POJOKSATU.id - Solo, atau dikenal juga dengan nama Surakarta, adalah salah satu kerajaan di Pulau Jawa yang hingga kini masih mempertahankan sistem monarki tradisionalnya.
Secara historis, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan penerus Kerajaan Mataram Islam yang terpecah melalui Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755.
Perjanjian tersebut mengakhiri konflik internal antara Pangeran Prabasuyasa (Susuhunan Paku Buwono II), Pangeran Mangkubumi (kelak Sultan Hamengkubuwono I), dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa).
Dari sinilah lahir dua kekuasaan besar di tanah Jawa yaitu Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, serta Kadipaten Mangkunegaran setahun kemudian melalui Perjanjian Salatiga.
Keraton Surakarta menjadi pusat kebudayaan dan spiritual masyarakat Jawa.
Gelar “Paku Buwono” sendiri berarti penegak dunia, simbol keseimbangan antara kekuasaan duniawi dan spiritual.
Baca Juga: Anggota DPRD Jabar Sri Rahayu Dorong Kesiapan Penuh Pilkades e-Voting di Karawang
Hingga kini, sudah 14 raja yang memimpin Kasunanan Surakarta sejak berdirinya pada tahun 1745.
Awal Dinasti Lahirnya Surakarta
Sebelum berdirinya Surakarta, dinasti Pakubuwono sudah dimulai dari Paku Buwono I (1704–1719).
Nama aslinya Raden Mas Drajat, putra dari Amangkurat I, raja Mataram. Ia naik takhta setelah mengalahkan Amangkurat III dalam Perang Suksesi Jawa I (1704–1708) dengan dukungan VOC.
Baca Juga: Pertamina Regional JBB Dorong Pola Asuh Positif Lewat Program PELITA GARBATERA di Indramayu
Paku Buwono I memerintah di Keraton Kartasura, dan masa kekuasaannya menandai awal keterlibatan besar Belanda dalam politik Jawa.
Ia wafat pada 19 Desember 1719 dan dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta.
Daftar Raja Solo dari Masa ke Masa
1. Paku Buwono II (1745–1749)
Nama aslinya Raden Mas Prabasuyasa, putra dari Amangkurat IV. Ia adalah raja pertama Kasunanan Surakarta sekaligus raja terakhir Mataram Kartasura.
Baca Juga: Akhirnya Cair! Guru di 39 Daerah Terima TPG Triwulan III, Ini Jadwal Gelombang Berikutnya
Masa pemerintahannya diwarnai Geger Pecinan (1740–1743) yang menghancurkan keraton Kartasura.
Ia lalu memindahkan pusat pemerintahan ke Desa Sala, menandai berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat. Wafat pada 1749 dan digantikan oleh putranya, Raden Mas Suryadi.
2. Paku Buwono III (1749–1788)
Raden Mas Suryadi naik takhta di usia muda. Pemerintahannya melahirkan Perjanjian Giyanti (1755) yang membagi Mataram menjadi dua wilayah, Surakarta dan Yogyakarta.
Baca Juga: Rekomendasi Tumbler Montigo Yang Bakal Bikin Minuman Tetap Fresh Sepanjang Hari
Ia juga menyaksikan lahirnya Kadipaten Mangkunegaran (1757) lewat Perjanjian Salatiga. PB III dikenal sabar dan berwibawa.
3. Paku Buwono IV (1788–1820)
Bernama asli Raden Mas Subadya, dikenal sebagai Sunan Bagus karena ketampanannya dan religiusitasnya.
Baca Juga: Masa Depan Polri di Tangan Presiden, Prabowo Jadi Titik Balik Demokrasi Indonesia
Ia menulis karya sastra seperti Wulang Sunu dan Serat Sasana Prabu, serta membangun Masjid Agung Surakarta.
4. Paku Buwono V (1820–1823)
Raden Mas Sugandi hanya memerintah tiga tahun, namun berjasa dalam pengembangan karya monumental Serat Centhini, ensiklopedia kehidupan Jawa.
