candi ke-1000.
Baca Juga: Sejarah Komnas Perempuan, Lahir dari Luka, Bergerak demi Keadilan
Maka berdirilah arca seorang perempuan anggun dalam posisi tegak nan agung—yang hingga kini diyakini sebagai patung Dewi Durga di Candi Siwa, Prambanan.
Antara Mitos dan Sejarah
Legenda Roro Jonggrang bukan sekadar kisah romantika dan kutukan. Banyak sejarawan menduga bahwa cerita ini memiliki jejak historis.
Roro Jonggrang diyakini mewakili Pramodhawardhani, putri Dinasti Sailendra yang menikah dengan Rakai Pikatan, raja dari Dinasti Sanjaya.
Pernikahan ini menyatukan dua dinasti besar di Jawa abad ke-9 dan menghasilkan bangunan megah seperti Candi Prambanan.
Baca Juga: Dari Ketakutan Menuju Harapan, Lahirnya Reformasi 1998
Candi Prambanan sendiri memang menyimpan simbol-simbol yang beririsan dengan cerita ini. Arca Dewi Durga yang diyakini sebagai Roro Jonggrang berdiri di relung sisi utara Candi Siwa.
Sementara kompleks Candi Sewu yang letaknya tidak jauh, meski tak berjumlah seribu, sering dikaitkan sebagai bukti visual dari kisah pembangunan masif oleh Bandung Bondowoso.
Cerita ini menjadi cerminan bagaimana budaya Jawa memaknai kekuasaan, pengkhianatan, kecantikan, dan kesaktian.
Roro Jonggrang bukan hanya sosok pasif dalam cerita. Ia adalah perempuan yang berani melawan, menggunakan akalnya untuk bertahan dalam dunia yang keras.
Sedangkan Bandung Bondowoso digambarkan sebagai simbol kekuatan laki-laki, namun juga korban dari egonya sendiri.
Baca Juga: Perang Jawa, Ketika Rakyat Melawan dalam Sunyi dan Darah
Legenda yang Tak Pernah Redup
Hingga hari ini, legenda Roro Jonggrang masih diceritakan dalam berbagai bentuk. Ia hadir dalam buku pelajaran, dongeng anak, seni pertunjukan wayang, hingga kisah-kisah modern dalam sinetron dan video pendek.
Kompleks Candi Prambanan pun menjadi situs budaya dan pariwisata yang tak hanya dikunjungi untuk menikmati arsitekturnya, tetapi juga untuk merasakan atmosfer legenda yang membungkus setiap batunya.
Baca Juga: Monumen Tua di Peulanggahan, Saksi Bisu Invasi Belanda yang Terlupakan
Cerita ini adalah bukti bahwa dalam masyarakat Jawa dan Nusantara, kisah rakyat bukan hanya hiburan, melainkan sarana pendidikan, pemaknaan, dan pelestarian nilai-nilai. Roro Jonggrang, yang dikutuk menjadi batu, justru abadi sebagai simbol perempuan yang kuat, tragis, namun tak terlupakan.***
Silakan akses artikel lainnya melalui apps kami:
