POJOKSATU.id - Ini bukan kisah Jembatan Otista Bogor yang banjir dan diresmikan Presiden Joko Widodo pada 19 Desember 2023 lalu dengan biaya Rp 50 M. Ini zaman Thomas Karsten.
Thomas Karsten membangun jembatan Otista Bogor dengan biaya 80.000 Gulden. Jika dihitung masa sekarang setara sekitar Rp 695 juta. Dulu namanya Treubweg, jalan Treub.
Beberapa referensi menyebutkan jembatan Otista Bogor dibangun pada 1930. Namun penelusuran yang paling mendekati sebenarnya dibangun sekitar 1920-an oleh Thomas Karsten.
Salah satu potongan koran Bataviaasch Nieuwsblad yang ditemukan Pojoksatu.id tertanggal 11-08-1926 menyebutkan pembangunan Jalan Treub yang di dalamnya adalah juga jembatan Otista Bogor, disetujui anggota Dewan dengan biaya sebesar 80.000 gulden.
Dalam potongan surat kabar yang menggambarkan musyawarah itu, disebutkan tanpa ada keberatan dari 200 orang yang hadir.
Baca Juga: Jembatan Otista Bogor Terlanjur Dibongkar, Ternyata Ada Bangunan Cagar Budaya, Ini Sejarahnya
Hanya Tuan Thung Siong Soen yang menyatakan diri sebagai penentang, karena ia ingin memperbaiki Jembatan Merah terlebih dahulu.
"Perjalanan kehadiran jembatan dengan bentuk struktur lengkung yang indah itu akan memberi petunjuk pula pada perjalanan perkembangan sejarah Bogor," ungkap Budayawan dan Pemerhati Cagar Budaya, Rahmat Iskandar.
Begitulah jembatan Otista Bogor pada waktu itu bernama Treubweg. Jembatannya adalah brug Treubweg yang diambil dari nama Melchior Treub.
Melchior Treub adalah seorang ahli botani Belanda yang memang diundang khusus pada tahun 1880 untuk bekerja di Hindia Belanda.
Ia ditugaskan untuk mengembangkan Kebun Raya Bogor, yang saat itu dikenal sebagai Kebun Raya Buitenzorg.
Baca Juga: Sejarah Jembatan Merah di Bogor, Saksi Bisu Perjuangan Melawan Penjajah
Melchior Treub memainkan peran penting dalam pengembangan kebun raya dan penelitian botani di Hindia Belanda.
Ia juga merupakan direktur Kebun Raya Buitenzorg dari tahun 1880 hingga 1910. Selama masa kepemimpinannya, Kebun Raya Buitenzorg menjadi pusat penelitian botani yang terkemuka di dunia.
Sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya, pada tahun 1920 jalan dan jembatan itu diberi nama Treubweg. Dan, Herman Thomas Karsten yang membangunnya.
Baca Juga: Menelusuri Sejarah dan Fakta Menarik Kebun Raya Bogor, Simak Selengkapnya!
Herman Thomas Karsten adalah arsitek Belanda yang bekerja di Bogor dari tahun 1917 hingga 1942.
Karsten mengembangkan permukiman Eropa di Bogor, terutama di Sempur, Taman Kencana, dan sepanjang Jalan van Limburg Stirum (Sempur) hingga Roode Kruis Ziekenhuis (RS Palang Merah atau RS PMI).
Ya, tugas utama Karsten di Bogor - saat itu Buitenzorg, adalah mengembangkan dan memperluas pemukiman Eropa.
Dari jurnal Karsten Plan: Peran Ir. Thomas Karsten dalam Pengembangan Pemukiman Eropa di Buitenzorg 1903-1942, disebutkan Dewan Gemeente Raad Buitenzorg meminta agar perencanaan pemilahan pemukiman berdasarkan kelompok etnis, sesuai dengan berlakunya Regerings Reglement 1845, tetap dipertahankan.
Ini dilakukan di tengah situasi yang rumit akibat urbanisasi penduduk pribumi yang terpaksa hidup tersembunyi di wilayah tersembunyi di sekitar masyarakat Eropa.
Pengembangan dan perluasan pemukiman Eropa di Buitenzorg difokuskan ke arah timur dan utara Kebun Raya.