Baca Juga: Masa Depan Polri di Tangan Presiden, Prabowo Jadi Titik Balik Demokrasi Indonesia
5. Paku Buwono VI (1823–1830)
Raden Mas Sapardan dikenal berani menolak dominasi Belanda dan mendukung Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa.
Akibatnya, ia ditangkap dan dibuang ke Ambon hingga wafat tahun 1849. Namanya dikenang sebagai raja pejuang.
Baca Juga: Pembentukan Ditjen Pesantren Dikebut Tahun Ini, Kemenag Segera Lakukan Penguatan Pendidikan Ponpres
6. Paku Buwono VII (1830–1858)
Raden Mas Malikis Solihin memerintah di masa damai. Era-nya menjadi masa keemasan sastra Jawa, dengan lahirnya karya-karya Ranggawarsita.
7. Paku Buwono VIII (1858–1861)
Kakak PB VII ini naik takhta di usia tua. Pemerintahannya singkat namun penuh kebijaksanaan.
Ia meninggalkan Gamelan Kyai Pandu yang masih digunakan hingga kini.
Baca Juga: Info GTK Mulai Tarik Data, Guru Harap-Harap Cemas Menunggu TPG Cair
8. Paku Buwono IX (1861–1893)
Raden Mas Duksino membawa Surakarta ke masa transisi menuju modernitas.
Ia memperbaiki sistem pendidikan dan pemerintahan, meski masa itu disebut “jaman edan” oleh Ranggawarsita.
9. Paku Buwono X (1893–1939)
Raden Mas Sayiddin Malikul Kusno adalah raja terbesar dalam sejarah Surakarta. Ia membangun Pasar Gede Harjonagoro, Taman Balekambang, Stadion Sriwedari, serta mendukung gerakan kebangsaan Indonesia.
10. Paku Buwono XI (1939–1945)
Raden Mas Antasena memimpin pada masa pendudukan Jepang. Meski penuh tekanan ekonomi dan politik, ia tetap menjaga martabat keraton.
11. Paku Buwono XII (1945–2004)
Raden Mas Surya Guritna naik takhta bersamaan dengan kemerdekaan RI.
Ia menandatangani Dekret 1 September 1945, menyatakan dukungan Kasunanan untuk Republik Indonesia.
Walau status daerah istimewa dicabut pada 1946, ia tetap menjaga hubungan baik dengan pemerintah.
Baca Juga: Wamendagri Tinjau Percepatan Pembentukan Kopdeskel Merah Putih di Karawang
12. Paku Buwono XIII (2004–2025)
Lahir pada 28 Juni 1948, KGPAA Hangabehi dikenal bijak dan berkomitmen melestarikan tradisi.
Ia menetapkan KGPH Purbaya sebagai putra mahkota, dan wafat pada 2 November 2025, dimakamkan di Imogiri, Yogyakarta.
13. Paku Buwono XIV (2025–sekarang)
Setelah wafatnya PB XIII, tampuk kekuasaan beralih kepada KGPAA Hamangkunegoro bergelar Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIV.
Baca Juga: Pengumuman Kelulusan PPG Guru Tertentu Tahap 2 Resmi Dirilis, Begini Cara Cek di Akun UKPPPG!
Pelantikan berlangsung pada 5 November 2025, di depan jenazah sang ayah di Keraton Surakarta.
Raja muda ini diharapkan membawa semangat baru bagi Kasunanan, menjaga warisan leluhur sekaligus menghadirkan wajah modern untuk keraton.
Dari Paku Buwono I yang menandai awal dinasti hingga Paku Buwono XIV yang kini memimpin, perjalanan panjang raja-raja Solo mencerminkan keteguhan masyarakat Jawa menjaga identitas dan nilai-nilai luhur budayanya.
Baca Juga: Pengumuman Kelulusan PPG Guru Tertentu Tahap 2 Resmi Dirilis, Begini Cara Cek di Akun UKPPPG!
Di tengah arus globalisasi dan perubahan zaman, Keraton Surakarta tetap berdiri sebagai penjaga warisan spiritual dan kebijaksanaan Jawa, napas panjang yang terus hidup di tanah para raja. ***

