POJOKSATU.id — Indonesia dikenal sebagai negeri dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah.

Sejak berabad-abad silam, potensi ini telah menarik perhatian bangsa-bangsa Barat seperti Portugis, Belanda, Inggris, hingga Jepang yang datang untuk menguasai rempah-rempah dan memanfaatkan penduduk lokal.

Di tengah arus kolonialisme itu, pendidikan di Indonesia berkembang dalam perjalanan panjang yang dipengaruhi oleh faktor agama, penjajahan, hingga perjuangan kemerdekaan.

Pendidikan Awal: Fondasi Agama Hindu-Buddha

Pendidikan di Indonesia berawal dari pengaruh agama Hindu dan Buddha yang dibawa oleh para pedagang dan pendeta asing.

Pada masa kerajaan-kerajaan seperti Kutai, Tarumanegara, Sriwijaya, hingga Majapahit, pendidikan berpusat di padepokan yang dikelola oleh kaum Brahmana.

Sistem ini berfokus pada ajaran teologi, bahasa dan sastra, ilmu sosial, hingga ilmu eksakta seperti perbintangan dan seni bangunan.

Baca Juga: Menelusur Jejak SEKOLAH RAKYAT, Ki Hadjar Dewantara atau Hendrik Willem Daendels, Siapa Sesungguhnya Bapak Pendidikan Nasional?

Meski mengadopsi sistem kasta dari India, penerapannya di Nusantara jauh lebih lunak. P

endidikan berlangsung secara informal di padepokan, dengan murid yang juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pada masa akhir Hindu-Buddha, pendidikan menjadi lebih terbatas, bersifat religius dan spiritual, dengan materi pembelajaran yang disesuaikan pada masing-masing kasta.

Pendidikan Islam: Pesantren dan Madrasah

Memasuki abad ke-13, saudagar asal Gujarat membawa ajaran Islam ke Nusantara melalui jalur perdagangan, terutama di wilayah pesisir Sumatra dan Jawa.

Kerajaan Samudra Pasai di Aceh menjadi kerajaan Islam pertama pada 1297.

Bahkan sebelum itu, bukti masuknya Islam telah ditemukan pada batu nisan Fatimah binti Maimun dari tahun 476 H (1082 M) di Gresik, Jawa Timur.

Pendidikan Islam berkembang dalam tiga bentuk: pendidikan musala/langgar, pesantren, dan madrasah.

Baca Juga: Tamansiswa, Awalnya HANYA ORGANISASI, Gerakan SELASA KLIWONAN yang Justru Jadi Cikal Kemajuan Pendidikan Nasional

Musala mengajarkan dasar-dasar membaca Al-Qur'an dan fiqih, pesantren menawarkan pendidikan berbasis pondokan tanpa imbalan materi kepada guru, sedangkan madrasah mengajarkan ilmu agama serta ilmu umum seperti astronomi dan pengobatan.

Tradisi pendidikan Islam ini bertahan hingga zaman kolonial.

Pendidikan Kristen, Pengaruh Portugis dan Belanda

Masuknya Portugis pada abad ke-16 membawa pendidikan bercorak Katolik, seiring misi mereka dalam mencari rempah-rempah.

Para misionaris, seperti Franciscus Xaverius, mendirikan seminarie di Ternate (1536) dan Solor, Flores Timur, dengan pelajaran agama, membaca, menulis, serta berhitung.

Namun, kekuasaan Portugis di Indonesia tidak bertahan lama karena diusir oleh Spanyol.

Setelahnya, Belanda menggantikan Portugis dan membawa pengaruh Protestan.

Sekolah-sekolah Protestan mulai didirikan, misalnya di Ambon (1607) dan Batavia (1617).

Pendidikan diarahkan untuk mencetak tenaga kerja terampil bagi administrasi kolonial.

Pada awal abad ke-20, muncul pula kelompok terdidik yang kemudian menjadi pelopor pergerakan nasional, seperti Sarekat Islam dan Indische Partij.

Baca Juga: INI Para Pahlawan BERSENJATA BUKU, Mulai dari Menyalakan API PERJUANGAN, Menebus Kamar PINGITAN, Hingga Memberi MASKAWIN Berupa Buku kepada Istrinya

Pendidikan Masa Penjajahan Jepang

Penjajahan Jepang pada 17 Maret 1942 hingga 17 Agustus 1945, membawa perubahan besar dalam pendidikan. Fokus utama diarahkan untuk kepentingan perang.

Murid-murid dilibatkan dalam kerja bakti menanam bahan pangan dan mengumpulkan material untuk pertahanan.

Jepang menghapus sistem pendidikan Belanda, menggantinya dengan sekolah rakyat (Kokumin Gakko) dan sekolah menengah (Cu Gakko dan Zyu Gakko).

Banyak sekolah baru juga didirikan untuk melatih guru-guru yang kemudian ditugaskan menanamkan semangat Jepang di kalangan siswa.

Baca Juga: Bela HAK PENDIDIKAN bagi Perempuan, Kartini Hanya Lulus SEKOLAH DASAR, Dipingit Ayahnya Tapi DIBUKAKAN CELAH ke Dunia Luar, Ini Jejak Pendidikannya

Pendidikan Masa Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, tokoh-tokoh pendidikan seperti Ki Hajar Dewantara, Moh. Syafe’i, dan Mr. Suwandi berperan besar dalam membangun sistem pendidikan nasional.

Prof. Dr. Priyono diangkat sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan pertama, menandai masuknya pengaruh ideologi kiri ke dalam dunia pendidikan nasional.

Ejaan Bahasa Indonesia yang sebelumnya disusun oleh Belanda juga mulai diganti, memperkokoh identitas bangsa yang baru merdeka.

Pendidikan Masa Orde Baru

Pada masa Orde Baru, pembangunan sektor pendidikan dirancang melalui program Pelita I hingga Pelita V.

Pemerintah mengembangkan sekolah dasar melalui program SD Inpres, dengan membangun ribuan gedung sekolah dan mencetak jutaan buku pelajaran.

Tingginya harga minyak pada masa itu justru menjadi momentum memperbesar anggaran negara, yang sebagian dialokasikan untuk membiayai proyek pendidikan nasional.

Selain itu, pusat-pusat latihan teknik didirikan di berbagai kota besar untuk meningkatkan keterampilan teknis generasi muda. ***