Proyek yang dipimpin oleh Karsten ini, memiliki kepentingan besar karena mencakup hampir setengah dari total luas kota Buitenzorg pada waktu itu.
Perluasan Gemeente Buitenzorg diharapkan dapat menampung populasi hingga 30.000 jiwa.
Sejak Karsten merancang rencana kota, rencana rinci dan peraturan bangunan terkait perluasan dan perkembangan pemukiman Eropa di Buitenzorg mulai dirancang pada tahun 1917 dan dilaksanakan secara bertahap pada tahun 1920.
Hasil dari pengembangan kota ini secara perlahan mulai terlihat. Salah satu langkahnya adalah pembukaan jalan utama ke arah timur Rumah Sakit Militer (RS Salak), yang berada tepat di depan gerbang utama Istana Gubernur Jenderal (Istana Bogor).
Jalan baru ini secara resmi diberi nama Groot van Limburg Stirum Weg (Sempur), sebagai bentuk penghormatan terhadap dedikasi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Johan Paul van Limburg Stirum (1916-1921).
Jalan ini akhirnya terhubung kembali ke Handelstraat di sisi selatan (jalan Juanda dan Sudirman), yang merupakan bagian inti dari Grote Postweg.
Baca Juga: Bukan di Makam Pahlawan, Sang Proklamator Bung Hatta Minta Dimakamkan di Tempat Rakyat Biasa
Dampak dari perluasan wilayah yang dirancang oleh Karsten adalah perubahan posisi Sungai Ciliwung, yang semula menjadi batas timur, menjadi bagian tengah dari Kebun Raya Buitenzorg.
Proses perluasan area kebun raya ini kemudian diimplementasikan pada tahun 1927.
Di bagian timur Kebun Raya, di mana beberapa pemukiman penduduk pribumi ditemukan, mereka direlokasi ke wilayah Baranangsiang.
Dipahami jika pada saat itu mulai dibutuhkan adanya pembangunan jembatan untuk mobilisasi.
Kemungkinan pembangunan jembatan Otista yang dianalisa oleh Pojoksatu.id adalah di masa J.M. Wesselink sebagai Wali Kota Bogor dari tahun 1927 hingga 1931, pada saat itulah pembangunan jembatan Otista mulai dibangun melalui tahap antara tahun 1926 di masa A. Bagchus (1920-1927) yaitu persetujuan anggaran dan berikutnya pelaksanaan pembangunan hingga 1930.
"Lebih dari seabad kemudian perkembangan Bogor secara fisik telah mengubah bentuk morfologi kawasan kota. Diperjelas kemudian saat perluasan ke sebelah timur Sungai Ciliwung antara tahun 1920-1930," ungkap Rahmat Iskandar.
Menurutnya, pembangunan Jembatan Otista Bogor dan jembatan Pabrik Gas hanya berselang dua tahun, yaitu sekitar 1928 - 1930.
Baca Juga: Nasib Keluarga Mantan Wapres Umar Wirahadikusumah, Tokoh Sederhana yang Jauh dari Kata Kemewahan
Ada perbedaan struktur jembatan Otista yang ditambahkan saat pelebaran jembatan Otista Bogor dilakukan di masa Achmad Syam hingga Achmad Syam, yaitu menggunakan teknik struktur beton bertulang prategang antara tahun 1977-1978.
Selanjutnya, Cagar Budaya Jembatan Otista Bogor itu mengalami pelebaran yang kedua di masa Walikota Bima Arya yang dimulai sejak 1 Mei 2023.
"Pelestarian bukanlah romantisme masa lalu atau upaya untuk mengawetkan komponen sejarah saja, namun juga ditujukan untuk menjadi alat dalam mengolah tranformasi dan vitalisasi pusaka. Pelestarian adalah kesinambungan aset-aset lama yang bernilai ketika menerima perubahan dan atau pembangunan," tanggap Rahmat Iskandar.
Rahmat Iskandar berpendapat, konsep pelestarian kini memang telah jauh berkembang.
Semula pelestarian pusaka budaya dititikberatkan pada monumen, candi atau bangunan tunggal bersejarah, kemudian berkembang hingga lingkup yang luas sampai kawasan kota.
Ini bukan romantisme. Ini adalah refleksi perubahan nilai.***

