POJOKSATU.id - Kho Ping Hoo adalah penulis cerita silat berlatar Tionghoa Indonesia yang sangat populer dan banyak digemari oleh masyarakat pada dekade 1970 hingga 1990-an.
Sosok penulis cerita silat berlatar Tionghoa Indonesia ini adalah Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo. Ia lahir di Sragen, Jawa Tengah, pada 17 Agustus 1926 dan meninggal pada 22 Juli 1994.
Episode pertama Kho Ping Hoo, Bu Kek Siansu menghadirkan serial laga fiksi silat berlatar Tionghoa Indonesia yang legendaris.
Tidak kurang dari 400 judul cerita silat ditulis oleh Kho Ping Hoo. Bahkan, beberapa judul cerita silat berlatar Tionghoa Indonesia ini ada yang sampai hingga sekitar 35 jilid.
Bahasanya yang khas dan bernilai sastra, alur cerita dan penokohannya yang begitu hidup, menjadikan karya Kho Ping Hoo tak pernah bosan diikuti.
Episode demi episodenya selalu bikin penasaran. Malah bukan hanya kalangan biasa yang gandrung membaca karya Kho Ping Hoo.
Karya cerita silat berlatar Tionghoa Indonesia ini bahkan digemari oleh tiga presiden di Indonesia, yakni B.J. Habibie, Gus Dur, dan Joko Widodo.
Kho Ping Hoo memang mahir meramu cerita silat - yang di zaman itu lebih dikenal dalam singkatan cersil. Dialah maestro cersil Indonesia.
Ceritanya murni fiksi. Tetapi dirasakan begitu realistis karena diracik dengan sejarah Indonesia dengan latar tokoh Tionghoa seperti Kam Si Ek, Liu Lu Sian, Bhe Cui Im atau Kwa Sin Liong.
Meski beberapa bagian yang dikaitkan dengan sejarah Tiongkok adalah sesuai fakta dan Kho Ping Hoo sangat menguasai materi itu.
Hal ini bisa dipahami karena ayahnya, Kho Kiem Poo adalah seorang guru silat Tionghoa Jawa yang hafal sejarah Cina.
Banyak istilah yang lahir dari buah karya tulisan Kho Ping Hoo seperti 'sepeminuman teh, sejurus kemudian, dunia persilatan, manusia setengah dewa' dan masih banyak lagi.
Selain Bu Kek Siansu, berbagai cerita silat karangan Kho Ping Hoo yang terkenal diantaranya Pedang Kayu Harum, Dewi Sungai Kuning, Badai Laut Selatan, khas bahasa dunia persilatan.
Selain itu, ada juga Iblis dan Bidadari, Darah Mengalir di Borobudur, Keris Pusaka Nogopasung, Sepasang Naga Penakluk Iblis dan masih banyak lagi.
Kho secara rutin menghabiskan hari-harinya menulis teratur dari hari Minggu hingga Kamis di Pondok Wisma Damai, sebuah vila kecil yang terletak di Tawangmangu.
Vila itu berada di sebuah kawasan pegunungan sekitar 40 kilometer di sebelah timur dari kediamannya di Solo, Jawa Tengah.
Dari sanalah karya-karya itu banyak lahir dan mendunia. Bahkan hingga sampai di negeri Belanda.
Menurut Profesor Leo Suryadinata, yang telah melakukan penelitian tentang Kho Ping Hoo sejak tahun 1980-an, Kho Ping Hoo memulai kariernya sebagai penulis cerita pendek sekitar tahun 1952 atau 1953 ketika masih bekerja di Tasikmalaya.
Cerita pendek pertama Kho Ping Hoo dalam genre cerita silat diterbitkan dalam sebuah majalah di Tasikmalaya.
Itu sebabnya ia juga menguasa bahasa Sunda sekaligus fasih bahasa Jawa.
Ia kemudian menerbitkan cerita silatnya dalam bentuk buku tunggal melalui sebuah penerbitan di kota tersebut.
Saat pindah ke Solo, Kho Ping Hoo mendirikan sendiri penerbitan bernama CV Gema Solo.
Kho Ping Hoo memiliki kemampuan untuk membaca dan menguasai beberapa bahasa asing seperti Belanda dan Inggris, karena ia bersekolah di HIS Sragen.
Setelah lulus dari HIS di Sragen, Kho Ping Hoo mencoba mendaftar ke MULO dan diterima. Namun, situasi ekonomi keluarganya yang sulit menghalangi kemampuannya untuk melanjutkan pendidikan tersebut.
Kehidupan Kho Ping Hoo begitu kesulitan. Dari menjaga toko hingga menjadi penjual obat di Surabaya saat pendudukan Jepang.
Dia juga bekerja sebagai Kaibotai, kelompok keamanan Jepang, semacam hansip.
Ia juga sempat bergabung dengan BPTH (Barisan Pemberontak Tionghoa) yang pada saat itu bersama-sama dengan BPRI (Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia) gerakan perlawanan.
Pada tahun krisis 1945, dia menikahi Ong Ros Hwa yang kemudian bernama Rosita, perempuan asal Sragen sebelum ia pindah ke Kudus bersama keluarganya.
Di Kudus, Kho Ping Hoo bekerja sebagai mandor tembakau pada sebuah perusahaan rokok di sebuah desa kecil di Kudus.
Sebagai anak kedua dan laki-laki tertua dalam keluarganya, karena kakak tertuanya adalah perempuan, Kho Ping Hoo harus menjadi tulang punggung bagi keluarganya saat ayahnya sakit dan tidak lagi dapat bekerja.
Kho Ping Hoo pernah bekerja sebagai juru tulis di perusahaan angkutan bernama TSH di Tasikmalaya pada masa pendudukan Jepang.
Selama 12 tahun, dia menjalani pekerjaannya di perusahaan angkutan tersebut sambil sesekali menulis cerita pendek.
Kegemarannya membaca, membuat Kho Ping Hoo terus belajar hingga akhirnya mampu menjadi seorang penulis dan pengusaha percetakan di Solo.
Dari tulisan-tulisannya sendiri, Kho Ping Hoo telah menghasilkan setidaknya 400 buku cerita silat.
Meski belum pernah pergi ke Negeri Tirai Bambu, ia menguasai berbagai referensi tentang China kuno mulai dari filsafat, pengobatan, ilmu khung thau, hingga peta China.
Pengetahuan itu yang membuat Ko Pong Hoo mengajak fantasi pembacanya seolah berada di sana.
Tak heran jika cersil Kho Ping Hoo mengandung pesan yang berguna bagi warga bangsa, seperti cinta yang mengatasi perbedaan ras dan suku bangsa.
Namun begitu, Kho Ping Hoo justru mengaku tidak menguasai silat. Bahkan tak berambisi mempelajari silat.
Tapi, secara menakjubkan ia mampu menggambarkan hidupnya pendekar sakti dalam karya-karya cerita silatnya.
Dalam sepeminuman teh, maestro cerita silat Tionghoa Indonesia Kho Ping Hoo mampu memberikan ajaran bijak kehidupan. ***

