POJOKSATU.id - Masjid Agung Banten menjadi salah satu bangunan bersejarah yang menandai perkembangan Islam di Provinsi Banten.

Dibangun pada masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin, masjid ini masuk kategori bangunan cagar budaya yang dilindungi dan menjadi kebanggaan masyarakat setempat.

Masjid yang terletak di Kecamatan Kasemen, kawasan Banten Lama, sekitar 10 kilometer arah utara dari Kota Serang ini dibangun antara tahun 1552 hingga 1570.

Baca Juga: Bukan Dokter Biasa! Ini Profil dan Rekam dokter Piprim yang Dipecat Menkes dan Bikin Publik Heboh

Sejak awal berdiri, masjid ini tak hanya menjadi pusat ibadah, tetapi juga pusat penyebaran Islam di wilayah Banten.

Secara arsitektur, bangunan masjid memadukan unsur Jawa Kuno dan Tiongkok.

Hal itu tampak dari serambi yang lapang serta atap bertingkat lima yang menyerupai tumpeng.

Baca Juga: BPJS PBI Dialihkan! Ini Fakta Sebenarnya, Peserta Tak Aktif Diganti yang Lebih Berhak Sesuai DTSEN

Bentuk tersebut bukan sekadar estetika, tetapi juga memiliki filosofi spiritual yang dalam.

Konon, terdapat dua versi mengenai arsitek pembangunan masjid ini.

Versi pertama menyebutkan bahwa Masjid Agung Banten dirancang oleh arsitek keturunan Tiongkok bernama Tjek Ban Tjut.

Baca Juga: Viral di X, Ini Kronologi Perang Digital KNetz vs Asia Tenggara: dari Konser DAY6 hingga Isu Rasisme

Sementara versi lain menyebutkan arsiteknya adalah Raden Sepat dari Demak.

Perbedaan versi ini justru memperkaya narasi sejarah masjid sebagai simbol akulturasi budaya.

Serambi utama masjid dihiasi 24 tiang penyangga yang berdiri kokoh. Di sisi kiri serambi terdapat kompleks makam sultan dan keluarga kerajaan.

Baca Juga: 6 Inspirasi Outfit Bukber Wanita Hijab yang Elegan, Tampil Modis Tanpa Berlebihan

Salah satunya adalah makam Sultan Ageng Tirtayasa yang dikenal sebagai pahlawan dan tokoh penting dalam sejarah Banten.

Bagian dalam masjid berbentuk bujur sangkar dengan tiang-tiang utama yang disebut saka guru.

Tiang-tiang tersebut berdiri di atas umpak berbahan batu andesit bermotif buah labu.

Baca Juga: Resmi! SPKLU Signature ZORA Hadir di Gading Serpong, Ultra Fast Charging 400 kA Pertama dengan 12 Konektor DC

Di bagian depan terdapat mimbar kayu bertangga marmer yang dahulu digunakan khotib untuk menyampaikan dakwah Islam.

Menariknya, pintu masjid berjumlah lima buah sebagai simbol rukun Islam.

Di sisi timur berdiri menara setinggi 24 meter dengan diameter sekitar 10 meter.

Menara ini dibangun pada 1629 oleh Hendrik Lucaszoon Cardeel atas perintah Sultan Haji.

Baca Juga: Lowongan BPJS 2026 untuk S1 IT, Kontrak Full Time di Kantor Pusat, Daftar Sebelum 28 Februari!

Selain berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan, menara juga pernah digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata dan menara pengawas karena lokasinya strategis menghadap laut.

Baca Juga: Tarim Habib

Di sisi selatan terdapat bangunan bernama Tiyamah yang difungsikan sebagai tempat musyawarah dan diskusi keagamaan.

Keberadaan bangunan ini menunjukkan bahwa masjid sejak dulu menjadi pusat aktivitas sosial dan intelektual masyarakat.

Hingga kini, Masjid Agung Banten tak pernah sepi dari peziarah.

Setiap harinya, masyarakat datang untuk beribadah sekaligus berziarah ke makam para raja Banten.

Baca Juga: Rekomendasi Pasar Ramadan Terpopuler di Indonesia, Surga War Takjil Saat Ngabuburit

Masjid ini bukan hanya simbol wisata religi, tetapi juga penanda identitas sejarah dan kebesaran Islam di tanah Banten yang tetap hidup hingga hari ini.***